ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
007. TTN


__ADS_3

Seminggu berlalu pernikahan Rafael dan Fely, tidak ada perubahan sama sekali dari sikap Rafael yang dingin acuh tak acuh, bahkan 3 hari 3 malam ini Rafael tidak pulang ke apartemen entah kemana.


Malam semakin larut Fely hanya bisa meratapi nasibnya.


Ya Allah aku harus apa harus gimana, Fely sadar memang pernikahan ini terpaksa tapi apa salahnya jika saling ikhlas dan saling menerima.


Meskipun dirinya masih kelas 2 SMA namun Fely berusaha meyakinkan diri kalau pilihan kedua orangtuanya ini tidak salah.


Ctlak jedurrr, terdengar jelas suara pintu di banting dengan keras, Fely langsung bangun dari tidurannya, ini sudah tengah malam tapi siapa yang masuk ke apartemen malam malam begini, apa kak Rafael pulang ya, batinnya.


"Kak kenapa?", setelah Fely pastikan bahwa itu adalah Rafael.


"Jangan mendekat, pergi sana", usir Rafael dengan dingin.


"Kak kenapa, kenapa muka kak Rafael sampai biru biru begitu?", panik Fely.


"Saya bilang pergi, pergi sana kunci pintu kamarmu".


"Iya tapi kak Rafael kenapa?", Fely mendekat memeriksa keadaan muka dan tubuh bebek belur laki laki itu.


Namun Rafael menghindar bahkan mendorong Fely sampai terjungkel ke ujung sopa.

__ADS_1


Laki laki itu dengan terseok seok berjalan ke kamarnya, menutup pintu itu juga dengan keuat.


Ya Allah dia kenapa sih datang datang dalam keadaan bebek belur dan marah marah, batin Fely.


Fely bangun merasakan sedikit nyeri di bokongnya karena terbentur ujung sopa, masuk ke kamarnya dan langsung memilih untuk tidur.


Rasa khawatir dan cemas melanda perasaan nya, "Ayo dong Felyyyyyy sudah jangan mikirin dia terus", hiiiiiiiihh Fely jengkel ke dirinya sendiri yang terus memikirkan bagaimana keadaan Rafael..


.


.


Semalam entah bisa tidur di jam berapa, Fely benar benar merasa cemas dengan keadaan Rafael.


Fely sarapan dengan setengah gelas susu hangat dan satu sandwich, sedangkan untuk Rafael 2 sandwich dan satu gelas teh hangat sudah Fely siapkan.


Selesai sarapan Fely langsung berangkat ke sekolahnya, hari ini ada ujian akhir semester maka dari itu masuk juga lebih pagi dari biasanya.


"Kak aku berangkat sekolah dulu ya, sarapan tuh ada teh hangat dan sandwich di meja", ucap Fely setelah mengetuk pintu kamar Rafael beberapa kali.


Tidak ada jawaban dari dalam sana entah kemana orangnya, mungkin masih tidur atau lagi mandi kali, batin Fely.

__ADS_1


Sampai sekolah Fely dan Nina langsung masuk ke kelas, riuh di dalam kelas karena memikirkan bagaimana mengisi ujian matematika nanti.


"Woyy lo pada sibuk mikirin ngisi matematika gimana, tenang ada new my beautiful wife nih", ucap Gama teman kelas Fely.


"Ohh my otak jenius mommy kelas", ucap Ando lagi.


"Lu berdua kalau gak diam gue sumpel mulutnya pake kaos kaki Morgan", ucap Fely.


Sepersekian detik di dalam 1 kelas itu rame dengan gelak tawa dari mereka semua, sekelas Fely memang akrab semua di antara mereka tidak ada yang namanya membeda bedakan si miskin dan si kaya, mereka saling rangkul dan saling support.


"Nin pulang lansung ke kafe kita ya", ajak Fely pada sahabat sekaligus karyawannya.


"Siap bu bos", ucap Nina dengan hormat,


"Ck jangan sesekali lagi bilang bu bos bu bos, geli gue dengerny juga.


Nina tertawa sampai terbahak bahak, beruntung sekali Nina mempunyai sahabat seperti Fely padahal jika di bandingkan kekayaan bak langit dan bumi, mungkin jika orang lain tidak akan mau bersahabat dengannya, Nina anak rantauan dari kampung bersahabat dengan Fely anak sultan, rasanya tidak bisa iya ungkapkan dengan kata kata.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2