
Reyna mengambil dua mangkok dari peralatan makan Pras.
"Garpu? Sumpit?" tanyanya
"Garpu" jawab Pras
Wanita berperut besar itu berjalan menuju sofa, menyodorkan salah satu mangkuk berisi. Duduk santai padahal hati sedang kebat kebit, mengaduk-aduk isi mangkuk, meniup-niup lalu memakannya lahab.
"Hahh... ssshhhssss .. wuuahhh" mata Reyna berkedip kedip, air mata keluar dari sudut matanya menahan pedas
Pras berdiri mengambil sebotol air mineral dan meletakkan dimeja tanpa suara, wanita itu menegak air dari botol hingga tersedak
Pras menggeleng-gelengkan kepalanya, lagi.. tanpa bersuara.
Drttt Drtttt Drttt
Reyna merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya. Gawat! Suaminya menelepon
"Ehmm... ya Kak"
"Lagi makan bakmi"
"Dii... " mata Reyna melirik Pras "Di belakang rumah"
"Ehmm..enggak enggak. Dibeliin abang ojol kok.. "
"Ya ya ya.. see yaa.. muach"
Cckk dasar pembohong! bisik Pras dalam hati. Mengaduk-aduk isi mangkuknya tak berselera, melihat wanita hamil didepannya makan saja sudah cukup membuatnya merasa kenyang.
"Makan!" Reyna menunjuk isi mangkuk Pras dengan sumpitnya
"Hemm... "
Ahhh keluar juga suara dari robot pria ini, hanya deheman pendek saja membuat jantungnya bertalu-talu bagai genderang perang
Pras hanya mampu menghabiskan separuh dari isi mangkuknya, berjalan menuju kulkas dan meminum sekaleng soft drink
Menunggu Reyna menghabiskan makan dan berjalan di tepi jendela. Merogoh kantung celana untuk mengambil bungkus rokok. Mencari pemantik api disaku yang lain
"Jangan.. " pekik Reyna tertahan saat hidungnya mencium asap bernikotin
"Ah!" Pras yang terkejut buru-buru mematikan rokoknya "Sorry!"
Reyna mengambil 2 mangkuk kotor dimeja membawanya ke wash bowl dan mencucinya
"Hei, tak perlu" Pras buru-buru menghampirinya
"Tak apa"
"Jauh-jauh kemari membawakanku makan dan masih harus mencucinya"
Reyna melirik pria disampingnya , hei hanya itu kalimat terpanjangmu. Ayolah bicara lagi.
"Tanggung.. kepalang kotor" Reyna mencipratkan busa sabun yang menempel di kedua tangannya
__ADS_1
"Dan aku tak jauh-jauh kemari hanya untuk makan!"
Mengibas-ngibaskan tangan basahnya, lalu berjalan kembali ke sofa tengah. Menghempaskan badannya disamping Pras. Jujur dia tak ingin berlama-lama disini.
Dua manik mata itu saling memandang, tanpa kata hingga berdetik-detik lamanya
"Aku"
"Rey.. "
bersamaan membuka mulut
"Ladies first" Pras mengedikkan dagunya pelan
"We need to talk"
"Sure, go ahead"
"Pras, aku minta maaf" akhirnya kata-kata yang dia pendam 7 bulan ini meluncur
"Harusnya aku yang minta maaf" balas pria itu
Kembali keduanya terdiam
"Aku salah, tak seharusnya aku kemari malam itu"
"Aku yang salah, tak seharusnya aku melakukannya malam itu"
"Tak pantas untuk seorang wanita yang berstatus istri orang"
"Tak pantas untuk pria yang memperlakukan istri orang seperti itu"
"Come On! Berhenti membeoiku!" Reyna berdecak kesal
"Yang kukatakan semua benar, tak kubuat-buat. Siapa juga yang membeoimu"
"Sebenarnya aku ingin menganggap tak ada yang pernah terjadi"
"Aku juga"
Tuh kan jadi beo lagi
"Tapi aku tak bisa"
"Aku juga"
Ihh bisa nggak sih aku bungkam mulutnya pakai lakban
"Maaf kemarin-kemarin aku menghindar"
"Aku tahu"
Bisa tidak sih kreatif, gunakan kalimat lebih panjang
"Tapi mau sampai kapan. Tak menyelesaikan masalah"
__ADS_1
"Aku minta maaf" pria itu berkata pelan seakan takut ada yang akan mendengar pembicaraan mereka
"Aku sudah maafkan, apa kau mau memaafkanku?"
"Tak ada yang perlu aku maafkan"
"Tapi aku sudah datang padamu, tanpa sadar memancing emosimu lalu.... " Reyna membuang muka
"Cckk, aku cuma pria brengsek yang mengharap perasaannya berbalas" tangan Pras mengepal diikuti rahang yang terlihat mengeras, otot nampak menegang disekitar wajahnya
"Pras.. kita sudahi saja semua kesalahan ini. Berjanjilah untuk berbahagia.. "
Pras mengangguk "Terimakasih sudah datang kemari, aku terlalu pengecut untuk berterus terang ingin menemuimu"
Reyna menggeleng "Tak apa. Aku yang memulai dan sudah seharusnya aku yang harus mengakhirinya"
Terdengar hembusan napas panjang dari keduanya, berdamai dengan kesalahan. Bukankah itu sangat indah.
"Aku pulang ya.. " Reyna hendak berdiri
"Kenapa kau harus bohong pada suamimu kalau kemari" Pras menahannya "Kau takut dicurigai lagi?"
"Lagi?" Reyna menukikan alisnya
"Mas Bimo pasti marah jika kau bertemu aku lagi"
"Eh, aku jauh lebih pengecut darimu. Suamiku tak tahu aku pergi menemuimu malam itu"
"Oh" mulut Pras membulat "Pantas saja dia terlihat tenang beberapa kali bertemu"
"Entah kapan aku berani bicara soal ini dengannya. Atau lebih baik aku anggap saja tak pernah ada"
"Jika menurutmu itu jauh lebih baik.. "
"Aku merasa seperti pengkhianat"
Reyna menunduk, menautkan jemarinya gelisah
"Aku takut Kak Bimo lepas kendali dan... " menggigit bibir bawahnya
"Memukulku misal?" Pras menebak
"Hemm... Ya semisal"
"Tak masalah, aku memang pantas"
"Baiklah"
"Apanya ya baiklah?"
"Aku cerita saja ke suamiku, toh kamu sudah siap jika dipukul"
Pras tersenyum kecut, aku bilang kan hanya semisal, aku masih sayang muka tampanku ini jika harus kena pukul suamimu
Sinar matahari sedang ganas-ganasnya menggigit kulit. Reyna tersenyum riang dibalik kemudi meskipun wajahnya diterpa sinar hangat yang membuat keningnya berpeluh
__ADS_1
Seperti ini rasanya berdamai, tinggal selangkah lagi bebannya berlalu. Ayo cari cara cari celah untuk berterus terang dengan Bimo.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!