
Saking sudah tidak sabarannya Renaldi baru jam 1 siang sudah menjemput Seli dia rela menunggu 1 jam lebih.
Perasaan nya sudah gusar takut Seli dengan lelaki yang tadi pagi iya lihat, membayangkan Seli memberikan senyuman manisnya pada lelaki itu Renaldi memukul setir nya sendiri karena geram.
Ini sekolah lama banget sih perasaan gue dulu sekolahnya sebentar doang, huwhh menghembuskan napasnya dengan kasar.
Lah lu kan dulu sekolah nya sudah kaya punya nenek moyang lu aja suka se enaknya, pulang kapan saja masuk juga semau elu.
Sudah beberapa kali juga Renaldi keluar masuk dari mobilnya bosan menunggu di tambah takut Seli dengan peria lain, semakin kacau pikirannya.
.
Akhirnya yang di tunggu tunggu menampakan batang hidungnya juga, Seli berjalan sambil ngobrol bersama salah satu teman nya, Menampilkan senyum manis pada orang yang sudah di anggap kakak nya.
Ya Allah mana gue rela dia sama yang lain, senyum manisnya mengalihkan duniaku aku egois memang, aku maksa dia harus menjadi milikku, batin Renaldi.
"Hai kak Assalamualaikum, udah lama nunggu ya maaf", selalu itu yang terucap jika Renaldi yang menjemputnya.
Renaldi tersenyum ke khawatiranya ternyata begitu berlebihan, tuh pujaan hatinya tidak bersama lelaki lain, "Walaikum salam, nggak belum lama juga ko, gimana sekolahnya?", mengusap kepala Seli dengan gemas menghapus jejak yang tadi pagi iya lihat.
"Ahh kakak suka banget berantakin rambut orang", Seli menghindar.
Ya Allah pengen sekali gue teriak kalau gue menghapus jejak tangan lelaki itu, "Iya maaf dek", menuntun Seli agar masuk ke dalam mobilnya, namun sebelum masuk mereka berdua mendengar teriakan orang menyeebut nama Seli.
"Seliiii", teriak Aldo, entah sejak kapan lelaki itu berubah, selama di sekolah hari ini hatinya terus berbunga bunga.
Renaldi dan Seli menoleh bersamaan, setelah tau siapa yang memanggilnya Seli tersenyum, entah perasaan apa yang Seli rasakan ketika melihat kakak kelas nya itu, ada perasaan yang tak bisa iya jabarkan satu persatu.
Deg... Jantung Renaldi bersenyut, apa apaan ini pikirya.
Pemuda itu berjalan sengan cepat sambil menampilkan senyum nya, "Hai selamat siang, ko whatsapp kakak gak di balas, sudah mau pulang ya", tanya nya.
"Ehh aku gak liat ponsel maaf", Seli terkekeh.
"Yaudah gak apa apa", Aldo menoleh ke arah Renaldi, "Kenalkan kak aku temannya Seli Aldo", mengulurkan tangannya, Seli sudah sedikit bercerita padanya tadi pas setelah upacara.
__ADS_1
"Ya Renaldi", ingin sekali dia bicara bahwa dia calon suaminya dia pacarnya Seli agar laki laki itu tak mendekati Seli lagi, tapi kata kata itu sangat berat untuk keluar dari bibirnya.
Aldo mengangguk menampilkan sedikit senyum nya, ya hanya sama Seli dia bisa tersenyum lebar bahkan tidak bicara dingin juga, mungkin jika Renaldi bukan kakak nya Seli, tidak akan Aldo memberikan senyum nya yang sangat mahal itu.
"Yaudah kalau mau pulang hati hati ya, jangan lupa makan dan kerjain tugas tadi, besok mulai ikut anggota osis, kakak balik kelas lagi yang lain nungguin".
"Iya kak", ucap Seli sambil tersenyum, ada rasa nyaman dekat dengan lelaki itu hatinya juga merasakan ada yang aneh yang belum pernah dia rasakan selama ini.
Aldo tersenyum mengelus kepala wanita itu lagi, lalu masuk ke dalam gerang sekolah, membalikan badan dan tersenyum ke arah Seli, jangan di tanya muka Renaldi sudah merah menahan amarah.
Mengumpat habis lelaki tadi, bertanya tanya ada hubungan apa Seli sama lelaki tadi, dan dia akan mencari tau siapa Aldo berasal dari keluarga mana, sebab sepertinya Aldo keluarga terpandang terlihat dari penampilan dan gestur tubuh lelaki itu tadi, bukan orang biasa, ya memang yang sekolah di situ bukan orang orang kalangan bawah secara dari biyaya sekolah ketat nya peraturan dan bagaimana harus di siplinnya sangat beda dengan sekolah lain.
Tring.... bunyi pesan masuk ke ponsel Seli.
📩 "Hati hati di jalan😉 aku sudah mulai pendekatan kan hehee, meskipun bukan ke bang Pandi, sepertinya sangat sulit bertemu dengan beliau maklum lah seorang CEO muda dan kaya raya pasti sangat sibuk, tapi akan aku buktikan padanya kalau aku pantas untuk adik kesayangannya😎".
📨 "Hehe, terserah kakak, aku pulang ya☺".
Akhhh dalam hatinya Seli kelojotan sendiri, apalagi jika mengingat pas mereka ngobrol tadi, Seli di masukan ke anggota osis, karena akal akalan Aldo supaya ada sedikit waktu dengan Seli, anggota osis yang lain tidak ada curiga sama sekali sebab Aldo jika di depan teman temannya akan menampilkan wajah biasanya datar dan dingin.
"Kan kakak udah kenalan tadi", alis Seli menyengit bingung.
"Ya sebutkan nama kepanjangannya", Renaldi bicara sedikit memakai nada tinggi, sudah mulai tak kuasa menahan emosi karena cemburu nya.
"Aldo Rusnandi Darmawangsa", ucap Seli dengan sedikit bergetar, karena Renaldi menanyakan nama Aldo dengan nada yang dingin dan lumayan tinggi takut yang Seli rasakan sekarang.
Tak ada bicara lagi Renaldi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, Seli memejamkan mata karena takut.
"Kak pelan pelan bawa mobilnya", teriak Seli.
Renaldi seolah tuli dia terus saja melajukan mobil nya, menyalip beberapa mobil lainnya hampir saja menerobos lampu merah, membuat Seli kejedut pinggir kaca, entah gimana duduk Seli dia juga tidak tau saking takut nya tidak terasa duduknya bagaimana.
Duggg.... "Awww", Seli meringis lumayan sakit jidatnya terbentur.
"Dek ", kaget Renaldi melihat Seli meringis dan jidatnya merah, merasa sangat bodoh dia mencelakai wanita pujaan hatinya, gawat kalau Pandi tau bisa bisa di cingcang gue, rutuknya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Dek sakit ya, maaf ya sini kaka lihat".
Seli memalingkan wajahnya kesal karena Renaldi membawa mobil tidak hati hati bahkan bisa di bilang ugal ugalan.
"Dek maaf sini kakak lihat".
"Udah gak apa apa", masih memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Renaldi menjalankan mobil lagi sambil terus mengerutuki kebodohannya, bodohnya dia yang sudah membuat wanitanya terbentur.
Sampai rumah Seli langsung turun dari mobil, tanpa menoleh juga ke arah Renaldi, "Makasih", ucapnya, tidak seperti biasanya mengucapkan Terimakasih sambil tersenyum tulus.
Seli langsung berlari masuk kedalam rumah, Renaldi juga langsung mengejarnya.
"Loh nak kenapa jidat kamu?", panik bu Mirah melihat jidat merah anak perempuannya.
"Gak apa apa bu, tadi di sekolah kejedut hehee", maaf bu Seli bohong, takut abang tau kalau ini gara gara kak Renaldi bawa mobilnya ugal ugalan, batin Seli.
"Ooo Ya Allah kamu ini hati hati nak, sini ibu kompres pake es biar gak memar biru nak", bu Mirah menuntun anak perempuannya ke dapur.
Hati Renaldi mencleos mendengar pengakuan Seli yang berbohong ke ibunya sendiri, mungkin demi menjaganya dari amukan Pandi, pernah sekali tangan Seli kejepit sopa sedang bercanda dengan Renaldi juga Pandi sangat marah ke Renaldi, bagi Pandi Ibu dan Seli harta dari segala hartanya, 2 orang itu lecet sedikitpun dia tidak mau, bu Mirah masuk angin saja Pandi langsung memanggil dokter, konyol emang namun ya begitulah Pandi yang sekarang.
Tring.... Pesan masuk ke ponsel Renaldi.
📩 "Cepat balik kantor lu", isi pesan dari Pandi.
📨 "Ya gue jalan sekarang ke sana", balas Renaldi.
Gila jangan bilang singa itu tau adiknya benjol karena gue, habis gue ya walawpun ini juga kesalahan gue sih, gara gara cemburu Ya Allah.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading🖤🖤🖤🖤