
May tergopoh memasuki ruang rawat, wajahnya kecewa ketika tidak dia temui bayi mungil disana. Terduduk dia di tepi ranjang dan mengelus punggung Reyna pelan dan memeluknya.
''Kalah set nih sama Mas Gandhi , nggak bisa lihat keponakannku, lucu gemuk katanya''
''Mbak May nggak marah?''tanya Reyna
''Kami sudah tahu lama kok Rey, jadi kenapa harus marahnya sekarang. Kamu ceroboh taruh testpack sembarangan. Untung aku yang menemukan, coba kalau Bapak, atau malah Adam bisa buat mainan'' Mbak May terkekeh
Reyna membelalak
''Jadi..selama ini???''
May menggangguk ''Mbok Sri aku paksa cerita, kami pantau kondisimu disini lewat Bianca. Kami sengaja memberimu waktu Rey, kami ingin tahu seberapa kuat kamu bertahan tanpa kami, dan ternyata kamu wanita kuat Rey. Kami semua salah menilaimu selama ini..'' lanjutnya
Mata Reyna berkaca-kaca ''Aku ingin peluk Mbak May....tapi nyeriiii'' perutnya terasa hendak robek tiap kali ia bergerak
Tak lama berbincang May pun pamit berpesan agar Reyna menjaga dirinya dan bayinya baik-baik
.
.
__ADS_1
.
Dua minggu pasca operasi Reyna sudah dapat beraktivitas normal.
Meskipun ia cukup terlatih untuk merawat Adam sejak bayi tapi tidak termasuk begadang dimalam hari. Jam tidur mulai kacau , tak jarang dia harus makan malam sambil menggendong bayinya.
Linda menawarkan jasa baby sitter tapi ia tolak karena merasa masih mampu ia kerjakan. Ia ingin merasakan sepenuhnya menjadi seorang Ibu.
Beruntung masih ada Mbak Ayu dari pagi hingga sore yang terkadang dia minta bantuan menjaga bayinya saat Reyna hendak mandi atau makan.
.
.
.
Penat kadang tak mampu ia bendung di malam harinya, belum lagi ketika Dewangga mengalami demam setelah mendapat imunisasi maupun demam bayi pada umumnya.
Reyna hanya manusia biasa yang terkadang menangis karena merasa lelah, tapi tak sedikitpun ia nampakkan itu didepan Mama Linda dan Bianca.
Dewangga kini adalah hidupnya, dia sudah tak lagi peduli kata kesempurnaan meskipun terbesit dalam hati jika nantinya Dewangga beranjak besar dan akan menanyakan keberadaan sang ayah.
__ADS_1
.
.
.
Disaat makan malam Bianca menyampaikan bahwa dia memutuskan meneruskan studinya ke jenjang S1 dan S2 karena pada akhirnya nanti dialah yang menjadi penerus usaha Mama Linda dan untuk sementara Om Bianca yang akan menggantikan posisi Bianca 3 tahun kedepan.
Reyna sedang membantu Bianca membereskan barang-barangya dikamar sebelum nanti malam bertolak ke bandara.
''Sepi Bii,,aku nggak ada temen curhat'' keluh Reyna
''3 tahun Rey, nggak lama kok, demi mama demi masa depan aku juga. Lagipula kamu nanti akan disibukkan dengan Dewa''
''Makanya buruan nikah punya anak biar tahu senengnya...'' ledek Reyna
''Seneng punya anaknya atau prosesnya'' Bianca tergelak
Entah kenapa pipi Reyna menjadi bersemu merah teringat peristiwa yang membuatnya menjalani kehidupannya sekarang yang tak dia sangka-sangka. Bimo...nama itu kembali terngiang di pikirannya. Hingga detik ini dia selalu berharap Tuhan mempertemukan mereka, dalam keadaan apapun hanya sekedar agar Bimo tahu keberadaan anaknya.
''Nanti sore Om aku datang lho Rey, jangan naksir ya, Om aku itu duda keren'' cerocos Bianca
__ADS_1
Reyna hanya memutar matanya jengah, lelaki, NO! makhluk yang sama sekali tidak ada dalam kamusnya saat ini.
Hidupnya sekarang dibuat bagaikan naik roller coaster hanya karena seorang lelaki. Lagipula apa menariknya Om Om, Reyna membayangkan sosok pria 40 tahunan yang nantinya akan ia temui.