
Pandi sudah siap siap untuk berangkat ke kantor, namun entah mengapa sekarang rasanya malas tidak seperti dulu dan kemarin kemarin yang sangat betah di sana.
"Kenapa mukanya lesu?", tanya Sandra, iya merasa heran karena Pandi yang sekarang tidak gerudak geruduk mencari barang dan selalu mengucapkan nanti telat sampai kantor.
"Aku merasa malas buat pergi ke kantor", duduk lagi di kasur dekat dengan ranjang bayi, menatap anaknya dengan muka lesu.
"Heii sejak kapan kamu malas ke kantor?", tanya nya lagi sambil terkekeh.
Pandi tak menyahut malah menggendong Fely, lalu mencium badan anak nya, wangi khas bayi menyeruak ke indra penciumannya.
Sandra hanya menggeleng melihat itu, ck dirinya tersisihkan sekarang.
"Pah udah dong itu anak nya masih tidur", mengelus punggung suaminya.
"Berat banget ninggalin kalian di rumah", ucapnya sambil terus menciumi baby Fely.
"Heii sore juga pulang lagi kan bakalan ketemu, liat itu jam sudah hampir jam 8 loh".
"Iya mah iya, nanti ya nak Papa berangkat kantor dulu", menaruh anaknya ke tempat tidurnya lagi dengan hati hati.
"Iya Papa semangat kerjanya", Sandra menirukan suara anak kecil.
"Sayang aku kerja dulu ya", bisiknya di telinga sang istri.
Pandi memanpaatkan kesempatan dia mencium bibir istrinya, akhh sudah 5 hari dia tidak merasakan penyatuan bibir itu, Pandi semakin memperdalam ciumannya.
Kalau sudah seperti ini bisa gawat takurnya bablas, batin Sandra, lalu berusaha melepaskan ciuman yang sudah semakin memanas itu.
"Pah udah ya takutnya khilap", ucap Sandra sambil ter engah engah setelah pangutan itu terlepas.
__ADS_1
"Maaf sayang aku rindu, hampir saja aku gak bisa ngontrol diri", memeluk erat istrinya lagi.
Mereka bicara berbisik bisik takut terdengar anaknya, karena obrolan mereka tidak bagus untuk di dengar dan di lihat anak anak, meskipun masih bayi belum bisa begitu melihat dan mendengar.
"Iya tidak apa apa, yaudah berangkat dulu sana".
Dengan langkah gontai Pandi keluar dari kamarnya, kakinya melangkah juga rasanya berat.
Mama Selina dan Bu Mirah sedang di ruang tengah bersama kedua anak Lily.
"Lohh nak belum berangkat ke kantor?", heran sang Ibu.
"Iya ini baru mau berangkat Bu", ucapnya berusaha memberikan senyuman pada wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya.
"Kirain Mama sudah pergi, mangkanya kata Mama tumben pergi gak pamit dulu ternyata gak mau jauh jauh dari anaknya", ucap Mama Selina sambil terkekeh.
Pandi hanya bisa tersenyum ya memang begitulah keadaan nya sekarang, rasanya berat melangkah juga.
Kedua wanita baya itu mengangguk iya sambil mengucap hati hati di jalannya.
"Rafa Isel Om kerja dulu ya, ingat harus nurut sama Mami, Rafa juga belajar yang benar ya nanti sekolahnya, maaf Om gak bisa anterin kalian ke bandara karena ada metting siang ini, hati hati di jalan", pamit Pandi dan memberikan pesan pada dua keponakannya.
"Iya Om", ucap Misel dan Rafael serentak.
.
.
Sampai kantor benar benar dirinya telat mungkin jika bukan bos sudah kena omelan, berhubung bos jadinya sedikit santai.
__ADS_1
Semua karyawan menyambutnya dengan senyuman dan sedikit menunduk tanda hormat.
"Pagi bos", ucap Renaldi yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Ya pagi, Ren ke ruanganku sekarang".
"Siap tunggu sebentar aku ke mbak Hera dulu nganterin ini", Renaldi mengacungkan kertas yang iya bawa dan Pandi mengangguk iya.
"Mbak ini data yang mbak minta ya", langsung menaruh kertas itu di meja mbak Hera dirinya berjalan lagi menuju ruangan Pandi.
"Ren, bapak masuk ya", tanya mbak Hera sang sekertaris, bos nya sekarang sangat susah di hubungi, tadi dirinya sempat mengetuk pintu ke ruangan itu nyatanya kosong tidak ada orang di dalam.
"Iya ini aku mau ke ruangannya sekarang, mbak ada perlu?".
"Bawain ini Ren, sumpah bapak sekarang susah di hubungi", mbah Hera tertawa sambil memberikan 3 kertas ke Renaldi.
"Maklum new bapak bapak mbak", jadinya mereka berdua tertawa.
Pandi tadi tidak jadi masuk malah dirinya juga mengekori Renaldi untuk ke ruangan mbak Hera, "Di sini di gaji untuk kerja bukan untuk menggosipkan saya", ucap Pandi dengan dingin.
"Iya maaf bos", mbak Hera dan Renaldi menunduk, jika sedang di jam kerja mereka selalu berusaha profesional.
"Sudahlah masuk ke ruanganku sekarang", bak anak ayam yang mengekori ibunya dua manusia itu mengikuti Pandi dari belakang.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading๐๐๐