ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
022.


__ADS_3

Pulang dari kantor Rafael pergi ke rumah Neneknya, sudah dari kemarin dirinya merindukan masakan Nenek.


Entahlah baru membayangkan makan cumi sambal pete saja perutnya sudah keroncongan, padahal tidak suka pete tapi kali ini ingin sekali makan pete.


Mau makan kue pisang buatan Mama Sandra tapi Rafael tidak berani memintanya, sungguh masih takut dan sungkan.


Setelah mengucapkan salam langsung masuk ke dapur, sudah dari pagi dirinya pesan minta di buatkan sore ini baru kesampaian.


"Pelan pelan El aunty juga gak bakalan ngambil", Seli terkekeh melihat Rafael makan seperti 3 hari belum makan.


"Kenapa aunty suka sekali mengganggu orang yang sedang asik makan sih", kesalnya.


"Iya nak jangan di isengin terus", mengelus kepala Rafael.


Deggg,,,, lagi dan lagi rasa bersalah pada Fely menghampirinya, merasakan perlakuan manis dan lembutnya belaian tangan yang seharusnya marah juga padanya, hanya nenek Mirah yang masih perduli padanya dan selalu menanyakan bagaimana kabarnya bahkan Maminya juga seolah tidak perduli bagaimana kehidupannya sampai sekarang.


Sempat merasa prustasi dan ingin bunuh diri Rafael benar benar tersiksa menahan rindu, rasanya sudah cukup orang orang memberinya hukuman, Nenek Mirah datang memberikan semangat dan juga nasehat.


Hidupnya sudah hancur ingin mengulang semuanya dari awal juga sudah terlanjur. Fely benar benar sukses membuatnya gila.


Belum seberapa makan tapi sudah kenyang Rafael manaruh sendok dan garpunya, minum 1 gelas penuh, bukan salah aunty Seli ini memang karena rasa bersalahnya.


"Ehhh kenapa sudah makan nya, El aunty hanya bercanda sorry".


"Ya tidak apa aku hanya merasa kenyang".

__ADS_1


"Masakan Nenek tidak enak ya nak".


"Masakan Nenek selalu enak tidak ada yang bisa mengalahkan, napsu makanku sekarang sedang naik turun Nek", berusaha berkilah.


"Ada puding mau ya, makan pudingnya", mengambilkan puding kesukaan El dimasa kecilnya.


"Kamu kenapa terlihat semakin kurus El?, jangan terlalu memikirkan Fely dia pasti aman, berdo'a tetap sabar", Seli mendekat memeluk keponakannya.


Andai dirinya tau Fely ada di mana sudah pasti memberi tau Rafael, bahkan yang tau Fely di mana hanya Mama dan Papanya saja.


"Yah aku akan sabar sampai kapanpun, aku memang pantas mendapat hukuman ini, sampai matipun aku tidak akan menceraikan Fely dia hanya akan menjadi istriku seumur hidupnya".


"Lanjutkan hidupmu jangan melupakan makan dan minum jangan meninggalkan 5 waktu kamu".


"Iya aunty aku pamit pulang".


Mengangguk lalu berjalan mendekat pada Neneknya, "Nek El pamit ya, terimakasih buat semuanya", memeluk wanita berumur itu.


"Hati hati ya, ini bawa jangan lupa di makan, cuminya mau di bawa?".


"Tidak nek sudah cukup ini saja".


Berkali kali mengucapkan terimakasih, Rafael pamit pulang ke apartemennya lagi, menikmati kesunyian dan kesendirian.


Setelah mandi melanjutkan pekerjaannya lagi yang masih oleng karena sempat hilang data perusahaan nya.

__ADS_1


Rafael tau Papa Pandi yang melakukan itu semua, perotes juga tidak bisa bahkan masih beruntung dirinya tidak kangsung di bunuh juga.


.


.


Sedangkan di tempat lain Mama Sandra dan Papa Pandi sedang ngobrol berdua di dalam kamarnya.


"Sepertinya Rafael yang ngidam ya pah".


"Baguslah agar Fely tidak terlalu tersiksa", calon kakek itu tersenyum, sempat kaget mendengar anaknya hamil, ya mau gimana lagi salah dirinya sendiri mengijinkan menikah di masa muda.


"Fely bilangnya akan pulang setelah melahirkan saja, sempat menanyakan kabar Rafael juga tadi".


"Dirinya yang tidak mau pulang dirinya yang menahan rindu juga, anak muda sekarang memang aneh".


"Hahaa sama kaya kamu dulu kan, sok sokan mengijinkan pergi padahal nyiksa diri sendiri".


Pandi terkekeh ada benarnya juga ucapan istrinya itu, kalau ego dan gengsi yang besar ya akan seperti itu jadinya.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2