
Sah yang kedua kalinya, kali ini benar benar berbeda dengan pertama kali.
Hanya ada beberapa orang saja, wali penghulu dan saksi.
Jantung Rafael terasa mau copot mengucapkan ijab kobul kali ini, rasa takut salah pengucapan benar benar menghantui.
Setelah terdengar kata sah dari kelima orang yang ada di sana hatinya terasa ingin meledak saking bahagianya, dulu jangankan bahagia jika saja yang menyuruhnya bukan mami Lily sudah iya hancurkan semuanya.
Setelah semuanya selesai dan pamit Rafael menghadap Papa Pandi ke ruangan kerjanya.
"Pah", ucapnya tercekat, tenggorokan terasa kering, Rafael langsung bersimpuh di hadapan laki laki yang banyak di segani di kalangan bisnis maupun di luar bisnis.
"Maafkan Rafa pah, maaf atas semua kesalahan yang selama ini Rafa perbuat, maaf sudah menorehkan luka di hati papa".
Rafael sadar bahwa bukan hanya Fely yang dirinya sakiti, hati ayah wanita itu lebih sakit karena anak perempuan semata wayangnya di sakiti.
"Duduk Raf", suara papa Pandi sangat datar, jika saja tidak melihat Fely yang terlihat bahagia karena kembalinya Rafael, jika saja tidak merasa kasihan pada sang cucu mungkin papa Pandi tidak akan mengijinkan Fely dan Rafael bersatu lagi.
Hatinya merasa sakit pertama kali mengetahui bagaimana anak kesayangannya selama 5 bulan itu di perlakukan.
"Kamu sedikit banyak tau bagaimana papa kan, Papa tidak butuh janji".
"Ya Rafa tau, akan Rafa usahakan untuk membuat mereka bahagia dan menebus semua kesalahan selama ini".
"Lakukan, jangan salahkan papa kalau kamu sampai sedikit saja menyakiti Fely untuk kedua kalinya, kamu pasti tau bagaimana akibatnya".
"Iya Pah".
"Papa memaafkan kamu, berikan kebahagiaan untuk anak dan cucu papa, sudah cukup mereka tersiksa dengan kerinduan pada orang yang salah".
__ADS_1
Cih hati Rafael lebih tersentil dengan ucapan rindu pada orang yang salah.
"Terimakasih Pah, terimakasih untuk semuanya".
"Ya, tolong kerjakan ini", menyerahkan laptop. "Papa mau pergi ke luar mengunjungi adik adik Fely, kalian di sini dulu isi rumah ini selama 1 bulan".
Astagaaaaa, hancur sudah rencana yang dari semalam dirinya rencanakan.
Di berikan pekerjaan, hanya melihat sekilas saja Rafael tau kerjaan itu lumayan rumit, mau nolak sama saja menyerahkan nyawa.
Melihat ke sudur atas, parah ruangan ini di awasi cctv lagi, bisa apa gua yang di hadapi sekarang manusia lebih canggih dari gua, batin Rafael.
"Bismillah Pah, meskipun sudah lama tidak menggaraf pekerjaan itu".
"Kerjakan, jam 2 papa berangkat sama mama, oma opa dan nenek, hasilnya langsung kirim ke papa".
Hukuman buat gue sumpah huwaaaa, jerit hati Rafael.
Hahh rasain lo, di dunia ini tidak ada yang geratis, enak aja mau langsung tancap gas, kemari kemarin saja kalian sudah nyolong nyolong, di kira tidak tau kali, seringhai papa Pandi membuat Rafael menggeridik ngeri.
Orang tua itu keluar dengan senyum ejeknya.
Sedangkan Rafael mendudukan diri dengan sedikit terpaksa.
📩 "Sayang suamimu di hukum😭".
📩 "Ahhh rencana kakak buat cepet ngasih Dava adek di gagalkan Papa sayang🤧".
📩 "Cinta do'akan suamimu agar cepat selesai kerjaan nya".
__ADS_1
📩 "Demi dapat restu dan kepercayaan lagi, kakak ikhlas sayang❤❤❤".
Fely yang sedang menemani Dava di kamarnya tergelak sendiri melihat deretan pesan dari Rafael.
📨 "Semangat suami😘".
📨 "Kan bisa nanti malam😉, masih banyak waktu juga😋".
📨 "Jangan sambil ngedumel biar cepat selesai aku tunggu🙌".
Cih, andai tidak ada cctv sudah Rafael suruh Fely datang ke ruangan itu.
Bisa saja dirinya menghapus atau mematikan rekaman itu, tapi hadapannya nanti Pandi Nasution manusia susah menoleransi.
📩 "Sayang kamu membuat kakak semakin tidak pokus, nanti malam tidak akan kakak kasih ampun kamu ya".
📩 "Istriku ternyata genit juga😋".
Harus cepat selesai sebelum larut malam, mertua gue memang beda dari yang lain, batinnya.
Meskipun sudah lama tidak berkutat dengan data data yang lumayan rumit, tapi Rafael tetap lancar, sebab ada tujuan utama setelah selesai.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤