Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
162. Menghindar


__ADS_3

"Hoeeekkkkkkk"


Bimo terbangun mendengar suara berisik dari arah kamar mandi, melihat istrinya tertunduk lemas berjongkok depan closet


"Kenapa Rey?"


"Morning sick" Reyna menggeleng pelan, menahan kepalanya yang berdenyut nyeri


"Apa itu?"


"Nanya Mbah Google sana" jawab Rey ketus


Ih! Dasar pria nggak peka bukannya pijitin malah ngeloyor keluar. Suaminya kembali dengan ponsel ditangan mematung didepan pintu kamar mandi


"Rasanya gimana? Sakit? Mau aku apain?" tanyanya bertubi


"Nggak apa-apa kok, nanti juga...hoeekkkkkkk..." serangan mual itu kembali datang.


Lutut Reyna terasa lemas,matanya berair, rongga mulutnya pahit seakan habis mengulum tablet


"Duh Rey, kamu nggak apa-apa?" Bimo memegang pundaknya menggoyangkan sebentar lantas berlari keluar kamar menuju lantai bawah tanpa sadar hanya memakai boxer dan bertelanjang dada


"Mbokkkkkkk..." teriaknya kencang


Bukan hanya Mbok Nah saja yang datang kearah suara tapi Gandhi yang sedang di kamar tamu juga Alex yang datang dari arah teras


"Apa Mas Bimo?? Ya ampun pakai baju dulu Mas" Mbok Nah menutup matanya dengan dua telapak tangan


"Itu Reyna..." telunjuk Bimo menunjuk kamarnya


"Reyna kenapa?" Gandhi mendorong Bimo yang menghalangi jalannya lalu berlari naik kekamar diikuti Alex, Bimo dan Mbok Nah dibelakangnya.


Mencari Reyna ke penjuru kamar dan menemukan adiknya duduk berselonjor merebahkan punggung di tembok kamar mandi


"Kamu kenapa?" Gandhi berjongkok didepan Reyna


Wanita itu sontak terkejut dan berdiri lalu mengambil handuk menutupi dadanya yang tak berpelapis dan tercetak jelas dibalik gaun malamnya


"Nggak apa-apa Mas, cuma mual biasa" menatap tiga pria didepannya yang memandang bodoh kearahnya


Huh! pria-pria itu mana pernah sih menghadapi ibu hamil. Pantas panik bukan main


"Oalah, bawaan hamil  muda itu Mas. Biasa..." Mbok Nah masuk melewati tiga pria dan memijit pelan pundak Reyna


"Besok-besok dibantu pijat gini saja sama bikinin teh anget" Mbok Nah membawa Reyna keluar dari kamar mandi dan mendudukannya di tepi ranjang


"Tapi Mbok,istriku kayak kesakitan gitu Mbok tadi" Bimo mengelus-ngelus pundak Reyna


"Nggak sakit Mas Bimo, cuma kalau pait-paitnya belum keluar ya belum plong. Dah nggak apa-apa kan Mbak Rey?"


Reyna mengangguk pelan "Iya, Kak Bimo ini bikin orang panik saja" sungutnya


.


.


.

__ADS_1


"Dewa sudah aku minta berangkat diantar Pak Man" kata Bimo sambil mengenakan baju kerjanya


Reyna yang selesai mandi mengangguk malas lalu naik kembali ke ranjang bergelung dengan selimut


"Bantuin, tangan aku masih nyeri" Bimo menengok dan menyodorkan dasi


"Ah...malas" Reyna menenggelamkan kepalanya masuk ke selimut


"Hei" Bimo menyingkap selimut itu memandang tubuh molek istrinya menantang ditengah ranjang, rambut gelombangnya terburai indah menambah kesan seksi


Tahan Bim tahan......!!! Kasihan lagi bunting


"Mager Kak" kaki Reyna bergerak-gerak hendak menjangkau selimut lalu menariknya lagi menutup tubuhnya hingga ke dada


"Temani aku sarapan ya, takut sendirian ketemu sama Thor sama Hulk" Bimo terkikik geli lalu mencium kening istrinya pelan


---


"Makan" Bimo menyodorkan piring berisi nasi sayur dan lauk pauk


Reyna mendorong piring itu "Nggak mau"


"Reyna, makanlah. Kamu kan sedang hamil" kata Alex


"Nggak mau Om. Reyna mual bau masakan" Reyna menutup hidungnya, ia beranjak dari kursi makan dan menuju dapur melakukan sesuatu disana lalu kembali dengan piring ditangan dan muka berseri


Gandhi melongok piringnya "Tempe goreng lagi??"


"Enak" Reyna bergumam sambil makan dengan lahab


"Reyna, nanti anakku kekurangan gizi kalau hanya makan nasi tempe dan kecap!" Bimo berdecak


"Nanti belanja yang banyak, beli semua yang istriku minta"


"Ya Mas Bimo....Mbak Rey mau apa??"


"Tempe daun" Reyna menjawab cuek


"Apa lagi?"


"Tempe plastik"


Bimo mengepalkan tangannya menahan geram sedangkan Mbok Nah terkikik menahan geli


"Biarin Mas Bimo, ibu hamil suka suka gitu memang. Kalau nggak diturutin nanti bayinya ileran lho Mas. Paling lama rewelnya cuma dua bulan kok"


---


"Kak Bimo berangkat sendiri?" Reyna mengalungkan dasi ke leher suaminya "Tangannya masih sakit kan?"


"Biar aku antar Bim" tawar Gandhi yang hendak pamit pulang


"Eh, enggak Mas enggak aku naik taksi online saja"


"Hei, adik ipar. Berani menolak tawaranku"


""Bukan, nggak mau merepotkan Mas saja"

__ADS_1


"Tenang, aku nggak merasa direpotkan" tangan Gandhi sengaja menyenggol lengan Bimo dan membuat pria itu meringis


"Iya iya deh Mas, makasih sebelumnya"


Nampak Alex keluar dari ruang kerja menenteng setumpuk berkas


"Reyna..Om mau pergi. Nanti kalau Pras datang tolong berikan ini padanya"


Wajah Reyna tiba-tiba berubah pias saat mendengar nama Pras disebut, ingatannya kembali pada peristiwa malam itu


"Nggak enak badan?" tanya Bimo sambil menunggu mobil Gandhi keluar dari garasi "Muka kamu pucat"


"Enggak Kak, ehm aku masih ngantuk aja"


"Oh, ya sudah tiduran saja. Kabari aku kalau ada apa-apa" Bimo mengecup kening Reyna dan berlari kecil saat mobil Gandhi terlihat lalu masuk ke bangku penumpang


"Mas pulang Rey, jaga calon keponakanku baik-baik ya" Gandhi mengeluarkan tangan dan memegang lengan Reyna dari kursi kemudi


Reyna mengangguk-angguk lalu melambai pada kedua pria itu. Tangannya berkeringat, berkas ditangannya menjadi sedikit basah. Sungguh dia tak ingin bertemu Pras, tidak sebelum dia memutuskan apakah akan bicara dengan Bimo mengenai peristiwa malam itu.


"Mbok, nanti kalau tamu Om Alex datang susulin saya ke kamar ya Mbok" pintanya pada Mbok Nah


Tak banyak yang Reyna lakukan dikamar, hanya mondar mandir sambil menggigit kuku tangannya, kebiasaan jeleknya jika gelisah melanda.


Menghalau bosan dengan melihat-lihat media sosialnya, sial! justru hatinya kembali gundah saat melihat tautan dirinya pada foto postingan Radit saat reuni beberapa saat lalu. Foto dirinya dalam satu frame bersama Pras kala itu.


Pras, pria yang ia kenal sopan. Menggenggam tangannya saja jarang apalagi menciumnya. Sungguh Reyna masih tak percaya pria itu berani berbuat diluar akal sehat.


Tok Tok Tok


"Mbak Rey... " suara Mbok Nah terdengar di balik pintu


Reyna segera menarik selimut dan pura-pura lemas dibaliknya


"Mas Pras datang.. " kepala Mbok Nah melongok dipintu


"Ya Mbok, Reyna nggak enak badan. Bawaan hamil nih Mbok. Minta tolong kasih ini ke Pras ya" Reyna mengulurkan berkas yang ia siapkan di nakas


"Ehm, nggak mau ditemui dulu Mbak. Lagian nggak baik kalau malas-malasan terus pas hamil"


"Lain kali deh Mbok, Reyna masih capek, ngantuk juga" memasang wajah memelas agar Mbok Nah percaya


Reyna turun dari ranjang sepelan mungkin setelah memastikan Mbok Nah berlalu dari balik pintu. Menuruni tangga berjingkat, dan mengintip dari balik tembok saat berada di tengah-tengah tangga yang menghubungkan dua lantai rumah Alex.


"Ini Mas titipan dari Pak Alex"


"Mbak Rey ada Mbok?"


"Ehm, ada. Tapi dikamar sedang nggak enak badan. Gawan bayi Mas"


(Gawan = Bawaan)


"Reyna hamil?" terdengar nada terkejut pada kata-kata Pras


"Iya Mas"


"Oh, sampaikan salam dari saya saja Mbok"

__ADS_1


Reyna melongokkan kepala, menatap punggung pria jangkung itu hingga tak terlihat. Kembali kakinya menapaki anak tangga, tangannya meremas samping kaosnya. Sampai kapan ia harus menghindar dari Pras.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2