ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
004, TTN


__ADS_3

Astagfirullohalazim, belum apa apa sudah banyak tekannan, banyak aturan Fely hanya bisa membatin.


Tamu yang di undang sudah pulang semua, di sana hanya ada keluarga Rafael dan Fely saja brserta kedua nenek dan Opanya.


"Hihh bingung juga cara manggilnya yang tadinya adek sekarang harus kakak", ucap Misel.


Ucapan Misel sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa kecuali Rafael dan Fely, Fely mendelik tidak suka dengan ucapan Misel karena memanggilnya kak.


"Bisa gak panggilnya biasa aja".


"Ya kan elo sekarang ipar gue masa manggilnya harus adek terus".


"Serah lah", Fely bangkit dari duduknya, jengah malas kesal bercampur di dalam hatinya.


Fely masih belum tau pasti kenapa Papa Mamanya menjodohkan dia dengan Rafael yang menyebalkan.


"Fely ke kamar ya semuanya", pamitnya niat menghindar, menjauh agar tidak menjadi bahan ledekan terus.


Ternyata salah semakin dirinya melangkah semakin di ledek karena pengantin baru maunya ngamar terus, cihhh Fely benar benar merasa kesal.


Kenapa juga Rafael mengikutinya ke kamar padahal tadi dirinya tidak mendengar suara langkah laki laki itu membuntutinya pas naik tangga.


"Hihh kenapa harus ikut sih kak", keluhnya.


"Tidak mungkin istri di kamar suami di luar".


"Bisa berhenti gak, gak usah apa apa istri apa apa istri bosan dengarnya tau", geram Fely.


"Bilang sana ke Mama kalau bosan", kini Rafael tambah menyebalkan.


"Terserah lah kak capek gue apa apa selalu di sangkut pautkan, kapan punya kehidupan tenang lagi seperti kemarin kemarin", Fely membantingkan badanya ke kasur.

__ADS_1


"Mau bulan madu ayo kita cari ketenangan dan suasana di luar", ajaknya dengan santai.


Fely melirik tajam pada laki laki yang bersetatus suaminya, melempar guling pas ke muka Rafael.


"Bulan madu sana sama guling".


"Durhaka suami sendiri di lempar guling".


"Astagfirulloh ya Allah", Fely menyembunyikan mukanya menutup rapat dengan guling dan kasur, kesal kesal kesalllll yang di rasakannya sekarang.


Melihat Fely yang selalu marah dan kesal padanya Rafael semakin menjahili anak itu dengan senang hati.


Sengaja agar Fely tidak betah dan selalu marah padanya, supaya Fely mengadu dan minta bercerai.


Bocah ya emang masih bocah susah mau di apa apain juga apalagi di ajak membuat anak, hahaa mana ada anak punya anak, batin Rafael tertawa menyeringhai.


"Fely saya mau bicara serius denganmu cepetan bangun dan dengarkan baik baik".


"Ck kau ini cepat bangun saya hitung sampai 3 kalau tidak bangun berarti memang benar kau mengajaku untuk membuat anak sekarang juga".


"Ancam terus acam, cih menyebalkan sekali".


Fely dengan cepat duduk, "Apa yang ingin kau katakan padaku?".


"Bereskan bajumu kita pindah ke partemenku sore ini juga".


"Pergi saja sana ngapain harus denganku", usir Fely semakin tidak bisa di ajak kompromi.


"Kita di sana bisa bebas tidak perlu sandiwara di hadapan Mama Papa".


"Baiklah baiklah kali ini aku ikuti apa yang kau mau".

__ADS_1


"Good emang istri harus nurut sama suami bukan", Rafael tersenyum.


"Serahmu lah".


Rafael merebahkan tubuhnya di kasur Fely, sedangkan Fely bergegas membereskan bajunya, wangi juga kasur bocah, batinnya.


Tak lama ponsel Rafael bergetar menandakan tlpon masuk, "Ya baby", ucapnya.


"Ya bersabarlah minggu depan aku akan ke sana".


.........


"Merindukanmu juga".


........


"Ya silahkan bersenang senanglah sebelum aku mengurungmu selama 1 minggu seperti biasa".


........


"Yah love you".


Seperti itulah percakapan Rafael dengan tlpon nya, entah apa yang sebenarnya mereka bahas, Fely masabodolah dengan itu, baginya tidak masalah asal Rafael tidak mengganggu kesenangannya.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2