
Membawa mobil seperti orang kesetannan bahkan beberapa kali hampir nabrak pengemudi lain.
Akhirnya Rafael sampai ke apartemen, yang biasanya pagi pagi sudah harum wangi masakan ruangan segar karena sudah bersih, tapi kali ini dirinya membuka pintu bahkan masih gelap gulita.
Deg deg deg, jantungnya berdegub cepat karena mendapati ruangan gelap, hatinya bergemuruh hebat.
Rafael mengetuk pintu kamar Fely berkali kali, "Dek,, Fely, Fely", berkali kali menyebutkan nama Fely tidak ada jawaban sama sekali.
Dek plis jangan bikin gue cemas, Rafael duduk di depan pintu kamar Fely.
Rasa menyesal kini mulai mengerogoti hatinya, dirinya bangkit lagi membuka pintu secara paksa, "Bangsat", umpatnya karena pintu tidak di kunci sama sekali.
"Dek Fely, Fell", teriak Rafael.
Membuka pintu kamar mandi tidak ada di dapur juga tidak ada bahkan berkali kali Rafael mengubek apartemen yang hanya sepetak itu.
Niat menghubungi ternyata ponselnya ter tinggal di perusahaannya, tidak menunggu waktu lagi Rafael langsung balik ke kantornya.
.
Sampai ke perusahaan "Ran ponsel saya mana?", tanya nya sambil terburu buru.
Mana saya tau pak, dalam benak Randa namun tidak bisa dirinya ucapkan, "Saya belum melihat anda menggunakan ponsel untuk pagi ini pak".
Secepat kilat Rafael berlari ke arah kamarnya, menemukan ponsel yang sudah mati, mungkin kehabisan daya karena terus saja menyala tlpon dan pesan dari Maminya, bahkan Daddy nya juga berkali kali menghubungi Rafael.
__ADS_1
Sambil mengisi daya ponselnya, Rafael terus berpikir Fely kemana?, perginya kemana?, kalau dirinya mencari ke rumah Papa dan Mama mertuanya pasti mendapat amukan.
Untuk sekarang masabodo dengan perusahaan yang di ambil datanya Rafael tidak memusingkan itu yang paling pusing sekarang mencari Fely kemana.
10 menit menunggu sambil terus berpikir, bahkan baru saja di nyalakan panggilan masuk sudah tertara Maminya yang memanggil.
"Iya Mi.......", ucapannya sampai menggantung karena di sebrang sana sepertinya bukan bicara lagi tapi teriak teriak.
"Iya Mih iya sabar dulu aku akan mencarinya".
..............
"Iya aku janji akan membawa menantu Mami besok juga".
Padahal Rafael juga tidak yakin Fely akan secepat itu ketemu apalagi kalau Fely pergi atas bantuan Papanya.
"Ran menurutmu Fely pergi ke luar apa tetap di dalam negara ini".
"Saya belum bisa memastikannya pak, otak saya tidak sampai jika harus menyelami otak tuan Pandi".
Iya juga dirinya yang sejak kecil selalu belajar dengan Pandi juga masih belum bisa mengimbangi.
Tanpa banyak kata lagi Rafael pokus berkutat dengan laptopnya bahkan sesekali menggaruk kepala yang tidak pernah sama sekali dirinya lakukan.
3 jam lebih mencari akses untuk menemukan Fely hasilnya nihil tidak sama sekali menemukan jalannya.
__ADS_1
Menangkup wajah prustasi, Fell plis balik aku janji akan menjadi suami yang baik buat kamu sayang.
.
Berbeda dengan Rafael yang sedang gusar bingung plus pusing Papa Pandi malah bersedekap dada sambil tertawa.
"Ck ni anak bisa bisanya bukan perusahaan yang dia garap hahaa".
"Kenapa Pah?".
"Menantu kamu mulai panik dia dari pagi buta membobol pertahannanku terus, lucunya bukan perusahaan yang dia garap sekarang".
"Fely?, biarkan dia kasih pelajaran, Mama kalau tidak ingat dia juga anak kita sudah di samperin di jambak saking kesalnya".
"Kita lihat saja sampai sejauh mana usahanya berani tidak dia menghadapku".
"Kak Lily tadi pagi sudah tlpon dia siang ini juga sampai di jakarta katanya".
"Sama Reja?".
"Mungkin".
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤