
Sekarang Rafael hanya bisa merenungi semua kesalahannya, menyesal juga sudah tidak ada gunanya karena tidak akan bisa mengembalikan semuanya seperti semula.
Sampai jam 1 malam dirinya memutuskan untuk pulang ke apartemennya, lelah juga tidak di rasa.
Membuka pintu apartemen terasa dingin dan sunyi, "Padahal kalau aku pulang malam seperti ini dia kadang sedang tidur di sopa dengan alasan nungguin aku pulang, kamu dimana dek?", membantingkan badannya ke sopa yang biasa Fely pakai dan mendekap erat bantal sopa.
Hampir jam 3 dini hari matanya masih terjaga, Fely terus terbayang bayang di dalam otaknya, tenggorokan terasa kering kehausan, sehari dua malam perutnya masih aman meskipun belum ada makannan yang masuk ke dalam tubuhnya selain air putih.
Baru saja melangkah dua langkah menuju dapur, ekor matanya menangkap kertas di atas lemari kecil di samping pot bunga yang Fely sendiri beli.
Melangkah dengan pelan, deg deg deg jantungnya bergemuruh, semakin dekat semakin jelas matanya menangkap permata kecil dan kartu persegi panjang di atas kertas putih.
Tangan Rafael terulur untuk mengambil benda benda itu, membawa lagi ke sopa dengan pelan.
"Gak lucu kamu dek sampai tidak memakai cincin pernikahan kita segala", ucapnya, sebelum membaca isi surat itu Rafael berlari ke arah kamarnya untuk mengambil cincin pernikahan mereka.
__ADS_1
Untung dirinya masih ingat dimana menaruh cincin itu, "Hahahaa lihat dek kakak sekarang sudah pakai cincinnya loh, ayo pulang sayang", ucapnya lirih sambil terus menatap cincin yang sudah melingkar di jari kelingkingnya.
Balik lagi ke sopa mengambil kertas yang tadi di taruh barengan dengan cincin dan kartu atm.
By, Fely.
"Hai kakak El, hehee".
"Aku pamit ya, maaf kalau selama menjadi istri kakak aku tidak bisa memenuhi kodratku sebagai istri, tapi gakpp salah satunya dari aku sudah kakak ambil meskipun dengan paksa". Deg,, apa ini hati Rafael terasa di remas remas, ada penyesalan yang mendalam, ini baru barisan pertama yang dirinya baca namun rasanya sudah menyesakan dada
"Aku benci kak El tapi bodohnya juga aku malah jatuh cinta pada suamiku sendiri, sayang sekali kakak tidak pernah mencintaiku bahkan menganggapku ada juga tidak".
"Aku akan selalu do'ain kakak dari jauh biarlah aku kubur sendiri rasa ini, ehhh iya kak aku baru tau ternyata yang paling lucu di antara kita pas masih kecil sering bersama ya kak, aku baru tau itu hahahaa bodoh ya, emang iya aku bodoh seperti yang selalu kakak ucapkan sama aku".
"Bahagia yang dengan wanita pilihan kakak nantinya, tenang aja soal pernikahan kita seperti yang kakak ucapkan berkali kali ke aku, ya aku tau ko jalan dan alamat pengadilan agama, semuanya sudah aku urus mungkin besok atau lusa suratnya akan datang ke kakak, ehhh aku lupa kan kakak tidak pernah menganggapku jadi sepertinya masbodolah dengan surat ini dan bersyukur karena aku pergi".
__ADS_1
"Sekali lagi aku pamit kak, ini aku kembalikan atm yang kakak kasih juga cincin pernikahan kita, karena membeli cincin ini pakai uang kakak kan bukan uang Mami, kalau cincin tunangan ada di rumah Mama sama Papa silahkan ambil masuk aja ke kamar aku ada di laci yang warna biru ya".
"Uang yang selalu kakak kirimkan ke aku tenang saja tidak pernah aku ambil sepeserpun ya, kalau tidak percaya silahkan cek saja".
"By kak El, adik yang selalu membuat kakaknya kesal ini pamit ya, sekarang enjoy nikmati hidup kakak tanpa ada bocah yang menyebalkan sepertiku".
Ttd, Felysia.
Setelah membaca surat yang Fely tinggalkan Rafael meraung menangis, menyesali kebodohan yang telah dirinya perbuat.
"Maaf dek maaf kakak gak akan pernah mau pisah sama kamu, kakak akan cari kemanapun kamu pergi tunggu kakak sayang".
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤