ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
041.


__ADS_3

Fely baru keluar dari kamar mandi, selama di kamar mandi banyak sekali yang dirinya pertimbangkan.


Rafael menatap lekat pada wanita yang sedang membuka lemarinya.


"Benar ternyata ini bukan mimpi atau halusinasi dia ada di sini tidur bersamaku dalam 1 kasur, kenapa istri gue tambah cantik ya", batin Rafael bola matanya masih terus mengikuti gerak gerik Fely.


Fely masuk lagi ke kamar mandi dan mengganti bajunya, tidak mungkin tidak mandi juga karena tadi malam keringatnya bercucuran.


Keluar lagi dari kamar mandi dengan keadaan segar dan rapih, "Ada apa menatapku terus", tanya nya sedikit garang.


Rafael hanya tersenyum tidak menjawab apa apa.


"Stres kali ya dari tadi senyum senyum sendiri", bicara Fely tidak ada lembut lembutnya seperti dulu.


"Aku stres juga pasti penyebabnya kamu".


"Dih ngaca tuh kaca gede, udah tua juga bicaranya hihhh".


"Tidak jadi masalah sudah tua juga yang penting istri muda cantik cerdas, anak tampan cerdas, hidup di masa tua akan sempurna", sebenarnya mikir 100 kali mau bicara seperti ini juga.


"Dimana istrinya pak?".


Haihhh Rafael bisa apa kalau di tanya begini kan, maksud Fely apa, apa mungkin gue tidak akan pernah di anggap lagi.

__ADS_1


"Ya ralat aku punya salah besar sama mereka, jadinya seperti ini hidup sendiri, di buang oleh keluarga besar di buang sama istri dan anak juga", Rafael membalikan badannya, entahlah hatinya begitu sensitif.


Memejamkan mata, apa yang lo tanam itulah yang lo tuai Raf, batinnya perih sesak dadanya sudah pasti.


Tadi berharap hubungannya semakin baik tapi ternyata, Fely semakin jutek.


"Ayo ke rumah sakit, sudah tau sakit tapi tidak mau berobat".


"Aku tidak sakit besok juga pasti sembuh".


"Astagfirulloh kenapa sudah tua bukannya semakin membaik malah tambah keras sih wataknya".


"Tidak usah perdulikan saya biarkan saya mati sekalian, kalian semua sudah tidak perduli bukan, lantas untuk apa hidup juga", badan Rafael sudah bergetar menahan emosi juga sakit hatinya.


Rasanya sudah muak dengan kehidupan yang tidak adil ini, semua orang terdekat membenci dirinya apa yang harus dirinya pertahankan.


Benar saja tiga manusia itu sedang makan siang bersama lagi, Rafael juga melihat anaknya enjoy dan bahagia tanpa dirinya.


"Di kira mati enteng kali".


"Setidaknya kepedihan dunia ini akan hilang, untuk neraka itu sudah menjadi konekuensi saya yang tidak taat pada aturan Allah".


"Astagfirulloh kenapa punya watak keras banget sih".

__ADS_1


"Ya memang seperti ini", berusaha turun dari kasur jalan sempoyongan masuk ke kamar mandi.


Fely hanya melihat meskipun sudah sempoyongan di biarkan saja.


Rafael mencuci wajahnya, kepalanya pening badan terasa lemas dan sekujurnya sakit, kali ini rasa sakitnya tembus sampai jantung dan ulu atinya.


Ternyata waktu 6 tahun tidak cukup untuk mereka memaafkan semua kesalahannya.


Mungkin memang benar semuanya harus di urus secepat mungin dan dirinya pergi lagi dari kehidupan keluarga ini agar mereka semua tenang damai dan bahagia.


Akhhhhhhhhh persetan dengan hidup yang seperti ini, gue benci hidup di dunia yang tidak adil ini, kaca di kamar mandi hancur lebur dengan satu tinjuan.


Kali ini tidak ada airmata yang keluar dari mata Rafael, marah kenapa dirinya di takdirkan seperti ini.


Keluar dari kamar mandi jalan masih sempoyongan tangannya ada satu yang luka kena tusukan beling kaca.


Fely yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, tadi dirinya mendengar teriqkan dan umpatan Rafael dengan jelas.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2