ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
98.


__ADS_3

Kadang menjadi manusia pendiam bukan tak pernah punya kemarahan atau tak pernah mempunyai keluhan, menjadi pendiam adalah pilihan, ya lebih pilih diam daripada bicara yang tak ada artinya.


"Ya Allah, Astagfirullohalazim, Kak Renaldi apa tak mendengar dari tadi aku bicara", kesal Seli suaranya lumayan tinggi, merasa jengah sebab dari tadi Seli sudah berkali kali minta pulang sendiri namun kaki laki yang ada di depannya tak merespon sedikitpun hanya tatapan tajam yang lelaki itu tunjukan padanya.


"Bisa tidak jangan teriak teriak ini bukan hutan", ucap Renaldi dengan dingin.


"Kalau kakak tidak menyebalkan aku juga tidak akan teriak teriak".


Renaldi menggelengkan kepala sambil berdecak, "Cek apakah ini yang di ajarkan Ibu padamu, lelaki mana yang membuatmu seperti ini tak ada sopan santunnya".


Jengah malas marah yang ada di dalam diri Seli sekarang, bahkan air matanya sudah mulai keluar, "Salah apa aku sama kak Ren, kenapa kakak sekarang berubah, kenapa kakak sekarang seperti ini, aku mau kak Renaldi yang dulu".


"Renaldi yang dulu sudah hilang, hilang dengan segala sikap dan perilaku juga hatinya", ucap Renaldi lagi.


"Aku mau pulang", Seli segera mendekat ke pintu, namun belum sampai membuka pintu itu tangannya sudah di cekal dengan kuat.


"Mau kemana?, kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini".


"Apa maunya kakak hahh, aku benci kak Ren aku benci kakak", teriak Seli lagi dengan tangisnya yang kencang juga.


"Yah terus bencilah aku terus benci aku, bahkan aku lebih suka jika kau membunuhku juga", teriak Renaldi lagi dengan marah, badannya sudah bergetar air matanya juga sudah keluar deras .


Rasa marah dan benci pada diri sendiri kenapa kenapa harus Seli yang bersemayam di dalam hatinya, kenapa semakin kuat untuk melupakan malah hatinya semakin sakit juga, Renaldi benci dengan posisi seperti ini dia juga merasa tersiksa sangat tersiksa dengan perasaan seperti ini.


"Keluar lah, aku akan mengirimkan pesan pada sopir untuk menjemputmu ke sini", Renaldi membantingkan badannya ke sopa yang ada di sana, sesekali memukul dadanya yang sesak.


"Kak Ren", ucap Seli sambil mendekat pada lelaki yang sedang menangis bertumpu pada sopa.


Renaldi mengirim pesan pada sopir juga hampir tak terlihat karena air matanya yang deras, menangis sejadi jadinya bertumpu pada sopa 18 tahun silam melayang layang lagi dalam otaknya bak benang kusut.


Anak kecil usia 8 tahun korban perceraian dan ke egoisan orang tua, hidupnya kadang merasa di atas dan kadang merasa di bawah selalu tergonjang ganjing karena kedua orang tuanya tak mau mengasuh nya, orang tua yang sama sama gila kerja dia tak pernah di perhatikan, hatinya hancur apalagi setelah di titipkan pada sang nenek, menginjak usia 12 tahun nenek nya juga meninggal seolah tak ada satupun di dunia ini yang perduli padanya, berusaha hidup sendiri dan dengan cara apapun Renaldi mendapat makan bahkan iya sempat mencuri juga saking laper nya.


Usia 15 tahun dirinya di ambil lagi oleh Mama nya, hidup dengan pembantu di rumah mamanya, walau dengan hidup serba ada dan cukup namun pelukan hangat dan kasih sayang dari seorang Ibu tak pernah iya dapat, setelah lulus SMA Renaldi merantau ke kota mencari dan membiyayai kehidupannya sendiri, setelah 2 tahun merantau bersyukur bertemu Pandi dan mulai hidup tertata rapih.


"Kak, maaf", Seli menangis memeluk Renaldi yang sedang menangis juga.


"Jangan perdulikan aku pergilah aku sudah terbiasa hidup sendiri", ucapnya lirih.


"Maaf kak maafkan aku", ucal Seli lagi iya tidak pernah menyangka akan sampai seperti ini jadinya.

__ADS_1


"Kau tak salah, pergilah aku ingin sendiri".


"Tidak mau".


"Pergilah Sel, aku sedang ingin sendiri, jangan seolah peduli padaku", mengusap air matanya dengan kasar, duduk dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sopa.


"Apa kakak membenciku?", tanya Seli masih dengan tangis nya.


"Tidak, aku hanya benci pada diriku sendiri, pergilah aku sudah biasa dan sudah terlatih hidup sendiri, aku tak butuh hanya sekedar di perdulikan karena kasihan sesaat".


"Jangan benci dan jangan menjauh dariku".


"Apa yang harus aku lakukan hah, aku juga tersiksa dengan perasaanku ini, cek hidup selellucon ini emang", Renaldi berdecak dan tertawa sumbang.


"Kenapa kakak mencintaiku?, apa alasannya?", tanya Seli.


"Entah lah aku juga tidak tau, dan untuk alasan menurutku cinta tak memakai alasan, sudah pergilah sana mungkin sopir sudah menunggumu".


"Jika tidak mau".


"Jangan membuatku semakin gila Sel", geram Renaldi, kepalanya semakin nyut nyutan, akhhh sakit kepala yang dulu sering iya alami kini muncul lagi padahal sudah lama tidak kambuh bahkan sudah bertahun tahun.


"Pergilah biarkan aku sendiri Sel plisss, Akhhhh kepalaku", jerit Renaldi karena kepalanya semakin sakit.


"Kak kenapa?", Seli mengambil minum langsung di berikan pada Renaldi.


Renaldi buru buru minum banyak dan langsung menelusupkan kepalanya ke ujung sopa menutup dengan bantal kecil yang ada di sana.


Tak lama iya tertidur, ya penawarnya dari dulu hanya itu, minum yang banyak merileks kan pikiran lalu menelusupkan kepalanya kemana saja menutupi diri sendiri lalu tidur.


Satu jam Seli menunggu tanpa mengganggu, hatinya teriris dan tercubit melihat Renaldi yang seperti ini, nyatanya di balik jail iseng dan kelakuan menyelenehnya ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan.


Satu jam lebih Renaldi tidur, "Mengapa masih di sini?", tanya lelaki itu dengan muka sembab dan merah.


"Gimana masih sakit?, kedokter aja gimana", tanya Seli.


"Gak usah ini sudah biasa bagiku".


Seli memeluk erat Renaldi iya menangis lagi, "Maaf kak maaf aku tidak tau kalau jadinya akan seperti ini, apa kakak selalu seperti ini selalu sakit kepala?".

__ADS_1


"Tidak", jawabnya singkat.


"Jujur kak".


"Ya sudah lama sakit kepalaku tak kambuh".


"Sejak kapan merasa seperti ini".


"Sejak kecil, sejak aku di titipkan pada nenekku, sudah lah kau tak perlu tau itu hal peribadiku, lepaskan pelukanmu".


Seli tak mau melepaskannya malah semakin erat memeluk Renaldi, tak lama Renaldi membalas pelukan hangat dari wanita yang sangat iya cintai, air matanya menetes lagi, rapuh jika tentang Seli dan tentang hati.


"Maaf jika aku sudah membuatmu tertekan dan tak enak hati, sekarang pergilah aku akan mengubur dalam dalam perasaanku dan jangan memintaku untuk seperti dulu lagi karena aku tak bisa, aku akan ikhlas dengan jalan takdir hidupku, terimakasih untuk pelukan pertama dan terakhir ini", Renaldi mengecup kening Seli sangat lama meresapi perasaan nya, menumpahkan cinta pada pemiliknya, dan dia akan berusaha melupakan wanita pemilik kening dan pelukan hangat ini.


"Jangan pergi dan jangan tinggalkan aku, bantu aku melupakan Aldo dan tunggu aku menjelaskan semua ini padanya".


"Jangan memaksakan hatimu aku tak apa apa".


"Jangan membuatku semakin bingbang kak", kesalnya memukul dada lelaki itu lumayan kencang.


"Sakit sayang", geram Renaldi melotot pada wanita yang ada di depan matanya, "Tapi emang gak sesakit melihat kamu dengan lelaki lain sih".


"Cek derama sekali, sudah lah aku ingin pulang", Seli bangkit dari duduknya merasa malas, padahal selama menunggu Renaldi tidur tadi Seli berusaha keras dengan segala pikiran dan hatinya.


"Tunggu dulu sebentar aku ingin cuci muka, aku merasa sangat jelek dengan muka seperti ini".


"Ya emang jelek dari awal".


"Iya yang tanpan hanya anaknya jendral itu", kesalnya langsung melengos pergi ke toilet.


.


.


.


Happy reading🖤🖤🖤


Bab ini penuh dengan cerita Seli dan Renaldi hehee

__ADS_1


__ADS_2