
Membawa motor dengan santai membelah jalan dikala malam, jalan kali ini lumayan lancar tidak ada kemacetan karena jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam.
Hatinya yang sedang bahagia, Pandi di sepanjang jalan terus memancarkan wajah bahagia dan senyuman yang mengembang.
Benar kata pepatah akan ada pelangi setelah hujan badai, yang menjadi pokok pertama itu kita harus menerima jalan takdir kehidupan kita, harus ikhlas dan tetap berdo'a.
Sampai ke kontrakan Pandi memasukan motornya, Renaldi sudah ada di depan kontrakan nya.
"Wihhh motor baru brow?, keren sih makin yes aja elu Pan". Decak Renaldi merasa kagum juga bangga pada sahabatnya itu, karena setelah bertemu dengan Pandi hidupnya juga mulai tertata rapih.
"iya Alhamdulillah Ren, yang penting kita harus kerja keras dan di iringi dengan Do'a", Pandi menepuk pundak sahabatnya.
"Sumpah gue bangga sama elu Pan, Do'ain gue juga ya Pan kapan kapan gue bisa kebeli kaya elu".
"Pasti dong, kuliah yang benar kita sama sama belajar berusaha dan berdo'a".
Pandi menyeret Renaldi untuk masuk kedalam kontakannya, ya biasanya Renaldi belajar dan bertanya tanya tentang perkuliahan bagai mana, dia benar benar manut sama Pandi, apapun yang Pandi ajarin dia terima dengan baik, merasa nyaman mempunyai sahabat seperti Pandi, hidup yang awalnya memberandal bahkan sering minum, kini sudah mulai tertata rapih bahkan sering melaksanakan 5 waktunya.
Nyatanya hidup seperti sekarang dia merasa nyaman dan bahagia. Renaldi yang menjadi korban ke egoisan orang tuanya, kurang kasih sayang dan perhatian itu yang menjadikan dia hilang arah tujuan hidup, setelah bertemu Pandi kini hidupnya terasa damai.
Setelah beres menerangkan tentang perkuliahan dan sedikit pembelajaran pada Renaldi, Pandi baru mengingat bahwa dia melupakan sesuatu.
__ADS_1
"Allahu Akbar, gue lupa", Pandi mencari ponselnya, dan benar saja, sudah lebih 30x panggilan masuk, pesan pun sudah 17 pesan. Pandi mengerutuki dirinya sendiri, bisa bisanya dia lupa. Buru buru menekan panggilan ke nomer baru itu, karena dia sudah yakin itu Mama Selina.
"Assalamualaikum Ma", awww Pandi langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, badass meledak emak emak kalau sudah marah suaranya naik 5 oktap.
"Ya Allahhhh, baru tlpon, lupa ya kalau punya Mama, mana mungkin di jalan sampai 2 jam, kemana saja", tanya Mama Selina dengan nada tinggi. Papa Handra yang ada di samping nya juga menutup kuping.
"Iya Maaf Ma, Maaf Pandi lupa tadi pas sampai Pandi langsung belajar", Pandi mengerutuki diri sendiri, bodoh sangat bodoh bisa bisanya dia lupa, padahal tadi sebelum pulang sudah di ceramahin panjang lebar.
"Kali ini Mama Maafin, besok besok jangan di ulangin lagi, laporan sama Mama setiap hari", Mama Selina entah lah sejak pandangan pertama merasa jatuh cinta pada anak satu ini, merasa senang mempunyai anak laki laki meski bukan dari rahimnya sendiri, dia yang tidak bisa punya anak lagi karena ada salah satu penyakit yang terpaksa rahim nya harus di angkat.
"Siap Ma, Maafin Pandi ya", ucap Pandi lagi, merasa bersalah dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Jangan repot repot Ma, takut Mama capek", bukan tidak mau namun Pandi juga harus tau diri dia siapa, sudah di aku anak saja Pandi merasa bahagia.
"Mama gak akan capek buat anak Mama sendiri", yaudah Mama tutup tlpon nya Assalamualaikum.
"Iya Ma walaikum salam", Huwhhh Pandi membuang napas dengan kasar, untung saja Renaldi sudah balik ke kontrakan nya, kalau tidak dia pasti kepo.
...****************...
Di sebrang sana Papa Handra menggelengkan kepala terus, melihat tingkah istrinya yang posesif terhadap anak angkatnya, namun dalam lubuk hati yang terdalam nya juga dia merasa sangat bahagia.
__ADS_1
"Anak nya jangan terlalu di kekang Ma, takutnya Pandi merasa tidak nyaman", ucap Papa Handra, sukses membuat Mama Selina menangis.
"Entahlah Pa Mama merasa sayang sekali sama anak itu, Mama tidak mau kehilangan dia, kita jodohin aja yuk Pa sama Sandra, Mama takut Pandi menjauh dari kita".
"Heiii sayang kita jangan memaksanya, kita cukup berikan kasih sayang kita padanya, takutnya jika kita memaksanya dia malah menjauh dari kita, kita harus membuat dia nyaman ada di dekat kita", ucap Papa Handra panjang kali lebar.
"Iya Pa, besok Mama mau ketemu Pandi lagi Mama mau ngobrol dari hati ke hati dengannya, Papa tidak keberatan kan?".
"Oke besok Mama ikut ke kantor bersama Papa", daripada ada banyak derama lagi mending Papa Handra langsung mengiyakan kemauan istrinya.
"Iya Pa, Mama mau ikut besok", ucapnya lagi dengan senang.
•
•
•
❤❤❤
jangan lupa like ya😘 Terimakasih🙏🙏
__ADS_1