
Bimo memasukkan barang terakhir ke bagasi, melambai kearah Reyna dan Dewa untuk segera memasuki mobil. Matahari belum juga terbit saat ini, Nampak Om Alex membisikkan sesuatu ke telinga Reyna yang membuat wanita itu tertawa kecil menutup mulutnya sambil melirik ke arah Bimo.
''Om Alex ngomong apa Rey?'' Bimo memutar setir dan melihat Om Alex melambaikan tangan dari spion
''Rahasia'' Reyna tersenyum simpul
Bimo hanya melipat bibrnya sebal, sejak kehadiran Dewa lelaki pengganti ayahnya itu selalu mewanti-wantinya jika hendak menemui Reyna.
Reyna merapatkan jaketnya dan Dewa saat mobil Bimo mulai menanjak dan suhu dingin menusuk raga.
''Dingin Rey?'' Bimo melirik dari arah kemudi
''Huum''
''Kita mampir ke gardu pandang lihat sunrise'' Bimo membelokkan mobil dan mulai mengemudi dengan hati-hati di jalanan terjal.
Dewa nampak senang saat Bimo mengajaknya berdiri tepat dipinggir bukit terjal, sedangkan Reyna melihat dari keajauhan sambil memegang dadanya.
''Kak, hati-hati...'' serunya ''Sudah ah balik sini, serem lihatnya''
''Kamu takut ketinggian Rey?'' tanya Bimo saat berbalik dengan menggandeng Dewa
''Enggak,, ngeri aja!'' Reyna bergidik
Bimo duduk bersila memangku Dewa, menoleh ke arah Reyna yang takjub melihat matahari sedang naik ke peraduan
''Indah ya Rey?''
__ADS_1
''Huum''
''Kamu suka sunrise Rey?''
''Suka...tapi aku lebih suka sunset, lebih melankolis, romantis lagi''
''Wah aku salah dong milih tempat liburan'' Bimo menggaruk kepalanya
''Dulu aku sering kesini dengan Satria dan Andre''
''Eh Andre...?"' Reyna bergidik mengingat nama itu disebut Bimo
''Kami bertiga kesini dan kepondokan kalau kita lagi libur semesteran dulu, malahan suka naik gunung juga''
''Apa enaknya sih Kak naik gunung,sudah dingin, mau makan susah,cari kamar mandi nggak ada, capek lagi nanjaknya'
''Enak kali Rey,apalagi naik gunung kembar'' Bimo meringis tertahan saat cubitan Reyna mendarat dilengannya
.
.
.
Tak sampai setengah jam mereka bertiga sampai di kebun strawberry, Dewa berlarian menenteng keranjang kosong. Reyna tak kalah senangnya merasakan langsung buah yang segar dari petikan tangan sendiri. Bimo sendiri sibuk mengabadikan momen keduanya di sana. Reyna duduk di gazebo setelah capek berkeliling, duduk santai menikmati nuansa pegunungan yang sangat asri dan menyejukkan.
Bimo menyusulnya setelah melepas Dewa dengan pawang kuda, bocah kecil itu menolak untuk ditemani Bimo saat diarak keliling kebun dengan naik kuda.
__ADS_1
''Jagoan kita pemberani ya' Bimo menowel lengan Reyna
''Siapa dulu dong emaknya''Reyna membusungkan dadanya sombong
''Dewa itu perpaduan yang pas , ganteng kaya ayahnya dan pintar seperti mamanya'' Bimo tersenyum-senyum sendiri
''Sini....'' Bimo mengamit pinggang Reyna mendekatkan pada tubuhnya ''Kita foto''
''Sejak kapan Kak Bimo suka selfie'' Reyna menaikkan alisnya
''Buat kenang-kenangan'' Bimo mengarahkan kamera membingkai wajah mereka berdua
cekrek
''Lagi...'' pintanya ''Kurang deket Rey,,sini...'' Bimo menempelkan pipinya
Reyna bergeser risih tapi Bimo mendesaknya tak pantang menyerah
''Senyum donngg''
Reyna menarik sudut bibirnya lebar dan semanis mungkin dan,,,,
**cup **
lalu
cekrek
__ADS_1
Bimo tertawa senang saat kecupan dipipi Reyna berhasil terekam jejaknya di ponselnya buru-buru ia ganti wallpapernya dengan foto yang diabadikan barusan dan memamerkan pada Reyna.
''Kak Bimo norakkk!!'' ucap Reyna sengit mukanya merah padam menahan malu. Sumpah demi apapun Bimo tetap belum berubah meskipun umurnya telah merangkak melewati kepala tiga. Masih sama seperti Bimo yang dulu ia kenal, tenang dan menenggelamkan dengan berbagai tingkahnya.