
Fely memberikan susu yang dirinya bawa dari dapur tadi, menimang nimang ponselnya.
Hubungin tidak hubungin tidak, pikir Fely.
"Mih Papi masih belum kesini aja ya, padahal Dav mau bilang kalau hari kamis nanti ada lomba di sekolah, Dav mau Papi sama Mami ada".
"Iya tunggu ya Mami tlpon dulu Papi nya, tapi kalau Papi sibuk jangan memaksa karena Papi juga kerja buat Dava".
Selama ini Fely tidak mengajarkan Dava untuk membenci Papinya, selalu memberikan alasan alasan yang baik untuk di mengerti anaknya.
Mau sejahat dan setega apapun Rafael pada dirinya dulu hanya cukup dirinya yang merasakan, seburuk apapun tetap Rafael ayah dari Dava.
"Oke Mih", ucapnya sambil menaruh gelas yang isinya sudah tandas tidak tersisa.
2 kali panggilan tidak terjawab, Fely kesal sendiri Rafael memang selalu seperti itu dari dulu susah untuk menerima tlpon dari orang yang tidak dirinya kenal.
Sekali lagi gak di angkat gue akan blokir lo menjadi Painya Dava kak, gak pernah berubah elo tetap elo yang 1000% menyebalkannya.
Ketigakalinya telpon terhubung Rafael mengangkat tlponnya.
"Iya siapa", suaranya lemah, Randa sedang pergi keluar untuk mencari makannan yang dirinya inginkan.
"Halo, lama sekali angkat tlpon juga, tidak tau apa anaknya rewel dari kemarin mencarinya terus, masih mau menjadi Papinya apa sudah tidak sanggup".
Rafael mengubah panggilan ke vidio, hatinya menghangat, sangat kenal dengan suara dari sebrang sana yang sedang mengomelinya.
"Sudah bicaranya?, Maaf saya sedang tidak sehat", ucap Rafael.
Fely melihat jelas muka pucat dan mata sayu, haihh hatinya merasa perhatin.
"Sejak kapan sakit?, di rumah sakit mana?", sedikit pelan suaranya tidak seperti tadi.
__ADS_1
"Di apartemen", Rafael tersenyum.
Fely bagaikan obat baginya, sebahagia ini hanya mendengar suara dan menatap gambar saja.
"Sudah bosan hidup apa".
"Hidup juga sudah tidak berguna".
"Tidak ada manusia yang paling menyebalkan lagi di muka bumi ini selain Papinya Dava".
"Dava nya mana?", cari aman kalau sudah mulai nada tinggi lagi mending di alihkan.
"Nih ngambek terus dia dari kemarin".
"Hai sayang jagoannya Papi", akhhhh bahagianya gue, hatinya bersorak bergembira.
"Papiii sakit?, get well soon Pih".
"Papi di mana?".
"Papi di apartemen punya Dava nak".
"Besok Dav boleh gak ke Papi?".
"Dengan senang hati sayang tapi tanya Mami dulu ya kalau di bolehkan akan di jemput Om Randa setelah pulang sekolah".
"Oke Pih", Dava memberikan ponsel itu pada Maminya lagi.
Fely langsung mematikan panggilannya tanpa permisi atau pamit lagi.
Rafael yang sudah berharap banget mendapatkan ucapan cepat sembuh atau apa aja basa basi dari Fely, hanya bisa menelan ludah sendiri di kala melihat panggilan di matikan.
__ADS_1
Cih berharap banget kamu Raf, ucapnya.
.
Sedangkan Fely secepat mungkin menidurkan Dava, setelah Dava tidur Fely langsung keluar dari kamar anak itu menuju kamarnya.
Mengambil tas kecil dan sweater, mengirimkan pesan pada Mama Sandra bahwa dirinya akan keluar ke apartemen Rafael, Fely jujur dan terus terang pada ibunya kalau Rafael sedang sakit.
Tidak sendiri menuju apartemen itu mengingat ini sudah malam Fely di antar sopir peribadi Papa Pandi.
Sampai apartemen dari pin kamar itu dan tata letak sejak 6 tahun yang lalu masih sama seperti itu tidak ada yang berubah.
Fely membuka kamar yang Rafael biasa tempati namun tidak ada siapa siapa.
"Cari siapa bu?", Randa baru sampai dari luar.
"Haihh kau mengagetkanku saja", kesal Fely.
"Pak Rafael ada di kamar yang biasa dulu ibu tempati", seolah mengerti, setelah menunjukan dimana Rafael Randa langsung keluar membiarkan 2 orang dewasa ini berduaan.
"Saya pamit tolong sampaikan ke pak Rafael dan ini pesannan nya, maaf saya sudah merepotkan bu Fely.
"Ya", ucap Fely tanpa panjang lagi.
Masuk ke dalam kamar yang biasa dirinya tempati dulu, melihat manusia berbaring menyamping, badan bergetar seperti sedang menggigil.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤