ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
114.


__ADS_3

Sandra Lily dan kedua Ibunya mereka sedang berkumpul di ruang tengah, semenjak Pandi berangkat ke kantor dirinya juga ikut turun ke bawah.


Tak lama Pandi menghubunginya, benar benar tidak bisa jauh dari istri dan anaknya, sebelum meeting menyempatkan waktu untuk sekedar bertanya sedang apa dan melihat muka dua orang tercinta nya.


"Sayang sedang apa?, Fely mana?", setelah panggilan vidio itu terhubung.


"Assalamua'laikum Pah", Sandra terkekeh, heran belum 2 jam suaminya di kantor sudah tidak sabaran sampai menghubungi menggunakan vidio segala.


"Walaikum salam, lupa mah hehe lagi di ruang tengah ya, anak nya mana?".


"Ada tuh sama Maminya, katanya mau menabung sayang dulu agar tidak langsung merindukan Fely", dan seketika orang yang ada di sana berikut Pandi tertawa.


"Kakak nabung dulu Pan hehehee, soalnya kalau kangen susah mau ketemunya", ucap Lily.


"Jangan ada yang lecet kak", ucapnya posesif.


Lily mengacungkan jempol, ya dia paham bagaimana perasaan Pandi kepada anaknya.


"Yaudah sayang aku mau meeting dulu ya".


"Iya yang pokus kerjanya, nanti aku kirimkan foto baby nya ya", Sandra tersenyum menatap layar ponsel yang berisi penuh muka suaminya.


"Oke sayang love you", mengecup layar ponselnya tanpa bersuara, sebab Pandi paham di sana ada Ibu dan mertuanya juga kakaknya.


Pandi dan sandra tidak pernah begitu mengumbar kemesraan di depan orang.


Kebucinnan mereka hanya cukup mereka yang tau.


.

__ADS_1


Setelah panggilan itu terputus, Sandra memanggil Lily, ada yang harus iya sampaikan pada sang kakak, tadi malam dirinya dan Pandi mengecek cctv yang ada di rumah ini, jadi sedikit tau tentang kak Lily nya dengan mas Reja.


"Kak dekatan sini", panggil Sandra pada Lily yang sedang asik menimang keponakannya.


Siang ini Lily akan kembali lagi ke kotanya maka dari itu dirinya tak mau lepas dari baby Fely.


"Apa dek, iiii kayanya serius deh", sudah terlihat muka serius adiknya, Lily mendekat setelah menyerahkan Fely ke bu Mirah.


"Kak jujur ya", Memegang tangan Lily dan menatap lekat wanita umur 32 tahun itu.


"Apa ya dek perasaan kakak gak punya salah", bingungnya.


"Ya kakak gak punya salah sama kita semua, tapi kakak punya salah sama Mas Reja".


"Ko Reja di bawa bawa sih dek", menyengit heran.


Duhh perasaan nya mulai was was, ada apa dengan Reja ya, batinnya.


Mama Selina dan Bu Mirah juga ikut mendengarkan dengan sak sama bahkan Rafael dan Misel mereka suruh untuk ikut art sebentar.


"Buka hati kakak dan ingat tidak semua laki laki sama seperti mas Daren, jangan karena umur kakak dan umurnya terpaut jauh".


Lily menghela napas dengan pelan, tercekat tenggorokannya mendadak kering, "Iya dek, mungkin bisa di bilang ini trauma, kakak selalu mikir mas Daren yang dewasa saja tidak bisa menjadi imam dan ayah yang baik untuk istri dan anak anak nya".


Mengambil napas lagi secara perlahan, "Apalagi ini Reja yang baru saja mau masuk dewasa, umur kakak dan umurnya beda jauh hampir 8 tahun dek, dan kakak rasa dirinya lebih pantas mendapatkan yang masih muda masih gadis, kakak sudah anak 2, kakak takut Ibunya tidak menerima kakak apalagi membawa dua anak", Lily menggelengkan kepalanya.


"Kak aku sedikit tau tentang mas Reja, bang Pandi juga bilang bahwa keluarganya sangat baik dan hangat, jadi cobalah untuk masuk dan terima dia, aku yakin kakak juga bukan tidak ada perasaan padanya kan".


Lily mengangguk meng iyakan, jujur saja hatinya juga sudah berlabuh pada pemuda yang selalu merecokan dirinya selama berbulan bulan ini.

__ADS_1


"Ya kakak akui itu, namun selalu terbesit takut dan ragu didalam hati kakak".


"Coba dulu kak, sepertinya mas Reja sungguh sungguh dia juga menyayangi Misel dan Rafael kan".


Lily mengangguk meng iyakan lagi, bahkan kedua anaknya itu sudah seperti ke ayahnya sendiri selalu bergantung pada Reja.


"Sepertinya anak itu juga baik sayang, benar kata Sandra coba dulu, Mama merasa kasihan padanya tadi saja dia terlihat kecewa tidak mendapat perhatian darimu", ucap Mama Selina.


"Iya Mah memang dari pertama keputusan bahwa aku dan mas Daren cerai dia yang selalu ada dia juga yang selalu membuat anak anak bahagia".


"Cobalah buka hati kakak perlahan, sudah hilangkan ketakutan itu kak, aku yakin mas Reja tidak akan mengecewakan Abang juga apalagi kakak, persahabatan mereka begitu baik selama ini".


"Yah akan kakak coba, terimakasih sayangnya kakak", mereka berdua ber pelukan.


Kini rasa yang terus mengganjal di dalam hatinya, seolah sedikir demi sedikit luruh.


Bahagianya aku punya kalian, batinnya.


Maafkan aku Rej, aku akan berusaha berdamai dengan segala kegundahanku selama ini.


Berusaha memantapkan dan memantaskan diri itulah yang harus dirinya lakukan sekarang.


.


.


.


Happy reading🖤🖤🖤

__ADS_1


Terimakasih sebanyak banyaknya buat yang masih setia membaca dan mendukung karya Utor☺❤❤❤❤❤


__ADS_2