ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
009. TTN


__ADS_3

Fely bangun pagi seperti biasanya, bahkan dirinya sekarang sebelum jam 5 sudah bangun karena sebelum berangkat sekolah rumah harus bersih dan masak untuk sarapan juga.


Jika di tanya capek ya sangat capek namun Fely lebih ke ikhlas sebab selama ini hidupnya sudah senang dan selalu bahagia.


Selesai mandi dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang umat muslim Fely bergegas memegang sapu kain pel dan lap meja juga lemari, jam 6 barulah bisa masak langsung sarapan jam 7 berangkat sekolah, selalu dan selalu seperti itu rutinitas Fely, bukan lagi pulang sekolah ke kafe nya untuk bekerja.


Sebelum berangkat seperti biasanya Fely selalu ijin ke Rafael meskipun tidak pernah di anggap.


"Kak aku berangkat sekolah dulu ya", beberapa kali mengetuk pintu kamar suaminya.


Ternyata Rafael tidak ada di kamar, pas baru saja membuka pintu baru pulang dari luar, Fely menggeleng berarti Rafael tadi malam tidak pulang, batinnya.


"Darimana kak?, baru pulang dari tadi malam?".


"Ya", saut Rafael acuh.


"Astagfirillohalazim kak", hanya itu yang keluar dari mulut Fely, aneh tidur dimana Rafael, semalaman kemana saja, tidak mungkin pulang pergi Surabaya ke rumah Mami Lily kan.


"Kenapa keberatan silahkan gugat cerai apa susahnya".


"Maksudnya?", Fely menatap nanar pada peria yang baru seminggu lebih ini menikahinya.

__ADS_1


"Ya kalau kau keberatan silahkan gugat cerai sana, saya rasa kau tau dimana pengadilan agama bukan".


Tidak mau lebih banyak mendengar kata kata dari Rafael Fely memilih pergi berangkat sekolah, hatinya sakit hancur, apa maksud Rafael berarti ingin pisah ingin cerai, bagaimana nasibku yang baru kelas 2 SMA sudah menyandang gelar janda, air mata Fely tidak bisa iya bendung lagi.


Kali ini kata kata Rafael sangat menyakitkan, kalau saja tidak ujian akhir mungkin Fely akan membolos sekolah.


Bahkan sampai di kelas juga banyak melamun, sorot mata menanndakan sedang menyimpan banyak luka.


"Fely lo kenapa?, lo lagi ada masalah apa?, ayo cerita ke gue", ucap Nina.


"Hemmm hehee gak apa apa Nin".


Pandai sekali Fely menyimpan lukanya sedalam ini.


"Nanti gue bakal ceritain ke elu ya", Fely tersenyum pada Nina.


Tak lama gurunya masuk kelas dan mereka semua memulai ujian sekolahnya, berusaha untuk pokus pada materi pertanyaan dan pilihan jawaban soal yang ada di kertas, beberapa kali Fely memejamkan mata dan mengusap wajah meminta ketenangan dan pokusnya.


Selesai ujian Fely dan Nina langsung ke kafe, pupus sudah harapan Fely ingin bertemmu dengan Mama Papa dan kedua adiknya.


Kerja seperti biasa memeriksa laporan keuangan mendata bahan yang di butuhkan dan membelinya, mencari ide apa lagi yang perlu di tambahkan yang anak muda gemari sekarang.

__ADS_1


"Fely lo belum makan siang ya?", ucap Nina.


"Ehhh iya Nin lupa gue".


"Nih makan dulu, lo lagi mikirin apa sih?".


"Nanti kalau sudah selesai makan dan kerja gue bakal cerita ke elo ya Nin".


"Oke gue tunggu, tapi gue gak suka elo yang sekarang banyak melamun banyak lupa, makan juga di nanti nanti".


"Uluhhh manisnya cabat guehhh hahahaaa".


"Basi lo".


Bwahahahaaa mereka berdua tertawa, memang sebenarnya Nina lebih cerewet dari Fely sehingga mereka bisa akrab dan akur, cerewetnya Nina lebih ke seperti komedian jika sudah kumat.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2