
Setelah 2 hari Sandra di rawat paska melahirkan kini semuanya sudah ada di rumah Mama Selina.
Pandi dan Sandra sudah sepakat kalau rumah mereka selesai di renovasi akan langsung pindah ke sana, awalnya tidak mendapat ijin dari Papa Handra apalagi Mama Selina dan Bu Mirah, namun Pandi terus meyakinkan dan bahkan menyiapkan tempat untuk orangtuanya juga, untuk Ibu dan mertuanya Pandi bebaskan mau sampai kapapun menginap dan merawat anaknya, cucu mereka.
Semua orang sedang berada di ruang tengah sambil menunggu kak Lily yang katanya sedang di jalan dan baru keluar dari bandara.
Pandi juga ada di rumah tadi pagi dia hanya meeting sebentar di kantornya, kerjaan nya semakin numpuk apalagi Papa Handra tadi malam sempat bicara padanya bahwa sebagian perusahaan akan di serahkan ke Pandi dan Renaldi.
"Kayanya kita nanti cuman benar benar pindah rumahnya doang ya", ucap Sandra sambil terkekeh.
"Biarlah nanti baby nya juga kalau sudah besar tidak akan mau di jadikan boneka bergilir kaya gitu".
"Sialan anak sendiri di bilang boneka", mencubit pinggang suaminya, "Enak saja di bilang boneka aku yang sudah susah payah bawa bawa selama 9 bulan lebih", kesalnya tak terima.
"Hahaa, bonekanya hidup cantik menggemaskan lagi sama kaya Mamanya", bisik Pandi.
Bluss, langsung merah pipi Sandra di bilang cantik dan menggemaskan, "Gombalannya gak laku pak", berusaha menyembunyikan kesaltingannya.
"Tapi bikin berbunga bunga kan", menjawil hidung istrinya.
__ADS_1
"Tau ah malas, ingat sudah jadi bapak bapak sekarang tu ya, jangan suka bikin kesal terus by".
"Pasti ingat lah hasil jerih payah tiap malam, surganya dunia kenikmatan di dunia", ucapan Pandi semakin ngelantur.
"Ihhh ya Allah ini suami siapa sih yang modelannya kaya gini", gumam Sandra, kadang suka jengah melihat tingkah suaminya.
"Suami kamu lah sayang kalau di akuin sih itu juga, tapi masa gak di akuin sudah tampan pintar dan kaya lagi, sayang baget kan kalau gak di akuin".
Duhhh mulai kumat narsis nya, rasanya gue pengen muntah deh kalau dia lagi kumat kaya gini, batin Sandra.
.
Mama Selina dan bu Mirah langsung heboh melihat wanita muda yang baru saja turun dari mobil itu, beliau sangat merindukan wanita muda itu sebab mereka bertemu terakhir kali pas Sandra dan Pandi menikah, apalagi melihat kedua cucunya, ada tangisan rindu di antara ketiga wanita berbeda usia yang sedang berpelukan itu.
"Bagaimana kabarmu nak?, Ibu rindu sekali denganmu", ucap bu Mirah sambil memandang lekat Lily.
"Hehee Alhamdulillah baik Bu, Ibu sama Mama sehat kan, Lily merindukan kalian", senyum bahagia sangat terpancar di wajah Lily dan kedua wanita paruh baya itu.
"Mama sehat sayang apalagi di tengokin anak cucu semakin bugar badan Mama sekarang".
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau pada sehat Mah, wah Ibu sama Mama tambah cucu ya haha, Lily sudah tidak sabar ingin bertemu dengan baby cantik, cantik banget ya Mah Bu baby nya", heboh Lily.
Pas sekali kebetulan Papa Handra juga pulang dari kantornya, tidak tenang beliau berada di kantor juga sebab di sana hanya ada raga doang sedangkan jiwa dan hatinya selalu di cucu kandung pertamanya.
"Ehhh pas sekali kita sampainya ya", ucap Papa Handra pada Lily, "Sehat nak?, bahagia kan", khas pelukan seorang Ayah dan bertanya bagaimana kabarnya".
"Lily baik Pah, Papa gimana kabarnya?".
"Akan selalu baik baik saja apalagi melihat istri? anak dan cucu, kuat Papa lomba maraton juga sepertinya", di susul dengan gelak tawanya yang khas.
.
.
.
Happy reading🖤🖤🖤
.
__ADS_1