
Tubuh Rafael ambruk di lantai, ucapan Fely benar benar mematahkan segala yang ada pada dirinya, hancur semua harapan dan angan angan nya selama ini.
Fely menyuruhnya untuk keluar tandanya Fely mengusir dirinya secara halus, sesak dada Rafael sesekali memukul dadanya, menatap lantai dengan nanar.
Usaha dan kerja kerasnya untuk menciptakan keluarga utuh dan bahagia ternyata sia sia.
Tidak terdengar tangisan dari laki laki itu hanya air mata yang keluar sambil sesekali menepuk dadanya yang sakit, bodohnya dia dulu menyia nyiakan Fely bodohnya kesadaran datang setelah orangnya menghilang.
Berpegangan ke kursi yang ada di sana untuk menopang bobot tubuhnya, berdiri dan menatap dua nyawa yang sedang berbaring, padahal rindunya sangat menggunung.
Merogoh saku jas nya dan mengambil dompet yang selalu dirinya bawa, mengambil pulpen yang selalu nyempil di saku kemejanya, dengan tangan bergetar Rafael mencoret kertas di sana.
"Maafkan kesalahanku selama Fell", suaranya tercekat, bukan tidak mau mempertahankan semuanya Rafael sadar semua ini terjadi juga atas kesalahannya, mungkin jika bukan karena dirinya yang memulai semua kesalahan tidak akan seperti ini jadinya.
Fely menatap Rafael sekilas.
"Maaf telah menyakiti perasaanmu, maaf sudah mempermainkan sebuah pernikahan, aku akan berhenti berjuang jika kamu yang sudah melarang, kebahagiaanmu lebih dari segalanya".
Rafael mencium kepala anaknya lama, badanya bergetar, "Maafkan Papi yang tidak berguna ini sayang, kebahagiaan kamu dan ibumu lebih dari segalanya buat Papi, Papi akan menjauh dari kalian jika itu yang membuat Ibumu bahagia, kamu anak Papi selamanya akan selalu menjadi anak Papi", ucapannya terjeda, ternyata kejadian ini yang lebih menyakitkan di seumur hidupnya.
__ADS_1
Bergetar mengambil gambar anak bayinya, "Terimakasih nak telah menyadarkan Papi", mencium tangan mungil lagi.
Rafael berjalan ke samping Fely, mengusap air matanya lagi, "Sekali lagi maaf, aku tidak akan menceraikan kamu sampai matipun, aku akan pergi dari kehidupan kamu jika itu yang kamu mau", mengambil tangan Fely menaruh dompetnya.
"Pakai ini semua untuk mencukupi kebutuhannya, aku tau walawpun tidak memakai ini dia akan aman dan terpenuhi hidup bersama kalian, mau bagaimanapun dia anakku meskipun aku tidak merawatnya setidaknya uangku sedikit bisa memenuhi kehidupannya".
"Untuk apa?, pakai saja untukmu".
"Fell plis kali ini saja aku mohon, aku tau kamu sendiri juga bisa memberinya kehidupan yang lebih dari layak, tapi dia juga anakku aku Ayahnya, pakai ini aku akan pergi dari kalian, semua pin nya tanggal bulan dan tahun pernikahan kita, takut kamu lupa aku sudah menarunya di sini".
Batinnya ingin memeluk dan mencurahkan kerinduan yang selama ini dirinya pendam, ingin egois, Rafael bisa membawa Fely dan bayinya pergi Rafael bisa menahan keduanya untuk tetap hidup bersamanya, tapi Rafael juga sadar jika Fely lebih bahagia tidak bersamanya dirinya tidak bisa apa apa, kebahagaiaan Fely lebih dari segalanya, biarlah sakit hancur pedih dirinya tanggung sendiri, memang semua ini buah dari kesalahannya.
"Aku akan pergi dari hidup kalian", mencium tangan Fely lama airmatanya menetes di sana.
"Love you sayang, biarlah cinta dan kerinduan aku bawa dan telan sendiri, kamu dan dia sehat dan harus bahagia".
Mengelus kepala dan menatap Fely meskipun Fely memalingkan wajahnya.
"Aku pergi, jaga diri kalian baik baik", berusaha melangkah dengan cepat meskipun berat, tanpa menoleh lagi ke belakang.
__ADS_1
Di hadapannya sekarang semua keluarga kumpul, tidak banyak kata juga dari Rafael berusaha kuat menyalami semua orang yang ada di sana.
Benar benar dirinya sekarang merasa di asingkan bahkan Ibu kandungnya saja tidak menanyakan bagaimana kabar dirinya sekarang, membuat dada Rafael semakin sesak, hanya Nenek dan Oma nya yang mengelus punggung dirinya.
"Semuanya aku pamit, titip Fely dan anakku, aku tau meskipun aku tidak menitipkan mereka pada kalian, kalian akan menjaganya dengan baik", dadanya semakin bergemuruh.
"Mau kemana nak?", suara Nenek Mirah terdengar jelas sangat lembut, namun rasanya bak hantaman petir karena hanya wanita tua itulah yang bicara padanya.
"Aku pergi Nek, semoga kalian semua di sini selalu bahagia", tidak kuat lagi lama lama di sana setelah mengucapkan kata pamit dan pergi Rafael langsung berjalan cepat, tidak menghiraukan teriakan dari Oma Selina dan Nenek Mirah.
Rasanya sudah terbuang dari keluarga besar ini karena kesalahannya sendiri.
Tidak membawa uang hanya ada ponsel, Rafael mencegat taxi di depan Rumah Sakit itu.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤