Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
85. Hitam (2)


__ADS_3

Reyna membuka matanya perlahan, bau minyak angin menyengat tercium olehnya. Kepalanya berputar pening, ia mencoba untuk bangun.


''Mbak Rey, pelan-pelan'' terdengar suara perempuan di samping nya


Perawat Mas Bram dikediaman Linda berdiri di samping ranjang dorong. Saat ini ia berada di ruang tindakan rumah sakit dengan selang infus menancap di lengan kirinya.


Reyna mengerjab mengumpulkan seluruh nyawa yang masih tercecer


''Mas Bram'' desisnya, kakinya ia juluran kebawah seketika


''Jangan dulu Mbak Reyna'' perawat itu mencegah ''Tunggu sebentar lagi''


Reyna menebar pandangan ke segala penjuru, hanya mereka berdua yang diruangan itu. Matanya terumbuk benda kepingan tipis di meja samping. Ia raih cepat, sudah pukul 7 pagi artinya hampir 3 jam ia pingsan.


''Tadi banyak yang telepon Mbak Reyna, maaf saya terpaksa angkat''


''Mbak, Mas Bram mana?'' tanyanya cemas


''Sudah dibawa pulang Mbak'' jawab perawat itu hati-hati


Dibawa pulang, maksudnya, ahhh kepalanya makin pening dan terasa berat.


''Saya mau pulang...''


''Iya nanti Mbak, sebentar lagi'


'


''Sekarang!'' pekik Reyna


''Sabar Mbak Rey, saya bilang ke pihak rumah sakit dulu''


Reyna melirik ke meja samping mencari tas yang ia bawa semalam, shit.. tas itu menyilang di depan dada perawat Mas Bram.


''Ya sudah Mbak urus dulu administrasinya''

__ADS_1


''Mbak Rey jangan kemana-mana ya!''


Reyna mengangguk , tatapannya tak lepas dari layar ponselnya


.


.


.


''Halo..'' jawab Reyna beberapa saat kemudian ketika ada panggilan nomor asing


''Oh,,bapak sudah sampai depan lobi, tunggu sebentar''


Reyna mencabut selang infus dengan paksa, menuruni ranjang tergesa dan langsung berlari kencang keluar dari ruang tindakan tanpa beralaskan kaki.


Napasnya tersengal saat menjatuhkan tubuhnya di kursi penumpang ''Cepat Pak ayo berangkat'' suruhnya pada bapak pengemudi taksi online yang ia pesan via aplikasi ponselnya.


''Tangan Mbak tidak apa-apa'' tanya pak supir itu ragu.


.


.


.


Jantung Reyna berdebar kencang saat melihat bendera kuning terpasang di gerbang kompleks, kediaman Linda sudah mulai dipenuhi pelayat. Air matanya tumpah seketika saat turun dari taksi online, banyak pasang mata menatapnya saat ia melesak masuk ditengah kerumunan para pelayat.


Ia berlari bagai orang kesetanan menuju meja panjang yang tertata tepat ditengah ruang tengah dan dihamparkan kain jarik diatas jenazah.


Belum juga tangannya menggapai meja, tubuhnya ditarik kebelakang oleh seseorang yang memutar tubuhnya dan merengkuhnya dalam pelukan tubuh kekar berdada bidang.


''Mas Gandhi'' panggilnya dengan suara serak


''Jangan menangis Reyna, jangan sampai air matamu jatuh mengenai jenazahnya'' bisiknya pelan

__ADS_1


Reyna memeluk Gandhi erat, tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Air matanya mengalir deras diluar kendalinya membasahi kemeja hitam milik Gandhi, ia menurut saja saat Gandhi menuntunnya ke pinggir dan mendudukannya disamping Mbak May.


Reyna menebar pandangannya ,Bianca terduduk terdiam didepan meja jenazah sedangkan Linda digarda depan menyambut para pelayat dan ahhhh Bimo , Reyna berkedip memastikan pandangannya , Bimo disudut ruangan menjaga Dewa yang tengah bercanda dengan Adam. Mereka beradu pandang dengan rasa yang tak dapat diungkapkan.


Si kecil Dewa berdiri dan berlari kearahnya, memegang kedua pipi Reyna dengan telapak tangan mungilnya.


''Mama hangan angis, anti papa iyo cedih'' kata-kata Dewa menohok tepat ke jantung hatinya.


Reyna mengangguk dan menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya.


''Ewa mau ium papa iyo''pinta anak kecil itu


Reyna menengok ke arah Gandhi, Gandhi mengangguk ''Dewa jangan menangis ya'' pesannya


Reyna melihat wajah Bram yang putih bersih dengan air mukanya tenang, rasa damai menjalar ke seluruh syaraf tubuh Reyna.


.


.


.


Reyna bersikeras untuk mengantarkan jenazah Bram ke makam, Gandhi dan suami Bianca turut mengangkat keranda di bagian depan. Bimo menggendong Dewa berjalan dibelakang Reyna.


Tidak ada tangis lagi dari Reyna, dia sudah merelakan, berbesar hati untuk kuat demi Dewa.


Jenazah Bram diturunkan pelan, Gandhi dan suami Bianca telah menyambutnya diliang kecil itu. Sejumput tanah terakhir di hempas oleh bapak penggali kubur diikuti tebaran bunga oleh pihak keluarga.


Reyna masih terduduk dipusara saat satu persatu pelayat berpulang. Ia panjatkan doa untuk kepingan  hatinya yang telah pergi selama-lamanya.


Lengannya di amit lembut oleh Gandhi, memintanya berdiri dan menyusul rombongan untuk kembali kerumah duka. Lelaki itu merengkuh bahunya erat,berjalan pelan mengimbangi sapuan kaki Reyna yang enggan melangkah.


''Bram sudah tenang Reyna,dia tidak merasakan sakit lagi. Dia sudah disurga bersama anaknya sekarang'' hibur Gandhi


Reyna hanya menatap Gandhi dengan mata sembabnya, ia merangkul erat pinggang lelaki itu. Ia butuh tempat bersandar saat ini, ia butuh teman untuk menemaninya sekarang, ia butuh seseorang untuk menghiburnya.

__ADS_1


__ADS_2