
Pagi ini Pandi mengantarkan Seli sekolah dan akan mengantarkan Sandra lagi ke kampusnya.
"Bang aku skolah dulu ya, Kakak aku skolah dulu, Assalamualaikum", pamit Seli turun dari mobil.
"Belajar yang benar, jangan makan yang aneh aneh ya", Pandi memberikan uang pada adiknya.
"Siap abang", Seli tersenyum.
Pandi menjalankan mobilnya lagi menuju kampusnya dulu, sekarang Sandra juga melanjutkan kuliahnya di sana.
"Sibuk gak hari ini bang?", tanya Sandra.
"Mau ke proyek, terus meninjau pabrik, ada apa hemm?", tanya Pandi dengan lembut melirik wanita yang ada di sebelahnya.
"Nanya doang heee, kata Mama kita makan bersama buat rayain ulang tahun kamu".
"Aku usahain pulang tepat waktu".
"Berarti aku bilang sama Mama oke ya".
"Boleh sayang", Pandi manggut manggut, sebenarnya dia sangat sibuk hari ini, pekerjaan nya masih numpuk, bukan lagi dia harus meninjau proyek pembangunnan nya dan produksi bahan di pabriknya, tidak mau mengecewakan orang orang di sekitar yang begitu menyayanginya Pandi harus benar benar pintar membagi waktu.
15 menit dalam perjalannan menuju kampus Sandra, sambil Pandi terus memutar otaknya, apa dulu yang harus iya seselaikan kerjakan supaya pulang tepat waktu.
__ADS_1
"Aku turun ya, kamu hati hati jangan lupa makan".
"Iya he'em", Pandi tersenyum mengelus tangan Sandra.
"Yaudah aku turun ya, Assalamualaikum".
"Walaikum salam, siang nanti aku suruh Pak Boim jemput ya, Maaf gak bisa jemput.
"Iya gak apa apa, daaaa love you, hati hati di jalannya".
Pandi menjalankan mobil lagi menuju kantornya dia akan berangkat bersama Renaldi.
"Tumben telat 10 menit bos", ucap Renaldi, biasanya Pandi selalu datang tepat waktu dari waktu yang mereka janjikan.
"Pantas saja, susah kalau sudah bucin mah".
"Ngomong apa lu, Pandi melirik sengit. Nih bawa mobil enak aja mau duduk santai, gue mau sambil kerja", Pandi pindah posisi langsung mengambil ipad nya.
"Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim bos", Renaldi menggeleng melihat Pandi yang sudah menghidupkan ipadnya, pantas saja cepet banget sukses dan kaya nya, dia tidak pernah sehari saja tidak kerja, jangankan sehari bahkan di mobil saja sambil kerja, pikir Renaldi.
"Ya harus memanfaatkan waktu yang ada, jangan membuang buang peluang", ucap Pandi seolah mengetahui kalau Renaldi bicara dalam hatinya.
"Ehhh buset, tau aja apa yang lagi gue pikirin", heran nya.
__ADS_1
"Apa yang gue gak tau sama isi dalam pikiran lu", sempot Pandi lagi padahal mata dan tangannya pokus ke ipad.
"Iya iya gue kalah sama lu, jadinya kita lagsung ke proyek kan?".
"Iya, sore ingatkan gue pulang jam lima".
"Tumben amat".
"Banyak banget omong lu ganggu konsen gue aja, gue masukin kandang macan baru tau rasa".
"Gak ada dagingnya badan gue macan juga mana mau sama gue".
"Gue ada acara lu juga ikut nanti, udah gue mau pokus, lu juga pokus ke jalan".
Akhirnya Renaldi diam menutup mulutnya dengan rapat, dia mengerti kalau Pandi sedang membutuhkan konsentrasi, hanya saja kalau tidak ada percekcokan dulu di antara mereka rasanya ada yang kurang.
Dan percekcokan kecil itulah yang membuat mereka menjadi lebih dekat bahkan bak saudara, mau se tegas dan sekencang apapun Pandi bicara padanya tidak pernah Renaldi masukan ke hati, karena Renaldi tau Pandi seperti itu juga untuk mendidiknya, hidupnya seperti sekarang juga karena berkat Pandi.
•
•
•
__ADS_1
🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘