ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
051.


__ADS_3

Fely memilih membersihkan badan karena sudah hampir jam 9 malam.


Rafael dengan cepat menidurkan Dava, akal picik nya masih sebagian melekat dalam diri laki laki itu.


Sengaja Dava tidur di letak kamar yang dulu dirinya pakai karena kamar satunya lagi di pakai Fely, memang itu kamar Fely dulu, sebagian bajunya juga masih tersusun rapih hanya saja sudah ngepas semua di tubuhnya.


Setelah mandi Fely masuk ke dapur yang dulu sering dia ajak curhat, tempat keluh kesah tempat dirinya menangis.


Menuangkan air hangat, kebiasaan wanita itu sebelum tidur minum air hangat sambil nonton sebentar menunggu jam waktu tidur.


Fely tidak mengetahui kalau ada orang selain dirinya di sapur itu, Rafael terus saja memperhatikan gerak gerik Fely yang membuka kulkas hanya terisi buah dan minuman kaleng saja.


"Haihhh minum kaya beginian lagi", Fely menghitung barisan kaleng dan kopi instan botol.


Lumayan banyak sehingga membuat wanita itu kesal sampai menutup pintu kulkas lumayan kencang, "Sudah tau penyakitnya apa, tapi tetap saja bandel".


"Oke aku akan buang besok sayang", Rafael langsung menyahut takut wanitanya semakin kesal.


"Terserah, sudah tua juga tapi tetap bandel lebih dari Dava".


"Sorry sayang jangan ngambek ya", menakupkan dua tangannya di dada memohon pada Fely.


Fely berjalan masuk ke kamarnya tanpa menatap muka melas laki laki itu, sebelum menutup pintu Rafael lebih dulu ikut masuk.


"Ngapain masuk orang mau tidur".


"Sebentar sayang", memeluk Fely dari belakang.


Huhhh Fely sudah ada feeling pastinya seperti ini, tidak mungkin Rafael minta dirinya nginep jika tidak ada maksud terselubung.


Entah mengapa hati dan tubuhnya juga tidak sejalan, hati berkata tidak tapi tubuh berkata iya.


Menaruh gelas di atas meja samping lampu tidur, lalu membalikan badan, membuat Rafael leluasa mememeluknya, lama pelukan itu tidak lepas.

__ADS_1


"Boleh jujur gak, pegel nih hahahaa".


Bukannya melepaskan pelukan Rafael malah membawa Fely ke atas kasur.


"Aaaa kangen banget sayang, aku udah lama membayangkan seperti ini", mencium gemas pipi Fely.


Fely tersenyum, "Seberapa banyak kengennya?".


"Tidak terhitung saking banyaknya, sampe bujukin anak juga supaya cepat tidur hahahaa".


"Jahat amat sih kak".


"Tidak jahat sayang aku hanya mencari waktu agar lebih dekat sama kamu".


"Nonton yuk", ajak Fely, sebab semakin lama mereka berdua bicara semakin intim juga, tubuhnya semakin Rafael pepetkan ke tubuh Fely.


"Boleh sayang tapi biarkan seperti ini ya".


"Kak gak gini juga", ahhh perasaan Fely semakin campuraduk apalagi merasakan tangan Rafael yang mulai mengusap dadanya.


"Astagfirulloh bekas kamu nonton ya kak".


Bukannya menjawab Rafael malah membungkam Fely dengan bibirnya.


Kedua bibir itu saling bertaut dan memangut, Rafael yang lebih dominnan, Fely juga tidak sekaku pas pertamakali.


Sama sama mencari kepuasan, Rafael sudah merasakan tubuhnya panas dingin minta di puaskan dan di tuntaskan.


"Kak jangan lebih dari ini ya", pinta Fely, sebenarnya tubuhnya juga menginkan lebih dari ini tapi Fely sadar dan juga ingat dengan ucapan Papa Pandi.


"Hmmm", tangan Rafael sudah masuk kedalam piyama yang Fely pakai, kebetulan juga Fely tidak memakai penutupnya.


"Ughh", leguh Fely.

__ADS_1


Mendengar leguhan dari Fely semakin membuat Rafael menggila.


"Sebentar saja janji gak masuk", Rafael menggeram tertahan, menggesekan senjatanya ke sela sela paha Fely.


"Aghhhh sayang ini membuatku semakin gila".


"Kakkkk", Fely membusungkan dadanya.


"Ya sayang akhhhh".


Dengan gilanya kepala Rafael masuk ke dalam piyama Fely, membuat wanita itu kalangkabut, apalagi merasasakan lidah Rafael melahap kedua buah dadanya.


Keduanya sama sama bergerak mencari kepuasan masing masing meskipun pakaian masih melekat dengan utuh.


Sama sama menggerang hebat, Rafael ambruk di atas tubuh Fely.


Tersenyum menatap wajag Felh yang sedang mengatur napasnya. "Hahaa lucu sekali kita sayang padahal suami istri tapi tidak boleh main di dalam".


Plakss, " Kakakkkk", Fely menyembunyikan wajahnya malu, haihhh bisa bisanya dirinya tadi ikut menikmati juga.


"Jangan malu sayang, terimakasih ya, love you".


"Gak mau, kakak sudah membuatku seperti ini".


"Sayang kamu tambah cantik sumpah".


akhhhh hati Fely berbunga bunga meskipun pujian itu selalu Rafael ucapkan untu dirinya.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2