ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
034.


__ADS_3

Hatinya berdenyut nyeri dikala melihat sang anak yang begitu terlihat bahagian di dalam gendongan laki laki lain, mau berusaha sekuat apapun tetap saja sakit.


Rafael masih memegang kuat koper nya, masih setia melihat pemandangan yang ada di depan matanya, sampai laki laki itu masuk kedalam mobilnya lagi dan meninggal pekarangan rumah.


Masih mematung menata jantung dan hatinya habis terguncang, melangkah pelan sambil mendorong koper, lututnya merasa tidak bertenaga untuk iya langkahkan.


Fely dan Dava masih tidak menyadari kalau ada orang di ujung parkiran sana sebab dari parkiran ke teras rumah lumayan jauh maka tidak terdengar suara roda koper juga.


"Assalamualaikum Oma Opa", jika di rumah Dava kembali ke mode anak anak pada umumnya.


"Hai sayangnya Oma, ko tumben telat pulangnya?, sini sayang Oma ada makannan kesukaan kamu loh".


Dava berjalan dengan riang mendatangi Omanya, setelah duduk baru bicara, "Tadi di anterin Om lagi Oma", ucapnya tersenyum sumeringah.


"Benar nak", tanya Mama Sandra.


Baru saja mau membuka mulutnya Felly dan yang lainnya mendengar ada suara yang mengucapkan salam dari luar.


Menjawab salam dengan serempak, ketiga manusia itu memelototkan matanya melihat siapa yang datang, meskipun dengan penampilan beda namun muka dan suara tetap sama.


Melihat siapa yang datang Mama Sandra langsung bangkit dari duduknya, "Nak El ini benar kamu sayang?", air matanya langsung terjun bebas.


Rafael tersenyum dengan canggung menanyakan kabar menyebut Mah juga, "Mah sehat", menyalaminya.


Pukulan kencang sukses mendarat di bahu Rafael, "Anak kurang ajar", ucapnya, memeluk Rafael dengan erat, rasa rindu yang membuncah Rafael sudah di anggap anaknya sendiri, cukup mereka menghukum anak ini bertahun tahun.

__ADS_1


Rafael ingin membalas pelukan dari orang yang sudah dirinya anggap ibu juga, canggung yang dia rasakan.


Bersujud di kaki Papa Pandi setelah lepas dari pelukan mama Sandra, "Maaf Pah", hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya, tenggorokan terasa kering suaranya tercekat.


Papa Pandi bersedekap dada, "Darimana saja?", tanya nya dengan lantang, "Sudah puas sembunyi nya atau masih kurang".


"Maaf Pah saya salah", mau benar atau salah memilih menyalahkan diri toh papanya tidak pernah bersalah.


"Papa sudah", Mama Sandra memukul tangan suaminya.


"Berdiri, bersyukurlah mama kamu masih membela meskipun kamu punya salah besar".


Sentilan dari kata SALAH BESAR membuat hati Rafael nyeri lagi, jantungnya bergemuruh seperti mau lompat dari tempatnya.


Menatap Fely sebentar, rindu dengan wanita ini sangat membuncah tidak tertahan, dan sekarang semakin tidak tertahan melihat ada di depan matanya, ingin memeluk mendekap dan mengucapkan kata kata rindu sayang dan maaf, berusaha keras Rafael menahannya.


Menatap Dava lama airmatanya dari tadi terus mengalir deras, Rafael menjadi laki laki yang sangat cengeng.


"Dava", ucapnya tercekat, bersujud di kaki anaknya.


Dava yang bingung hanya menatap tiga orang bergantian dan melihat ke bawah kakinya.


"Itu Papi sayang", ucap Mama Sandra.


Dava yang mendengar kata Papi anak itu langsung berjongkok, "Pih", ucapnya kecil sangat kecil nyaris tidak terdengar oleh Rafael.

__ADS_1


Rafael mendongak langsung memeluk anak nya dengan erat mencium kepalanya sangat lama, masih belum bisa bicara.


Lama Rafael memeluk Dava sambil terus saja menghujani bahu dan kepala anaknya dengan ciuman rindunya.


Fely yang tidak kuat melihat itu memilih pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Dava maafkan Papi nak", menatap anaknya lekat meski sangat buram penglihatannya karena terhalang air mata.


"Papi kemana saja?", pertanyaan Dava bagai belati yang mengurat hati dan seluruh tubuhnya.


Rafael terdiam belum bisa menjelaskan kemana dia selama ini lagi lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulut Rafael.


"Kamu tidak membenci Papi kan sayang?", dengan takut takut menanyakan itu, takut kalau nanti Dava bilang benci dan tidak mau dekat dengannya.


Anak itu tersenyum dan menggeleng, memeluk Papinya kali ini Dava yang lebih dulu memeluk Rafael.


Kedua orang tua di sana menyaksikan Ayah dan anak nya yang baru saja bertemu kedua kalinya dari sejak lahir merasa terharu.


"Terimakasih Dav, maafkan Papi sayang", maaf mungkin tidak bisa mengganti waktu yang telah lama mereka lewatkan namun setidaknya dengan kata maaf mau sebesar apapun dosa akan terasa ringan jika yang bersangkutan sudah memaafkan.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤❤❤, Halooo semuanya jangan lupa dukungannya ya, Terimakasih🙏🙏🙏


__ADS_2