
5 tahun lebih tidak pernah datang dan mengunjungi negara kelahiran sendiri membuat Rafael merasa panggling dengan keadaan negara ini yang banyak sekali kemajuan dan perubahannya.
Bingung mau pulang kemana, apartemennya pasti berantakan sebab pas dirinya tinggalkan boro boro memikirkan orang untuk mengurus salah satu huniannya, mungkin kantor juga jika tidak mengingat ratusan orang bahkan ribuan karyawan ada di tangannya Rafael biarkan begitu saja.
Tidak ada yang mengenalinya, hanya saja cara pandang orang orang kepadanya seperti kucing siap menyantap ikan segar.
Tidak terlihat seperti Rafael lagi di dalam raga itu, yang terlihat hanya peria matang maco tampan dan terlihat manis dengan kumis tipisnya meskipun memakai kacamata.
Setelah menaruh 2 koper yang dirinya bawa Rafael keluar lagi dari salah satu hotel yang akan dirinya sewa dalam beberapa hari kedepan, yang pertama datang ke kantor, kedua mengunjungi pusaran Papi nya, ketiga menemui anak nya dan menyelesaikan yang harus iya selesaikan.
Masuk ke dalam kantor benar benar karyawannya tidak mengenali sama sekali bahkan resepsionis juga bertanya ada perlu apa?.
"Ada yang bisa saya bantu pak?", ucap sang resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan pimpinnan perusahaan ini".
"Mohon maaf pak, bos kami sedang berada di luar, yang ada di kantor untuk sementara ini hanya ada pak Randa tangan kannan nya bos kami", dengan jujur.
Rafael tersenyum, Randa sangat jujur dan bisa di andalkan, tidak memanfaatkan kesempatan emas selama ini.
"Kau tidak mengenali saya Rita", Rafael membuka kacamatanya tersenyum tipis.
Rita menjerit kaget, untung dirinya tidak membuat kesalahan pada orang ini, Rafael walawpun tegas dan kejam tapi sangat baik pada karyawan dan juga tergantung karyawannya.
"Bapakkkkk astagfirullohalazim saya kaget, pantas suaranya tidak asing", Rita menjerit senang akhirnya setelah 5 tahun lebih kini bos nya kembali lagi dengan penampilan yang sangat jauh berbeda.
"Jangan teriak Rita ini kantor", Rafael terkekeh, Rita anak yang baik sopan dan ramah juga jujur jadi lumayan dekat dengan Rafael.
"Kaget saya terharu", Rita mengusap lelehan air matanya.
Semua karyawan yang ada dan melihat juga tidak kalah terharu mereka berkumpul dan mengucapkan selamat datang kembali pada bos besar mereka.
__ADS_1
"Saya mohon sama kalian semua tolong tutup mulut dan jaga jari kalian kalau saya sudah kembali, terimakasih atas kerja sama kalian selama ini", memberikan sedikit senyuman pada semua karyawannya.
Mereka sangat terharu dan juga merasa aneh, pak Rafael banyak bicara dan tersenyum juga bicaranya sangat lembut.
"Terimakasih, saya ke atas ya", langsung meninggalkan kerumunnan karyawan yang ada di lantai dasar, untung ini jam kerja jadi yang keluar itu hanya yang mendengar teriakan Rita saja.
Sampai lantai 9 Rafael mengetuk pintu ruangan Randa, sampai ada sautan dan perintah masuk dari dalam.
"Assalamualaikum", huwaaaa pertamakalinya Rafael mengucapkan salam pada Randa.
Randa yang mendengar suara yang sangat dirinya kenali langsung menatap pada orang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Pak Rafael", ucapnya tertegun.
Sejujurnya Randa sangat merindukan Rafael, meskipun sering membuatnya kelimpungan karena pekerjaan tapi Rafael sudah begitu baik kepadanya dan keluarganya.
"Iya saya Ran, bagaimana kabarmu?".
Dirinya sangat perihatin ikut sedih ikut tersiksa memikirkan kehidupan bosnya yang berantakan hanya karena 1 kesalahan.
"Saya merindukan anda pak", Randa mengusap air matanya sambil terkekeh.
"Hai kau laki laki mengapa menjadi cengeng sekali", Rafael juga terkekeh memeluk asistennya lagi.
"Darimana saja?", Randa memberikan kursi agar bosnya bisa duduk.
"Seperti yang saya bilang dulu menenangkan diri".
"Haihh sudah jangan pergi lagi bisa gila saya memikirkan semuanya, saya bukan orang pintar seperti anda pak".
"Bisa tidak Ran jika sedang berdua seperti ini ubah cara bicara kita, kita bikin persaudaraan, kau mau kan menjadi saudara saya, saya sudah tidak punya siapa siapa Ran.
__ADS_1
"Dengan senang hati pak, tapi saya menyebut anda apa hahahaa lebih bagus mungkin Abang ya".
"Senyamanmu saja".
Haihhh Randa benar benar merasa seperti mimpi, "Ahhh saya tidak mimpi kan", terkekeh lagi.
Rafael menyentil kening Randa, mereka berdua sukses tertawa dan berpelukan lagi, percis seperti sepasang kekasih yang setelah sekian lama berpisah dan kini bertemu lagi.
"Istirahat dulu sana ruangan selalu bersih dan tetap aman".
"Terimakasih adik bertemu besar hahahaa", Rafael menepuk pundak Randa.
"Bayaran harus 2x lipat sih".
"Hahahaa mau di ambil sebagian perusahaan juga silahkan dik".
"Saya tidak butuh itu bang asal anda tidak pergi lagi sudah cukup untuk saya".
Keluar dari ruangan Randa senyum Rafael tidak luntur sedikitpun, baru bertemu Randa saja hatinya sebahagia ini apalagi sudah bertemu Dava, batinnya.
Meskipun tidak tau bagaimana nanti Dava menerimakah atau membenci dan tidak ingin mendekat padanya.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1