
Hari ini rencana mereka akan ziarah ke kuburnya Pak Medi, Kak Lily juga sudah ada dan mau ikut, kebahagiaan nya sekarang iyalah keluarga barunya, meskipun sibuk dengan semua pekerjaan nya untuk kurang lebih 4 hari ini dia akan menghabiskan waktu dan berkumpun dengan orang tua barunya.
Pandi sudah menahan tangis dari sejak tadi malam, entahlah jika berkaitan tentang Bapaknya Pandi selalu sedih, tangisnya tidak pernah terlihat oleh siapapun.
1 truck sembako dan kue juga uang sudah Pandi siapkan untuk di bagikan di kampung halamannya nanti.
2 mobil yang mereka tumpangi dan 1 truck gede yang mereka ikuti juga, di sepanjang jalan Pandi sesekali menunduk dan melihat ke arah samping jalannan.
Ada rasa bahagia dan sedih yang bercampur menyeruak ke dalam rongga dadanya, untuk hari ini lebih ke rasa sedih yang berdominnan memenuhi relung hatinya.
Sampai sana mereka langsung turun dan masuk ke pemakaman umum itu, setelah membersihkan rumput rumput liar semuanya langsung berdo'a, selesai berdo'a yang lainnya meninggalkan Pandi dan Sandra memberikan ruang untuk mereka berdua.
"Pak sudah tidak sakit sudah tidak sedih lagi ya, Bapak sudah bahagia dan tenang sekarang ya", ucap Pandi, airmatanya lolos tak tertahan, badannya bergetar tanpa suara.
Sandra tau apa yang Pandi rasakan sekarang, sebagai anak laki laki yang di harapkan dan sudah berjuang mati matian namun hasilnya tidak di nikmati langsung juga bareng bareng, hanya bisa mengusap punggung kokoh yang sedang bergetar itu dia juga ikut menangis.
__ADS_1
"Pak Pandi kesini bawa calon istri loh", ucapnya tersenyum, "Pandi sudah buktiin kan ke Bapak kalau Pandi bisa punya istri cantik hahaa, punya rumah dan mobil sendiri", Pandi terdiam lagi badannya semakin bergetar mengingat obrolannya di masa kecil dengan sang Ayah bahwa Pandi kalau sudah besar akan punya rumah besar punya mobil banyak punya istri cantik juga pintar, ucapan konyol emang ucapan anak umur 9 tahun yang ngelantur, padahal masih bau kencur.
"Kenalin pak dia namanya Sandra dia cantik kan pak dia juga baik meskipun aku sering membuatnya marah dan sebal, tapi dia tetap mencintaiku dan bertahan sampe sekarang, kata bapak dulu bapak butuh bukti dengan ucapanku, ini aku sudah buktikan ya hahahaa".
"Satu lagi pak aku sudah punya hotel impianku, hotelku lebih bagus dari yang dulu kita lihat dari gambar yang ada di kertas doang, gak apa apa ya pak aku menyombongkan diri ke bapak, ahh aku jadi rindu jitakan bapak kalau aku berkhayal terlalu jauh hahaa, tapi kali ini bukan khayalan ini kenyataan anak kebanggaan bapak hebat kan", setelah mengeluarkan unek unek yang selama ini iya pandam Pandi bergeser.
Sandra juga mulai bicara dengan tumpukan tanah itu, "Haii pak hehee kenalin ini Sandra ya, andai kita bisa kenalan secara langsung ya pak Sandra akan sangat bangga mempunyai mertua hebat seperti bapak, tapi Allah lebih sayang ke bapak", tersenyum dengan air mata yang deras, "Bapak pasti bangga banget ya melihat anak bapak yang sekarang sudah sukses, Terimakasih sudah mendidiknya dengan baik pak sehingga dia sekarang menjadi laki laki yang penuh tanggung jawab dan hebat, Sandra harap bapak merestui anak kesayangan bapak menikah dengan Sandra yang masih kekanak kanakan ini dan banyak maunya juga hehee, Sandra akan berusaha menjadi istri yang baik buat anak bapak, bapak yang tenang dan bahagia di sana ya kami mencintai bapak", mengusap batu nisan.
Sandra mundur dan melihat ke lelaki yang berdiri tegap di belakangnya, "Ternyata bisa ngeluarin air mata juga ya", menggoda Pandi.
Sandra terkekeh, "Kamu udah kan?", tanya nya ke Pandi.
Pandi mengangguk, "Udah yuk pulang kasian yang lain menunggu kita", berjongkok ke batu nisa lagi, "Pandi pulang ya pak, nanti pandi kesini lagi dan cerita lagi ke bapak", ucapnya tersenyum.
Keluar dari pemakaman itu bergandengan tangan, Pandi sudah mulai terlihat biasa lagi dengan muka lempengnya.
__ADS_1
Mereka semua membagikan sembako yang di bawa tadi, riuh bahagia di desa itu sangat antusias, memuji Pandi yang dulu bahkan pernah mereka ejek karena kurus kering dan sedikit dekil.
Johan yang melihat riuh ibu ibu berbondong bondong membawa sekarung beras dan yang lainnya merasa aneh.
Bu Santi yang melihat itu dia juga ikut ikutan datang kesana, dan bertapa kagetnya dia melihat Mbak Mirah iparnya berpenampilan beda, awalnya dia pikir mereka pindah ke kota akan menjadi gelandangan dan pengemis meminta minta di pinggir jalan seperti di sinetron yang sering iya ton ton.
Merasa gengsi walawpun sangat ingin dan sayang dengan kesempatan mendapat beras minyak dan yang lainnya dengan geratis, memilih pulang terburu buru memberi tahu suami dan anaknya.
.
.
.
Happy reading🖤🖤🖤
__ADS_1