
Hari semakin sore, Pandi masih belum ada tanda tanda untuk terbangun dari tidurnya.
Mau tak mau bu Mirah terpaksa harus membangunkan sang anak.
"Nak bangun yuk, sudah sore ini udah mau magrib", sambil mengelus anak sulungnya membangunkan dengan cara pelan dan perlahan. Andai saja tidak terdesak oleh waktu beliau akan membiarkan anaknya untuk beristirahat.
Tidak mudah menjadi Pandi, hidup penuh dengan luka dan duka yang lika liku. Dari semenjak menginjak peria remaja hingga sekarang bisa di bilang peria dewasa, tidak jauh dari luka luka dan luka, mungkin dulu mah dia belum begitu paham bagai mana permasalahan keluarganya.
"Bu Maaf aku tertidur begitu lama, ibu pasti pegal ya", tanya Pandi merasa bersalah.
"Tidak sayang tidak apa apa, sekarang wudu lah nak ini sudah mau magrib".
"Iya bu, aku mau ke mushola ya", Pandi bangun menuju kamar mandi.
Batin bu Mirah menjerit melihat anaknya yang sekarang sudah mulai dewasa dan menjadi kebanggaannya, anak yang bertanggung jawab anak yang mengesampingkan keinginnannya sendiri anak yang selalu menomer satukan keluarga.
Bu Mirah dan Seli melaksanakan kewajibannya setelah itu mereka berpelukan, itu dan itu yang selalu mereka lakukan jika sedang merindukan Bapak atau Pandi, sekarang Pandi sedang ada di rumah merasa sedikit lega dan berkurang kerinduannya.
Ya Allah. Jagalah anak anak hamba, entah dosa apa yang dulu hamba perbuat? hamba memohon ampunanmu Ya Allah ampuni semua dosa dosa hamba.
__ADS_1
pak anak kita sekarang sudah dewasa, dia sangat terpukul kehilangan bapak, aku di sini tidak kuat melihat nya rapuh seperti ini pak, bahagia di surga Allah ya pak, aku di sini akan selalu mengingat pesan bapak dan menjaga anak anak kita. Batin Bu Mirah sambil meneteskan air matanya.
Istri mana yang kuat di tinggalkan oleh suami terkasihnya, istri mana yang ikhlas harus melepas separuh jiwanya.
"Assalamualaikum", salam Pandi yang baru saja datang dari mushola.
"Walaikum salam nak", sahut bu Mirah
Pandi sekarang tidak seperti tadi yang sangat rapuh, sudah mulai tersenyum ketampanannya berlipat lipat ganda, dulu saja pas masih di kampung sudah tampan apalagi sekarang yang sudah saba jakarta.
Pandi masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuh, mengingat Bapaknya kembali merasa sesak dalam dada.
Kuat Pan lu harus kuat, lu cowok lu harus kuat, ada Ibu dan adik lu yang harus di jaga harus di bahagiakan, Pandi menyemangati diri.
"Ehhh ada adik abang, makin cantik aja ya, Pandi mengelus kepala adiknya. Lancar gak sekolahnya dek?". Tanya Pandi lagi.
"Lancar dong, apalagi ada ponsel baru dari abang hehehee", Seli cengengesan.
"Pergunakan dengan baik ya, sini peluk abang", Pandi merentangkan tangannya mereka berpelukan, mengecup kepala sang adik sangat lama menyalurkan kasih sayang, apalagi Bapak sudah tidak ada dia tanggung jawab penuh terhadap adiknya.
__ADS_1
"Yuk makan kasian ibu nunggu kita".
"Asiapppp", Seli sambil terkekeh.
"Bahasa dari mana itu hemmm, ada ada saja, Pandi juga ikutan terkekeh".
"Makan nak udah malam", ucap Ibu Mirah, hatinya mulai menghangat melihat anak anaknya sangat akur, Pandi jangankan sekarang yang jarang sekali bertemu, dulu juga yang setiap hari bertemu setiap hari banreng bareng tidak pernah ribut atawpun cekcok dengan adik.
"Ayo ibu Ratuku", canda Pandi pada Ibunya.
"Ada ada saja nak", Bu Mirah tertawa.
"Abang udah lama banget gak makan makannan kaya gini, ini bikin ngiler aja".
"Iya makan yang banyak nak", ucap bu Mirah.
"Aku yang masak ini semua lo bang", ucap Seli.
"Adik abang udah pinter masak ya, pasti enak masakannnya", puji Pandi.
__ADS_1
Akhirnya Mereka makan dengan tenang.
๐ค๐ค๐ค jangan lupa like ya๐ Terimakasih๐๐๐