ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
005, TTN


__ADS_3

Setelah mendapat ijin dari kedua orang tuanya dan mendapat ijin dari dua nenek, mereka langsung bergegas pergi ke apartmen.


Sampai apartemen hari sudah sore, Fely merasa sangat lelah, seharusnya ini adalah hari yang sangat menyenangkan karena libur sekolah namun malah kebalik hari ini adalah hari yang sangat menguras tenaga dan kesabarannya.


"Itu kamarmu, ingat kita tidak boleh ada yang ikut campur dengan masalah peribadi masing masing", tekan Rafael.


"Ya terserahmu kak", Fely sudah lelah sudah tidak mau berdebat lagi, dia akan mengikuti bagaimana cara permainnan Rafael.


"Baguslah kalau kau paham".


Fely sadar bahwa ini adalah dosa besar yang harus benar benar iya tanggung, seharusnya punya suami dia patuh dan menyiapkan segala kebutuhan suami begitupun sebaliknya, seorang suami harusnya memberikan napkah lahir batin kesetiaan dan kasih sayang.


Untuk soal masak Insya Allah Fely bisa bahkan membersihkan apartemen yang hanya ada dua kamar satu dapur dan satu ruang tengah dia juga mampuh, biarlah dirinya mengerjakan pekerjaan itu tidak masalah.


Yang sangat Fely pikirkan sekarang mau sampai kapan dirinya dan Rafael pura pura menjadi suami istri di hadapan keluarganya.


Memikirkan itu semua membuat kepala Fely pening.


Fely berusaha masak yang sebisa dia masakan seadanya, tadi dirinya sempat membawa beberapa sayur lauk dan buah dari rumahnya jadilah sekarang bisa iya olah untuk makan malam.


Fely anak yang rajin dan jarang makan atau jajan di luar jadilah dirinya selalu memasak apa yang iya inginkan tanpa memerintah para pelayan yang ada di rumah Papa Pandi.


Selesai masak jam 7 malam Fely bergegàs mengetuk pintu kamar Rafael.

__ADS_1


"Kak bangun, makannan sudah siap di meja silahkan makan duluan ya".


"Makanlah sana sendiri, saya tadi sudah mengatakannya jangan ikut campur urusan peribadi masing masing, paham kan dengan ucapanku", ucap Rafael dengan dingin.


Jantung Fely berdenyut nyeri mendengar penuturan Rafael, "Ya terserah kak", Fely berbalik menuju kamarnya.


Yang Fely maksud bukan seperti ini, waktunya makan ya makan bareng, terserah urusan peribadinya yang lain mah Fely juga tidak akan mengganggunya.


Rasa lapernya telah menghilang setelah mendengar ucapan Rafael tadi, kini rasanya rasa perih yang iya rasa.


Fely bergegas mandi badannya sudah lengket karena tadi masak, namun masakannya jangankan di puji di lirikpun tidak.


Huwhhh miris sekali nasibnya, padahal dari pertamakali datang ke dunia dirinya sudah tajir melintir berkat kerja keras Papanya.


Namun Fely akan ikhlas, ini adalah cobaan dalam hidupnya, cobaan perih bagaimana kerasnya dunia karena selama ini dirinya selalu merasa bahagia dan kesenangan.


Setelah mandi Fely melaksanakan kewajibannya, setelah selesai melaksanakan kewajiban dirinya pergi ke dapur untuk makan.


Hahhh Fely bengong karena Rafael sedang makan juga di meja makan yang ada di dapur sana, yang paling membuat Fely terkejut lagi ternyata Rafael memesan makannan dari luar.


"Makan kak", ucap Fely sebelum dirinya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Hmmm", Rafael membalasnya hanya berdehem.

__ADS_1


Selesai makan Rafael mengeluarkan kartu lalu memberikannya pada Fely.


"Pergunakan dengan baik, terserah kau mau belanja apa dan mau membeli apa, saya akan mengirimkan uang ke nomer ini 2 minggu sekali, jangan khawatir ini juga isinya tidak kalah dari kartu pemberian Papa".


"Simpan saja kak aku tidak butuh itu".


"Jangan menolak ambilah anggap saja ini bentuk tanggung jawabku atasmu".


"Baiklah, terimakasih", Fely tersenyum.


Biarlah toh Fely juga punya kartu sendiri yang bisa mencukupi biyaya kehidupannya, dirinya hanya akan pegang doang.


Setelah memberikan kartu itu Rafael pergi ke kamarnya, makannya sudah habis semua.


Fely hanya bisa melamun sambil sesekali menyuapkan makan kedalam mulutnya.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2