ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
91.


__ADS_3

Sudah hampir jam 4 sore artinya sebentar lagi waktunya pulang kantor, Renaldi yang merasa punya salah besar, kerja juga tidak pokus mau langsung minta maaf juga susah, karena di Ruangan Pandi ada Sandra sudah pasti bos nya itu tidak mau di ganggu.


"Wulan, Ibu masih di dalam ya?", tanya Renaldi dengan gusar.


"Iya Pak saya belum melihat Ibu dan Bapak keluar", ucap Wulan sang sekertaris.


Huwhh, Renaldi menghembuskan napas gusar nya, menggaruk kepala yang tidak gatal, kepalanya terasa pening hari ini banyak sekali yang iya pikirkan, memikirkan bagai mana minta maaf sama Pandi, bagaimana minta maaf ke Seli dan Ibu, bagaimana kalau Seli dan pemuda yang tadi kalau sudah pacaran dia harus gimana, rasanya tidak ikhlas, Seli yang sudah memporak porandahkan hatinya hanya Seli yang bisa membuatnya jatuh cinta sejatuh jatuhnya.


Masuk lagi ke ruangannya, "Ya Allah pusing banget gue, huwhhh", membenturkan kepalanya ke meja kerja.


.


"Sayang aku ke ruangan kak Ren bentar boleh ya", ini sudah kali keberapa Sandra ijin ke suaminya untuk menemui Renaldi.


"10 menit aku kasih waktu", ucap Pandi tanpa menoleh pada istrinya.


"Ya Allah by, kamu itu kenapa sih heran deh, yaudah iya 100 menit", Sandra langsung keluar dari ruangan Pandi saking sebalnya. "Heran gue kenapa tu anak kaya gitu sekarang", dumelnya.


Baru saja Sandra mau mengetuk pintu ruangan Renaldi, orangnya sudah nongol duluan, "Asragfirullohalazim kak Ren", pekik Sandra kaget.


"Astagfirulloh dek", Renaldi juga tak kalah kaget, sama sama melamun yang mengakibatkan mereka berdua kaget.


"Mau kemana?", tanya Sandra.


"Ke ruangan bos, lg mau di hukum", jawabnya asal.


"Mau banget ya gue hukum", ucap Pandi dengan sorot mata tajamnya.


"Maaf bos, sumpah lu juga kalau ada di posisi gue mungkin sama seperti gue".


"Ya lu bego harus ingat nyawa juga".


"Iya iya maaf ngaku gue salah", Renaldi menunduk.


"Salah banget malah", sindir Pandi.


"Sayang udah apa sih, yang penting kan masih pada selamat", mencubit pinggang suaminya.

__ADS_1


"Pulang ke rumah Ibu lu".


"Iya gue kesana", hanya bisa pasrah, dalam hatinya sudah takut sama bu Mirah juga, takut yang sudah di anggap ibunya itu marah dan benci padanya.


Gue harus terima apapun nantinya, emang ini salah gue suka sama adik angkat sendiri dan gak bisa menjaga kepercayaan keluarganya.


"Gue balik duluan, lu juga balik sana", Pandi langsung menggandeng istrinya meninggalkan Renaldi yang terus merutuki dirinya sendiri.


.


"Aku belum ngobrol sama kak Ren loh, kamu ini kenapa sih main serobot serobot aja, bahkan 1 menit juga belum jangankan 10 menit", omel Sandra.


"Ya kan udah tadi sayang".


"Gak ada ya baru juga nanya mau kemana".


"Aku kira kamu udah ngobrolnya, pulang ke rumah Ibu dulu yuk".


"Terserah".


"Ko kamu marahnya sama aku sih sayang, ayolah jangan marah, kamu mau beli apa aja pulangnya boleh deh", tawar Pandi.


Masuk ke dalam mobil juga Sandra memalingkan wajahnya ke jendela, dari tadi dia padahal hanya mau ngobrol doang dengan Renaldi tapi di tahan terus di ruangan suaminya, sekalinya di ijinnin keluar dan bertemu Renaldi hanya 1 menit, itu juga blm ada 1 menit kali cuman baru nanya mau kemana doang.


Selama dalam perjalannan tidak ada obrolan di dalam mobil pengantin baru itu.


Sampai ke rumah juga Sandra langsung turun tanpa memperdulikan suaminya.


"Assalamualaikum, Ibu".


"Walaikum salam, loh nak sendiri?", tanya bu Mirah pada menantunya.


"Ya sendiri bu suaminya di tinggalin gitu aja", jawab Pandi.


Sandra hanya mendelik sebal pada suaminya.


"Yaudah mandi dulu sana istirahat Ibu udah masak banyak".

__ADS_1


"Iya bu Sandra mandi dulu ya", tanpa menoleh pada suaminya lagi lagi Sandra langsung masuk ke kamar sendiri.


"Ada apa nak?".


"Salah paham doang bu", jawab Pandi.


"Yaudah sana ajak bicara baik baik, kalau istri lagi ngambek jangan di biarkan lama lama".


"Assalamualaikum", salam Renaldi yang baru saja datang.


"Tuh bu biang keroknya datang", ucap Pandi, langsung menaiki tangga.


Bu Mirah hanya bisa menggeleng dengan kelakuan anaknya, "Walaikum salam nak, udah pulang juga, mandi dulu gih istirahat nanti kita makan bareng".


"Iya bu", Renaldi tersenyum, nyatanya respon bu Mirah tidak sesuai bayang bayangnya yang dari tadi sudah iya bayang bayangkan selama di perjalannan.


.


Waktunya makan malam, meja makan pun sudah penuh, orang orang yang mau makanpun sudah ada di sana semua, "Ayo pada makan yang banyak", ucap bu Mirah, kasihan juga melihat muka Renaldi yang seperti tak bebas gerak dan selalu merasa serba salah.


Akhirnya mereka makan dengan hening hanya suara garpu sendok dan piring yang terdengar.


Selesai makan berkumpul di ruang keluarga, "Ngapain lu nunduk terus", Pandi melempar kulit kacang yang baru iya buka dan makan isinya.


"Maaf ya Bu maaf Pan dek, maafin kesalahanku tadi siang", ucapnya, tidak berani menatap orang orang yang ada di sana.


Bwahahaaa Pandi memecahkan tawanya, berasa ngadepin anak yang sedang merasa ketakutan pada ayah nya, pikir Pandi.


"Gue maafin untuk hari ini, tapi tidak dengan hari esok dan seterusnya, berhenti berlaku bodoh dan bicara padanya dengan baik, ingat jangan di paksa, kalau di paksa gue penggal pala lo", bangkit dari duduknya langsung menggandeng istrinya menuju kamar.


Buset gue kira gue mau di apain, sumpah lutut gue udah gemetar banget, Renaldi mencengo.


Sandra membisikan semangat pada kakak angkatnya, "Semangat kak sudah dapat lampu hijau kan hehee", cengengesan sambil mengikuti suaminya.


.


.

__ADS_1


.


🖤🖤🖤 Happy reading 😍😍😍😍


__ADS_2