
Pandi berjalan keluar dari ruangan itu dengan sempoyongan.
"Pan gila lu ya, ayo cepetan ke rumah sakit", Renaldi langsung memapah Pandi untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Shitt sakit juga ternyata", monolognya.
"Kenapa lu lama banget kirim pesannya, gue mana tau lu gimana di dalam tadi".
"Udah jangan ngoceh terus Ren".
Tak lama mereka sampai ke rumah sakit, Pandi langsung di tangani oleh dokter.
Untung saja tidak sampai kehabisan darah meskipun banyak sekali darahnya yang keluar dan hampir tidak sadarkan diri.
Luka di bagian perutnya lumayan besar sehingga dokter dengan cepat melakukan tindakan oprasi.
Ini kali pertama Pandi di oprasi, bahkan orang rumah tidak ada yang tau satupun, Renaldi terus saja mondar mandir di depan ruangan itu, ponselnya terus bergetar dari tadi Sandra terus saja menelponnya.
Hiyaaa gue harus gimana ini, ucapnya panik sendiri.
Untung tidak memerlukan waktu yang lama dan Pandi cepat di pindahkan ke ruang perawatan.
Renaldi hanya bisa mengirimkan pesan pada Sandra bahwa mereka sedang meeting dengan client penting karena itulah memakan waktu yang sangat lama.
.
__ADS_1
Sandra masih belum puas dengan jawaban Renaldi, suaminya tidak pernah seperti ini, bahkan selalu menomersatukan dirinya mau sesibuk apapun Pandi pasti menghubunginya.
"Sayang ko nangis sih, kenapa?", tumben Fely juga menangis di kala Sandra sedang tidak enak perasaannya.
Fely malah semakin kencang nangisnya.
"Heii kenapa cucu Oma sayang, tumben nangisnya kenceng banget, kenapa nak?", Mama Selina juga ikut panik dan bingung.
"Gak tau mah, padahal tadi dia anteng anteng aja tidur tiba tiba nangis kenceng sekaligus".
"Popok gak basah kan, kenapa sayang ayo Oma gendong yuk, uhhh sayangnya Oma ya", menggendong Fely membawa jalan, namun bayi itu masih tetap nangis.
Bahkan orang rumah juga ikut menggendong berusaha menenangkan Fely.
Pikiran Sandra semakin kemana mana melihat Fely menangis kencang, ini kali pertama Fely menangis kencang dan lama juga.
.
"Pan gimana sekarang", tanya Renaldi.
Di antara semuanya Renaldilah yang lebih panik, bukan hanya Sandra yang menlpon nya, Mama Selina dan bu Mirah juga sampai terus menlpon dirinya dari tadi, sedangkan Pandi di ruang oprasi lebih dari 30 menit tadi.
"Yah gue baik baik aja, ponsel gue mana Ren, Sandra sudah pasti terus menghubungiku", berusaha mencari posisi senyaman mungkin, tidak mungkin dirinya langsung duduk.
"Mama sama Ibu juga terus saja menghubungiku Pan, pusing gue sumpah mana lu gak keluar luar dari ruang oprasi sadarnya juga lama".
__ADS_1
Pandi tidak mengindahkan ucapan Renaldi dirinya memilih menghubungi istrinya secepat mungkin, sudah lebih dari 5 jam tidak memberi kabar pasti Sandra mencemaskannya.
Benar saja setelah panggilannya terhubung, suara Sandra di ujung sana sudah seperti petasan banting yang terus merepet kemana mana.
Pandi terus saja berusaha mencari alasan yang masuk akal agar istrinya percaya, dan besok dirinya baru akan pulang ke rumah.
Panggilan terputus Pandi baru bisa bernapas lega.
"Gila istri lu emang susah di bohongi Pan", ucap Renaldi, dirinya juga tadi sampai di ancam tidak akan di anggap saudara lagi.
"Adik lu juga kalau lu ingat".
"Untung gue sayang kalau nggak sudah gue masukin ke karung dan buang ke laut".
"Kurang ajar lu", Pandi mendelik tajam.
"Ingat jangan marah marah baru juga lu sadar".
Cih Pandi berdecih, "Cepat panggilkan dokter Ren, kapan gue bisa pulang kalau bisa sore ini juga kita langsung pulang gue sudah gak apa apa ini".
Renaldi melongo menatap Pandi, bagai punya 10 nyawa baru juga sadar habis oprasi sudah minta pulang.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading🖤🖤🖤