
4 jam lebih menunggu kabar dari Salman namun tak kunjung dirinya di kabari, seharusnya Salman sudah menemukan dimana keberadaan keluarganya, Rafael merasa geram sendiri.
"Cih pecundang sekali gue jadi manusia", ucapnya, langsung mengambil koper dan baju.
Dengan cepat mencari nomer tlpon Randa, "Halo Ran, cepat siapkan jet Jakarta menuju Lombok sekarang juga, saya tunggu 20 menit lagi".
Sedangkan Randa yang di sebrang sana hanya bisa mengela napas dengan pelan, "Astaga bos, dir kira pesawat di minta langsung terbang apa, tau sendiri jalan udara tidak seperti jalan jakarta harus ada peroses terlebih dahulu", dengus Randa.
Walawpun mendengus sebal dan terus mendumel tetap saja perintah dari Rafael dirinya kerjakan.
"Ada apa lagi ni orang buru buru sekali", dengan cepat Randa juga turun keluar dari perusahaan untuk memastikan semuanya sudah aman atau belum, walawpun penerbangan hanya sebentar tetap saja keselamatan nomer 1.
Setelah di pastikan semuanya aman, baru saja mau merogoh ponselnya, ternyata Rafael sudah datang membawa koper kecilnya.
Gila bos bos di kira kami robot apa kerja sangat cepat, untung sudah selesai, batin Randa.
"Lama sekali kalian", ucap Rafael, dingin menatap tajam pada semua orang yang ada di sana.
Mendapat omelan dari sang bos, mereka semua yang ada di sana hanya bisa menunduk, bos tidak pernah salah.
Kurang lebih 2 jam di udara, akhirnya Rafael sampai dan keluar dari bandara bertapa terkejutnya melihat deretan foto di ponselnya.
Degggg,,, bayi siapa yang Salman kirimkan padanya, puluhan foto dari kejauhan ada dua foto yang lumayan dekat namun blur.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar lo Man, mau main main sama gue", setelah telpon terhubung.
"Kurang asem lo udah gue bantuin dengan susah payah bangsat, itu anak lo ingat itu anak lo".
"Darimana gue punya anak sejak kapa?".
"Lo mulai ngelantur, oon apa be***go, itu ana lo bini lo melahirkan, lihat semua fotonya ada keluarga lo juga di sana".
"Dimana mereka sekarang kirimkan alamatnya".
Dengan cepat mematikan tlpon, menelisik setiap deretan gambar dimana dirinya melihat Fely yang sedang memangku bayi itu.
"Apa ini anak kita dek, hidung mata bibir mirip denganku", walawpun sedikit blur namun jika benar benar di cermati akan terlihat jelas, air mata Rafael luruh, sedih bercampur bahagia banyak bingungnya juga.
Astagfirullohalazim sopir itu hanya mengelus dada, mendorong koper bawaan bosnya tadi dan mencari taxi untuk dirinya tumpangi.
Mengumpat semua pengendara mobil yang bejalan santai, sungguh Rafael ingin menabrak orang orang yang ada di depannya ini.
Selama di dalam perjalannan menuju rumah sakit yang Salman kirimkan alamatnya, Rafael terus mengumpat semua orang yang ada di depannya.
Kelakson mobil sesekali dirinya tekan agar yang ada di depan sedikit menyingkir.
Setelah sampai ke rumah sakit itu Rafael memarkirkan mobilnya dengan cepat, untung ada 1 celah untuk dirinya isi.
__ADS_1
Setengah lari dari parkiran masuk ke dalam, menanyakan dimana istrinya di rawat di kamar nomer berapa, atas nama Fely pasien yang melahirkan tidak ada.
Lagi dan lagi Rafael susah menemukan dimana istrinya, "Tlpon manager rumah sakit ini sekarang atau saya akan robohkan".
Yang bertugas di sana sangat panik mereka tau siapa pemuda yang ada di depannya ini, bahkan ibu ibu sudah pada mendekat ke sana.
"Robohkan kalau bisa", suara Papa Pandi yang terdengar dari belakangnya.
Deg... Papa, batin Rafael.
"Pah dimana Fely?", dengan suara bergetar.
"Ikut denganku".
Bukannya di ajak bertemu dengan Fely Papa Pandi malah berjalan keluar dari rumah sakit itu.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1