Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
18. Perang Dingin


__ADS_3

Satria sampai dirumah sebelum matahari bergulir ke peraduan. Reyna hanya melirik saja tanpa menoleh, dia teruskan kegiatan memasaknya di dapur meskipun dia enggan, hatinya sedang tidak bersahabat saat ini.


"Rey.." sapanya


diammm


"Reyna..."


diammmmm


Satria memutuskan melangkah kekamar, mungkin malam ini dia sudah bisa mengajak Reyna bicara. Percuma rasanya jika dia memaksakan diri, yang ada justru Reyna makin marah.


Satria baru keluar dari kamar saat jam makan malam pun tiba, ruang tengah yang biasa hiruk pikuk dengan suara TV kini sunyi senyap. Satria berbalik kembali berjalan menuju seberang kamarnya.


tok tok tok


"Rey..."


"Reyna .... aku masuk ya"


Satria mendorong pintu kamar Reyna dan melongokkan kepalanya, Reyna hanya membisu, matanya tak lepas dari laptop dipangkuannya. Satria lalu duduk ditepi ranjang


"Temani aku makan yuk" ajaknya


Reyna masih asik memencet deretan huruf di laptopnya, menarik layar itu kedalam saat Satria mencoba melihat apa yang dikerjakannya.


"Aku lapar Rey..yukk" bujuknya sambil menggoyang-goyangkan punggung tangannya.


Reyna mendengus sebal, menutup laptopnya dan berjalan keluar menuju meja makan. Disendokkan nasi dan lauk pauk kemudian diberikan ke Satria lalu melakukan hal serupa untuknya.


"Kamu lupa perkataanku kemarin untuk tidak


dekat-dekat dengan Bimo terlebih Andre" Satria berbicara perlahan.


shiittt kupikir dia akan minta maaf soal nenek gombel, gara-gara dia kan aku jadi bertemu Bimo


"Lain kali jangan matikan HPmu, aku khawatir" Satria kembali bicara


lowbat kali bukan sengaja matiin


"Aku minta maaf soal ...."


akhirnya bicara juga kau!


"Tapi...."


tapi apaa


"Harusnya kamu nggak perlu berlebihan seperti itu.."


prakkkkkk


Reyna membanting sendoknya


"Apa pernah aku melanggar privasimu selama ini? urusan pribadimu? pernah?" desis Rey sinis


"Oke okeee... tenang Rey tenang..,,yahh ehmm aku akuin Nikk..." Satria mengentikan kalimatnya ketika mata Reyne meliirknya dengan sadis


"Ehh iya aku dia sebenarnya ehmm"


Satria mengusap rambutnya gusar


"Kita tak perlu bahas ini lagi, aku cuma minta satu, kalian bebas bertemu dimanapun dan melakukan apapun, asal jangan dirumah ini! Tolong hargai privasiku juga Mas.."


Reyna berjalan kembali kekamar menutupnya rapat tanpa menuntaskan makan malamnya. Hatinya sakit bukan lantaran Satria lebih membela Niken saja jika dia lebih mengutamakan wanita itu. Tapi Reyna hanya ingin sedikit dihargai, bukan pilihannya juga dia berada dalam kondisi saat ini.


.


.


.


Pagi harinya Reyna bangun jauh lebih pagi dari biasanya, pertama karena semalam tidurnya tak nyenyak karena kelaparan kedua karena dia tak ingin bertemu dengan Satria.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Reyna mengambil sepiring untuk dibawanya kekamarnya, kemudian mandi dan mengurung dirinya dikamar menunggu hingga Satria meninggalkan rumah.


---


Ketika matahari beranjak naik Reyna baru keluar dari rumah ,ia pakai setelan resmi karena hari ini karena dia berencana pergi ke kantor Bimo untuk menyerahkan CV.


Kantor Bimo


"Pagi Pak.." sapa Reyna kepada bapak petugas keamanan yang berdiri di lobi.


"Iya Mbak, ada yang bisa dibantu?"


"Saya mau menyampaikan berkas lamaran untuk Pak Bimo manager marketing"


"Maaf , Mbak mengenal Pak Bimo?, biasanya lamaran akan disortir pihak personalia dulu jika dititipkan lewat security''


"Ohh gitu ya Pak, kalau Pak Bimonya ada Pak?"

__ADS_1


bisa-bisa lamarannya akan berakhir di tong sampah jika ikut prosedur.


"Kebetulan 5 menit lalu Pak Bimo baru keluar Mbak"


"Oohhh..,ya sudah pak saya permisi"


Reyna gontai berjalan keluar dari lobi, berhenti sejenak kemudian mengeluarkan ponselnya dan menekan sejumlah angka di kartu nama yang kemarin Bimo berikan padanya.


"Halooo.." jawab pria di seberang sana.


"Halo.. Kak Bimo ini aku Reyna"


"Ahh..eh hai Reyna, kenapa?"


"Ini...aku di lobi kantormu bawa CV tapi bapak security bilang harus lewat ke personalia dulu"


"Ohh.. kalau gitu biar nanti aku mampir rumah Satria ya biar kuambil"


"Ehhh jangan.." pekik Reyna spontan


duhhh pliss jangan bikin huru hara lagi deh


"ehmm aku boleh tunggu Kak Bimo aja disini?"


"aku lama lho, ini juga barusan keluar"


"nggak papa kok, emmmm aku tunggu di kafe samping lobi ya..."


"Oke deh kalau itu maumu"


.


.


.


Lama sekali Rey menunggu hingga tak berasa sore telah bergulir, kantuk hampir melandanya maklum saja hampir dua minggu ini Reyna tak pernah melewatkan tidur siang.


puuuukkk


Tepukan pelan di kepalanya membuyarkan kantuknya, dia mendongak lalu tersenyum lebar. Ahh akhirnya yang ditunggu menampakkan hidungnya.


"Lama banget ya...."


Reyna mengangguk ,menyerahkan CVnya dan berdiri.


"Aku langsung pulang ya Kak"


"Kok buru-buru amat"


"Kak Bimo kan masih lanjut kerja"


"Ehmmm sebentar ya, tunggu disini jangan kemana-mana" Satria segera bergegas ke lobi meminta resepsionis menghubungi seseorang dan bergegas memasuki lift.


10 menit kemudian


drttttt drrtrrrr ponsel Reyna bergetar


"Ya Kak??"


"Naik ke lantai 2 bilang saja ketemu Pak Alex"


"Hah?"


"Buruan beliau tak suka menunggu"


tit


Reyna menghambur ke lift sebelum mengutarakan niatnya ke resepsionis. Dia merapikan bajunya apa adanya, melangkahkan kakinya ke ruangan di lantai 2, angin dari semburan AC yang dingin menerpa kulitnya.


Tubuhnya membeku saat bapak security yang mengantarnya menunjukkan ruangan cukup besar yang diyakininya ruangan Pak Alex. Dia berpapasan dengan Bimo keluar dari ruangan itu, mengedipkan mata dan bergumam good luck.


"Duduk" perintah orang yang bernama Pak Alex, pria dengan kisaran usia 50 tahun, berpenampilan rapi dengan jas lengkap mengenakan dasi. Terpampang papan nama dimeja tersebut yang menerangkan jabatan Pak Alex, direktur pemasaran.


"Ehmmm fresh graduate.." desis Pak Alex sambil membolak balikkan CV Reyna lalu menghempaskan ke mejanya "Tak banyak yang bisa saya tanya" Melihat Reyna lekat-lekat dengan ekspresi muka datarnya.


"Tapi tak jadi soal, toh yang berpengalaman banyak yang kabur?"


kaburrr... seseram itukah posisi yang akan ia jalani


"Kenal Bimo sudah berapa lama?"


"Ehhh sehari Pak"


Tak disangka Reyna jawabannya itu membuat pria didepannya tersentak.


"Kau boleh keluar"


ceglukkkk salah jawab apa yakkkk batinnya


Reyna turun kembali ke lobi, harapannya pupus sudah.

__ADS_1


.


.


.


lantai 2


"Bimooo......" teriak Pak Alex menggelegar


mampussss batin Bimo


"Iya Om" jawab Bimo lirih setelah menutup pintu ruangan.


"Bisa-bisanya kamu bawa wanita malammu kekantor. Om pikir kamu sudah benar-benar berubah Bimo, Om kecewa sama kamu Bimo!"


Bima mengernyitkan keningnya "Reyna?? Wanita malam?? Om salah paham..."


"Salah paham apa, bagaimana kau bisa merekomendasikan wanita yang baru kenal sehari jadi asistenmu, hah!"


"Iya benar aku dan Reyna baru bertemu dan bicara kemarin, dia sepupu Satria , Satria teman Bimo yang punya outlet desain yang Om pernah pake jasanya itu" jelas Bimo panjang lebar


"Kamu nggak bohong kan?"


"Hubungi saja Satria jika Om tidak percaya, masih punya kontaknya kan?"


Alex mendengus


"Baiklah, kau pakai dia saja, siapa tahu anak itu cocok"


Bimo keluar ruangan Alex tersenyum penuh arti.


.


.


.


Reyna yang barusan sampai di rumah berteriak kegirangan ketika membaca pesan singkat dari Bimo.


"you got it girl"


Reyna menyiapkan makan malam dengan riang, ia tak sabar menyampaikan berita gembira itu pada Satria. Sejujurnya Reyna masih enggan berbicara dengan Satria tapi bagaimanapun dia harus tahu.


Senyum Satria mengembang saat membuka pintu dan melihat Reyna duduk di sofa. Dia berharap Reyna sudah melupakan kejadian kemarin.


"Hai.." sapanya.


"Hemmm.." sahut Rey enggan.


"Masak apa? Baunya enak bikin aku lapar" Satria memancing pembicaraan sembari duduk dan melepas kaos kakinya.


"Kakap asam manis dan ca kangkung, mau makan sekarang?"


Satria mengangguk menerima tawaran itu, dia duduk disebelah Reyna dan mulai menyantap hidangannya.


"Baikan ya Rey? rumah ini kaya rumah hantu, sepi." rayu Satria


"Iya"


Satria tersenyum lega.


"Mas...."


"Ya..."


"Mulai besok aku kerja di kantor Kak Bimo, jadi assistennya" ucap Reyna tanpa basa basi.


uhuuuuukkkkkkk


Satria tersedak dan memukul-mukul dadanya segera disambar gelas berisi air putih dan menegaknya kasar.


"Bagaimana bisa? Kenapa kau lancang Rey, dan apa itu Bimo, hah !!" serentetan pertanyaan sontak keluar dari mulut Satria


"Lancang? Maksud Mas apa?"


"Siapa yang mengijinkanmu bekerja?"


"Ijin? Bukankah mas bilang kalau aku bebas melakukan apa saja dan kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing!"


"Eh maksudku, untuk apa kau bekerja , kau bisa minta apa saja keperluanmu padaku"


"Uang darimu tidak bisa mengusir kejenuhanku mas"


Satria terdiam


ya jenuh sudah pasti Reyna jenuh hanya berada dirumah,mereka hanya bertemu di pagi dan malam, akhir pekan pasti lebih banyak dia habiskan bersama dengan Niken,tapi arggghhhh kenapa harus Bimo


"Okee...kau boleh bekerja tapi tidak ditempat Bimo"


"Tidak mau,suka tidak suka aku besok sudah mulai bekerja!" Reyna meninggalkan Satria masuk kekamarnya.

__ADS_1


"Reyna!" dia acuhkan panggilan itu, bukankah dia sudah meminta ijin baik-baik.


Perang dingin belum berakhir guyss, dinginnya kayak di kutub nih.


__ADS_2