ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
02. Pelulusan sekolah


__ADS_3

Setelah smuanya sudah rapih untuk berangkat menuju acara pelulusan Sekolah Pandi.


"Sudah rapih kan kita semuanya?, ayo berangkat nanti takut kesiangan", ucap Pak Medi.


"Iya sudah Pak, Pandi, Seli ayo kita berangkat", ajak Bu Mirah.


Pak medi dan Bu Mirah menggunakan motor tuanya. Pandi dan Seli menggunakan motor yang di beli Pandi 1 tahun yang lalu, meskipun tidak begitu bagus seperti punya orang orang namun Pandi sangat mensyukurinya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit mereka sampai dengan selamat.


Johan yang melihat keluarga Pandi datang menggunakan motor tua dan Pandi menggunakan jas yang sedikit lusuh langsung mengejeknya,


"Sepet banget mata gue pagi pagi melihat pemandangan seperti ini. Udah pake motor tua jas lusuh lagi", hahahahaa tawa jahat Johan.


Pandi tidak menghirawkan ejekan dari Johan, dia sudah kebal dengan ejekan ejekan dari sepupunya maupun Pakde dan Budenya itu,


Bagi Pandi yang penting dia tidak minta makan pada mereka.


Iya Johan bersama keluarganya itu menggunakan mobil, meskipun bukan mobil keluaran terbaru, dan dia menggunakan jas baru yang baru di beli kemarin, meski belinya di pasar dan harganya tidak lebih dari 3 ratus ribu.


Bu Mirah dan Pak Medi yang melihat dan mendengar semua ejekan yang keluar dari mulut kakak dan keponakannya sendiri, mereka merasa sedih.


"Ibu dan Bapak tidak usah merasa sedih, kita tidak pernah minta makan sama mereka, kita bisa berdiri di kaki kita sendiri, kita juga tidak mengandalkan harta warisan dari nenek kakek".


Ya Pandi sekolah di sini juga karena dia mendapatkan beasiswa. Dari SD juga Pandi selalu mendapat juara 1. setiap ada perlombaan yang di ikutinya selalu mendapatkan juara.


Semua sudah masuk gedung itu, Pandi mengisi beberapa penampilan di acara itu. Kini saatnya pengumuman kelulusan.

__ADS_1


Satu persatu sudah mulai di panggil.


Pandi kali ini mendapatkan juara umum lagi, dan dia mendapatkan beasiswa di salah satu kampus ternama yang ada di Jakarta.


Bu Mirah Pak Medi dan Seli menangis terharu mereka berpelukan bertiga.


"Alhamdulillah bu anak kita bisa kuliah di kota tanpa biyaya lagi", ucap pak Medi dengan haru.


Ya karena pengumuman tadi menjelaskan bahwa selama melanjutkan pendidikan sampai dengan selesai biyaya sudah di tanggung oleh pihak sekolah.


"Iya pak, Pandi anak kita pak, Masya Allah Alhamdulillah pak". Ucap Bu mirah.


"Halah begitu doang bangga sampe nangis nangis", sinis Bude Santi yang melewati mereka bertiga.


"Namanya juga orang miskin bu, ya begitulah", Pakde Heru menimpali.


Pandi setelah selesai dengan penampilannya di panggung langsung turun mencari Ibu Bapak dan adiknya.


"Pak, Bu, dek Alhamdulillah Pandi mendapatkan beasiswa ini, Pandi akan gunakan kesempatan ini sebaik baiknya, Do'akan Pandi terus ya", dari tadi Pandi menahan tangis haru nya.


Banyak yang mengucapkan selamat banyak juga yang menatap sinis keluarga mereka.


Para guru pun pada mengucapkan selamat kepada Pandi dan keluarganya, banyak nasehat dari guru guru yang menyayangi Pandi.


Setelah mengucapkan Terimakasih kepada para dwan guru Pandi dan keluarga pamit pulang. Acara pun sudah selesai.


Sampai rumah, Pak Medi di buat tercengang karena melihat kebun pohon pisang yang sedang berbuah di pinggir rumahnya sudah di babal habis.

__ADS_1


"Ya Allah Bu pohon pisang kita", tangis pak Medi pecah.


Bu Mirah juga menangis, kenapa ada orang setega itu padahal dia tidak pernah menyentil atawpun mengganggu kehidupan orang lain.


Pikir Bu Mirah.


Padahal pohon pisang yang sedang berbuah itu salah satu mata pencharian keuangan mereka.


Sangat di sayangkan karena buahnya masih tanggung belum bisa di jual.


Pandi yang melihat Ibu dan Bapaknya menangis seperti itu, rasanya dia ingin membunuh orang yang sudah tega membuat hancur perasaan keluarganya.


Aku berjanji Bu Pak akan menjadi orang sukses, akan membahagiakan kalian, akan membalas perbuatan menyakitkan dari mereka.


Bahkan urat urat di tangan Pandi sangat terlihat jelas saking geram marah benci bercampur aduk dalam dirinya.


Sakit hancur perasaan seorang anak melihat kedua orang tuanya menangis karena perbuatan manusia biadab.


Ya itu sudah pasti perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab.


Seli yang melihat abangnya seperti itu dia langsung memeluk Pandi.


"Bang tahan emosi ya, aku tau ini sangat menyakitkan buat kita, namun ini sudah takdir keluarga kita bang, kita harus sabar".


Masuk ke rumah sederhana itu mereka berempat menangis berpelukan.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa like nya, bantu karya Utor ya😘 Terimakasih❤❤❤


__ADS_2