Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
103. NiNa part 2


__ADS_3

Piring terakhir diletakkan Reyna rapi bersama alat makan yang selesai ia cuci, ia kembali ke ruang tengah. Didapati Niken masih belum selesai membereskan mainan


"Makasih Reyna, kamu kan tamu malah repot ikut beres-beres"


"Nggak apa-apa, anak-anak mana?"


"Ke kolam ikan belakang rumah" Niken menggeser kontainer besar ke pojok ruang "Me time yuk!" ajaknya sambil mengelap peluh didahinya


Berdua duduk berhadapan di teras rumah


"Kamu suka kopi kan?" Niken menuang kopi hitam dari coffe maker. Bau harum menyeruak menggoda hidung


"Jadi ikutan suka, sejak kerja sama Kak Bimo" Reyna menggigit sereal cookies pelan


"Reyna.. "


"Ehm... ya Mbak?"


"Omongan Om Alex ada benarnya, tak perlu berlama-lama. Kasihan Bimo, aku masih ingat wajah Bimo saat datang kemari malam itu Reyna. Waktu dia menjelaskan Dewa adalah anak darinya" kopi hitam itu diteguk pelan "4 tahun ia menanti hanya untuk bertemu denganmu, sejak mengenalnya baru itu aku lihat Bimo seperti orang hilang arah"


Reyna terpekur, rasa bersalah kembali datang membelitnya


"Iya.. aku hanya butuh waktu. Tolong Mbak Niken jadilah sekutuku...Aku merasa dipojokan oleh semua orang"


"Aku tak bisa membayangkan dirimu saat itu. Mungkin saja memutuskan tak akan melahirkan Dewa"


"Justru karena Dewa aku merasa hidup Mbak, setelah semua kekacauan itu. Bukan aku saja yang terluka tapi keluargaku. Dan ahhh... Mbak... maaf .. mereka masih mengira Dewa adalah darah daging Mas Satria. Aku berjanji akan menjelaskannya nanti saat waktunya tepat"


"Aku juga penyulut kekacauan itu Reyna, jika waktu itu aku tak berhenti meminum pil KB mungkin kita akan menyelesaikan semua masalah ini baik-baik"


"Mas Satria dan Mbak Niken pasti mengalami masa-masa berat"


Anggukan wanita berambut lurus itu dilanjutkan dengan cerita 5 tahun silam


"Satria banting tulang menghidupi aku dan Rara, rumahnya dijual dan tinggal dirumahku yang lebih kecil. Hingga akhirnya kami bisa membuka outlet lagi dan juga membeli rumah ini"


"Aku ikut senang akhirnya Mas Satria dan Mbak Niken bisa bersatu"


Pemilik wajah oval itu menjadi murung "Belum lengkap jika tanpa restu Rey.. "


"Mas Satria pernah pulang lagi?"


Gelengan Niken membuat Reyna menggigit bibir bawahnya


"Jangan sedih Mbak, mungkin belum waktunya.. "


Niken mengibaskan tangannya "Ah sudahlah, yuk kita susul anak-anak kebelakang"


---

__ADS_1


Terdapat gazebo dipojok taman belakang tempat Om Alex nampak sedang bersantai disana


Lambaian Niken dan Reyna mengajak keempat orang yang berkerumun di kolam ikan menghampiri mereka


"Mama..... " Dewa menghambur kepelukan Reyna


"Mama kapan ikah ama ayah imo?"


"Heh? Dewa bilang apa?"


"Menikah tante" jawab sicantik Rara


"Kok Dewa tanya itu?" Reyna melirik penuh selidik kearah Bimo yang tersenyum-senyum simpul


"Ia biar Ewa cepet ecal" bocah kecil itu menggerakkan tangan membentuk lingkaran besar


"Ya.. truss" Reyna berjongkok didepan Dewa


"Kalo ecal anti ekolah ama Lala"


"Apa hubungannya mama menikah dengan jadi besar sayang?"


"Kata Om Tiya, Ewa jadi ecal kalo unya adik cantik kaya Lala... " bocah kecil itu berkedip-kedip mengingat sesuatu "mama ikah duyu ama ayah Imo trus buat adik cantik... "


Reyna berasa ingin salto saja detik itu


"Ampun ... Satria.. Bimo.. jangan kau racuni anak-anak kalian dengan hal-hal tak baik! " lagi-lagi Om Alex menghardik "Bisa-bisa Om jantungan kalau tambah satu lagi teman kalian yang satu itu, ahhh siapa namanya Om lupa.. "


Air muka Reyna dan Niken seketika berubah ahh apa kabar biang onar itu sekarang


"Sudah Om ajak saja anak-anak masuk kedalam"


.


.


.


"Ehm,, dimana Kak Andre sekarang?" tanya Reyna mencairkan suasana


"Dia di Lapas Rey, sudah 3 tahun ini. Sepertinya vonisnya belasan tahun. Penyalahgunaan obat terlarang" terang Bimo


"Oh"


"Ah sudahlah.. jangan bahas orang itu. Bikin swing mood" Satria mengibas tangannya "Aku masih ingat ulahnya terakhir, kepalaku kena lemparan ponsel Niken"


"Aku nggak sengaja Sat, tadinya aku mau lempar remote tapi keliru ponselku sendiri. Ah menyesal aku" Niken merengut


"Memang apa yang kalian ributkan gara-gara Andre" tanya Bimo

__ADS_1


"Dia kirim foto aku lagi peluk Reyna"


"Kalian pernah... " tuding Bimo


"Peluk??? Kapan?? Dimana??" Reyna spontan setengah berteriak


"Waktu kita pulang dari bioskop Rey, ingat?"


Reyna mengedikkan bahunya "Entah.. aku lupa. Lagian apa pentingnya foto. Mbak Niken kebakaran jenggot ceritanya?"


"Ishhh... " Niken melengos malas


"Yakin kamu Rey, nggak bakal kebakaran jenggot gara-gara foto. Semalem gara-gara apa dong?" Bimo meledek


"Whatever nggak penting...!"


"Itu juga terhitung ulah Andre" Bimo tertawa


"Kenapa?" Satria terpancing


"Ada yang cemburu semalam" Bimo melirik Reyna mendelik, ahh entah kenapa dia senang melihat wanita itu cemburu "Reyna menemukan foto aku dengan Dya.. "


"Kak... " pukulan Reyna tak menghentikan cuitan Bimo


"Kan Andre yang candid waktu kita ke Bromo"


"Lidya?? Kamu masih simpan foto ******* itu?! Terlalu kamu Bimo. Ayo Rey pukul lagi, kalau perlu aku wakilkan saja"


"Brengsek kamu Sat.. niatku mau menjelaskan, bukan membela malah bikin Reyna marah lagi"


"Udah ah..aku mau ajak Om Alex pamit, nanti aku kemalaman sampai rumah" Reyna merengut turun dari gazebo dan berlalu masuk diikuti Niken.


.


.


.


Dua wanita itu berpelukan hangat sebelum Reyna masuk ke mobil.


"Sering-sering ajak Dewa main kemari ya" ucap Niken


"Iya Mbak, makasih ya.. "


"Kalau pindah sini kita jadi tetangga ya, kita bikin NiNa squad"


"Apa itu?"


"Niken Reyna Squad" keduanya terbahak

__ADS_1


"Hei, kalau Reyna pindah kemari sudah pasti dia tinggal bersama Om" lagi-lagi Om Alex membuat suasana menjadi tegang


__ADS_2