
Reyna bersandar di kepala ranjang setelah menidurkan Dewa, jarinya memainkan benda bundar di jari manis kirinya. Pikirannya menerawang jauh kejadian senja tadi, entah terbawa suasana romantis atau memang inilah saat untuk meyakininya. Reyna membiarkan cincin itu melingkar di jarinya, membiarkan Bram menyentuh bibirnya, bahkan arghhh ia juga membiarkan pria itu menciumnya.
Ciuman yang lembut, hangat, menenangkan dan tanpa tuntutan. Diakhiri dengan kecupan lembut dipipi dan kening.
♡♡♡
Bram tertawa tertawa terbahak mengakhiri panggilannya dengan Bianca. Mengucapkan beribu terimakasih karena akal-akalannya sukses, Bianca tahu benar Reyna amat menyukai nuansa sun set, siapa sangka romansa kecil itu meluluhkan hati Reyna yang keras bagai batu.
Bram memang sangat pandai memainkan emosinya terlebih di usianya sekarang. Hati Reyna bagaikan butiran pasir ditepi pantai, mudah rapuh tercecer dan terombang ambing masa lalunya, akan lepas jika ia genggam kuat dan halus tenang ditangan jika ia genggam pelan.
Bram tak ingin terburu, sedikit demi sedikit ia akan rengkuh perlahan. Setengah mati ia kendalikan nafsunya saat akhirnya berhasil mencium bibir Reyna. Pelan tapi pasti, tak ada salahnya ia bersabar sedikit lagi, masa mendudanya jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan perjuangannya yang ia yakini sebentar lagi.
.
.
.
Hubungan keduanya makin erat dari hari ke hari. Mereka bertiga makin kompak seiring dengan bertambahnya usia Dewa yang hari ini menginjak 2 tahun. Pesta ulang tahun kecil-kecilan digelar di kediaman Reyna, tante Linda, Bram dan Bianca datang tak lupa dengan calon suaminya.
Reyna memasak nasi kuning berikut lauk pauknya, Bram memesan kue ulang tahun untuk Dewa. Mereka tertawa bahagia saat Dewa berlepotan memakan kue ulang tahunnya.
"Kapan kalian berencana menikah?" tanya Linda tiba-tiba
"Iya Rey..kapan?? Tak perlu sungkan menungguku.."ledek Bianca
Bram yang sedang membantu Dewa membuka kadonya melirik Reyna "Hushh.. kalian jangan desak Reyna. Yang ada dia malah kabur. Kalian mau aku menduda selamnya" Bram hanya berkilah, dia tak ingin merusak suasana hati Reyna.
Reyna memukul lengan Bram dengan manja, ini adalah pertanyaan yang paling ia hindari selama setahun terakhir dan Bram sangat paham hal itu.
.
.
.
Bram berbaring manja dengan kepala berbantalkan paha Reyna dan Dewa duduk bermain diatas perutnya. Linda berserta Bianca sudah pulang dari siang hari, sedangkan Bram seperti biasa tidak melewatkan kesempatan untuk tingga berlama-lama dengan Dewa sebagai alasannya.
__ADS_1
Sedari tadi Reyna hanya mengganti channel televisi tanpa tak ada satupun yang ia ingin tonton.
"Melamun??" tanya Bram sambil menyentil hidung Reyna
Reyna menunduk menatap wajah dipangkuannya itu
"Bosan" guraunya
"Ayo keluar" tak disangka candaannya di iyakan oleh Bram
"Kemana?"
"Cari es krim" Bram seakan bisa membaca apa yang ada di isi kepala Reyna
Reyna tersenyum lebar, jarang-jarang Bram membolehkan mereka makan es krim. Bram jauh lebih protektif jika mengenai Dewa, berbeda dengan Reyna yang cuek.
Dewa duduk dipangkuan Reyna memegang es krim dengan senangnya, setelah puas dia turun dan berlari kesana kemari bermain beberapa fasilitas mainan yang ada kedai es krim tersebut.
Tak jarang Bram bercuit saat Dewa hendak terjatuh, berbeda dengan Reyna yang tertawa senang. Mereka duduk berdampingan dibangku panjang bersama dengan orangtua lainnya yang menunggu anak mereka bermain.
"Rey...Dewa makin ceriwis ya.Persis kaya mamanya"
"Sayang dia belum boleh panggil aku papa" Bram merajuk seperti anak kecil
Reyna mengamit lengan Bram
"Boleh kok"
Bram menoleh ke arah Reyna tak percaya
"Sungguh?"
Reyna memutarkan bola matanya
"Apa perlu aku pikir-pikir lagi?" candanya
Sontak Bram menggeleng cepat, menggenggam jemari Reyna dan mencium punggung tangannya
__ADS_1
"Makasih Reyna"
Reyna menarik cepat tangannya
"Malu ah Mas"
Bram tak gencar menggoda Reyna, ia lingkarkan tangannya ke perut Reyna dan menggelitiknya.
Bertiga meninggalkan kedai es krim ketika Dewa nampak mulai mengantuk. Bram menggendong Dewa dengan satu tangannya, Reyna bergelayut manja dilengan Bram yang lain.
"Kalau begini nggak malu" ejeknya
"Kan ada Dewa, kalau hanya berdua seakan anak kuliahan memacari Om Om" Reyna menggoda prianya itu
.
.
.
Dewa tertidur dalam perjalanan pulang. Bram menggendongnya hingga membaringkan masuk kekamar sesampainya di rumah Reyna.
Bram berniat langsung pulang karena malam mulai larut. Langkahnya terhenti saat lengannya digenggam Reyna
"Makasih ya Mas untuk hari ini"
Bram berbalik, hari ini suasana hati Reyna sedang berbunga, ia pancing wanita itu dengan mendekatkan wajahnya ke pipi Reyna. Satu tahun berlalu dan Bram masih cukup bersabar hanya sejauh kecupan di bibir.
Cup, satu kecupan dipipi kanan Reyna, bibirnya bergeser ke sudut bibir mendaratkan kecupan singkat disana. Merasa tak mendapat perlawanan, kecupan lembut disapukan sepanjang bibir.
Dirasakan tangan Reyna yang mengelus punggungnya memberikan sinyal untuk mendekat, hasrat itu menggelegar perlahan tangannya bergerak menuju tengkuk, bibirnya mulai ******* rakus.
Desahan Reyna menghentikan aksinya, tangannya beralih dari tengkuk meraup dua pipi Reyna dikecupnya kening wanita itu. Ditempelkan hidungnya di hidung Reyna
"Jadilah istriku Reyna, jadilah milikku seutuhnya" rayunya dengan suara parau.
♡♡♡
__ADS_1
Bram mengemudikan mobilnya pelan, dia hampir saja kehilangan kontrol hanya karena desahan Reyna. Ia harus menata emosinya dengan baik jika tak ingin Reyna lari, dia ingin wanita itu yang datang kepadanya tanpa paksaan, merindukan sentuhannya dan menginginkannya.