
Satria melajukan mobil menuju kekediaman Bimo malam itu juga untuk memintanya membatalkan rencana Reyna.
Ting Tong....
Ting Tong....
Ting Ting Ting Tong Ting Tong..
"Bimoooooo....!!" teriak Satria sambil menggedor pintu kediaman Bimo dengan tidak sabar.
Begitu sang empu rumah menampakkan wajahnya Satria segera mencengkeram kasar kerah bajunya dan mendorongnya masuk kedalam dengan kasar
"Heiii..kenapa kau Sat!!!" Bimo berusaha mengelak dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh
"******* kau Bim, sudah kubilang jangan ganggu Reyna, isi otak kotormu itu sudah terbaca olehku hah!"
"Mengganggu??? Apa aku tak salah dengar, aku itu membantu!"
"Jangan banyak alasan kamu Bim,aku minta kau batalkan rencanamu mempekerjakan Reyna"
"Kau sendiri sebagai kakak tak mampu membantunya mendapatkan pekerjaan,apa aku salah menawarinya pekerjaan. Aku tak memaksanya, Reyna sendiri yang datang padaku"
Satria mengendurkan cengkramannya
benarkah Reyna yang mendatangi Bimo
__ADS_1
"Duduk dulu Sat, aku ambilkan minum "
Satria meminum air dingin itu perlahan sembari menanyakan kenapa Reyna menyambangi Bimo. Kemudian Bimo menjelaskan tentang alasan kepindahan Reyna kekediaman Satria dikarenakan mencari pekerjaan selepas program diploma.
telak
Kata itu terlintas dibenak Satria, bahkan dia sendiri tidak berfikir sejauh itu jika ada yang menanyakan alasan kenapa Reyna tinggal dirumahnya.
Bagai gayung bersambut dia juga sedang membutuhkan assisten dikarenakan asisten sebelumnya kabur karena beban pekerjaan yang cukup berat.
"Aku janji tidak akan memaksa Reyna. Niatku cuma bantuin dia, nggak lebih. Kalau ternyata dia minta mundur oke oke aja kok" jelas Bimo sambil menepuk bahu Satria.
"Tolong janji kamu jangan apa-apain Reyna" pinta Satria serius.
"Janji... aku yakin kok Reyna masih polos. Aku tidak mau nanggung beban dengan merusak masa depan para gadis. Kecuali...."
"Kecuali Reyna sendiri yang menawarkan dengan ikhlas"
"Mimpi...!!"
Bungkus rokok melayang tepat mengenai muka Bimo ,sempat meringis sakit tapi sesaat dia tergelak. Sudah lama dia rindukan karibnya itu.
"Aku bercanda, jangan masukan hati! Aku tidak mau hidup penuh beban tanggung jawab" disesapnya rokok dan dihembuskan perlahan ''Lagipula aku sudah janji dengan Om Alex untuk berubah, sudah cukup aku berulah. Aku mau memperbaiki hidupku Sat''
"Kamu sendiri, sampai kapan akan menggantung hubunganmu dengan Niken, kau tak kasihan dengannya? Mending kamu kasih Andre kawinin selesai urusan" lanjutnya pelan tapi membuat Satria mengeram marah.
__ADS_1
Kemudian keduanya terdiam menikmati tiap kepulan rokok dan larut dalam pikiran masing-masing
.
.
.
flash back
Tepatnya 2 tahun silam, tepat setahun Satria menjalin hubungan dengan Niken. Satria berniat membawa Niken ke kediaman Pak Wiji,ayahnya,untuk mengenalkan dan meminta restu. Agaknya kenyataan tak selalu sama dengan harapan, Pak Wiji hanya memandang Niken sebelah mata saja karena latar belakang keluarga Niken yang tidak jelas. Jika Satria tetap ingin meneruskan hubungannya dia harus rela untuk merelakan hak waris sebagai anaknya.
Keputusan dari pihak keluarga Satria membuat Niken menjauh, saat itulah Andre hadir menjadi pihak ketiga ditengah kegamangan hubungan dengan Satria. Bahkan secara terang-terangan Andre menantang Satria akan melamar Niken jika dia melepaskannya.
Pada akhirnya Niken memutuskan untuk kembali pada Satria saat pria tersebut berjanji untuk memperjuangkan Niken didepan keluarganya. Satria tidak peduli sekalipun ia tak mendapat hak waris jika tetap menikahi Niken tanpa restu. Dia sudah merasa cukup mandiri dengan usaha yang ia geluti.
Sejak saat itulah hubungan Satria dan Andre merenggang, Bimo terombang ambing diantara mereka, berkali-kali dia sudah berusaha mendamaikan keduanya tapi hasilnya nihil. Jarang sekali mereka duduk bertiga untuk sekedar berbincang dan berbasa-basi.
.
.
.
Satria adalah pria yang bertanggung jawab meskipun terkadang plin plan dan kerap bertingkah sembrono dalam mengambil keputusan.Diusianya yang masih terbilang muda Satria sukses dengan karirnya.
__ADS_1
Bimo sendiri adalah lelaki yang terbiasa dengan hidupnya yang keras, ditinggalkan sosok ayah dari usia kanak-kanak membuatnya sedikit susah diatur. Om Alex memaksanya untuk bekerja sungguh-sungguh dan bertanggung jawab atas hidupnya setelah kepergian mendiang Ibunya beberapa saat lalu.
Sedangkan Andre terbiasa di manja sejak masa kanak-kanak, kekayaan kedua orangtuanya menjadikan dia terbiasa menghamburkan uang untuk berkecimpung didunia malam. Jika terobsesi dengan sesuatu menjadikan logikanya tak sejalan, sifatnya yang keras kepala akan mendorong dia menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.