ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
042.


__ADS_3

Rafael mengambil baju ganti dan mengganti bajunya tanpa memperdulikan Fely yang ada di sana, benar benar mengganti semua pakaiannya.


Menggulung tangan yang mengeluarkan darah dengan tissue.


Fely hanya bisa memalingkan wajah, Rafael.memang sudah gila pikirnya.


"Randaaa Ran, Randaaa", teriak Rafael dengan tidak sabar, mengambil ponsel tanpa melirik Fely meskipun ponsel itu ada di samping Fely.


Randa yang memang sudah dari tadi menunggu di ruang tengah apartemen itu dengan cepat mendekat.


"Ada apa?, kenapa?", tanya Randa menunduk.


"Pesankan gue tiket dan urus perceraianku dengannya, ubah semua nama menjadi nama Dava dan elo, silahkan bagi dua, urus semuanya sekarang juga gue tunggu 1 jam sudah harus selesai semua".


"Hei jangan bercanda ini gak lucu, mau pergi lagi silahkan tenangkan diri lagi tapi tidak dengan mengurus dan memindahkan semua ini, gue sudah bilang gue bukan mau harta elo gue mau lihat elo bahagia", air mata Randa bahkan sudah menggenang di pelupuk matanya, mengguncangkan tubuh Rafael.


"Thnaks buat semua pengorbannan elo selama ini, tapi kali ini gue benar benar sudah nyerah, maaf dari orang tua saja masih belum gue dapatkan sampai sekarang Ran gue harap lo ngerti dengan posisi gue", tubuh Rafael ambruk di lantai.


"Kak tinggalkan kami, aku perlu bicara dengannya plis, aku juga tidak akan membunuhnya", mohon Fely pada Randa.


Randa mengangguk, "Lo kuat lo bisa lewatin semua ini, lo pasti setelah ini akan menemukan kebahagiaan", menepuk pundak Rafael lalu pergi keluar dari apartemen itu.


Fely mendekat duduk di hadapan Rafael yang sedang bersandar pada tembok, kepalanya benar benar pening rasanya mau pecah.


"Jangan mendekat pergi sana", ucapnya lemah.


"Maunya di sini".

__ADS_1


"Gue akan kasar jika sudah marah, pergilah dan bahagiakan diri kalian, gue juga akan pergi dari kehidupan kalian untuk selama lamanya".


"Jangan kekanak kanakan kak".


"Itu mau kamu dan semua keluarga kan hahaa gue saja yang bodoh dan tidak tau diri".


"Sini lihat tangannya", Fely berusaha untuk memegang tangan itu namun secepat mungkin Rafael mendekap tangan yang sudah banyak darahnya.


"Kak Rafa plis jangan keras kepala deh".


"Pergi sana gue juga mau pergi dan merobohkan gedung yang tidak berguna ini".


Berdiri dengan segala tenaga dan kekuatan.


"Kakak mau pergi lagi, masih belum cukup membuat Dava selama ini kehilangan sosok seorang Ayah".


"Kamu salah kak, Dava selalu mencari kamu selama ini, belum ada 1 minggu juga tapi kamu sudah mau pergi lagi kamu benar benar jahat sama anak sendiri kak".


"Apa katamu dia mencariku hah, hahahhaa sepertinya itu salah buktinya dia selalu bahagia dengan orang yang kau pilih kan, jangan kau kira aku tidak memantau kalian selama ini, kau pergi makan dan belanja bersama peria lain tanpa kau sadari kau masih istri sahku".


"Dia bukan siapa siapaku kak, aku kenal dengannya dia sahabatku selama ini".


"Sahabat di antara laki laki dan perempuan itu tidak akan mulus persahabatannya", cih Rafael berdecih.


Fely memeluk Rafael sampai mereka berdua jatoh ke lantai tapi sama sama tidak merasakan sakit karena jatoh.


"Kamu manusia paling jahat di muka bumi ini kak", plakks satu pukulan mendarat di tangan Rafael.

__ADS_1


Rafael diam menutup mulutnya lalu menggeram.


"Kamu jahat sama aku dan Dava, jangan kira selama ini aku tidak mencarimu, kamu tidak tau hampir setiap hari Dava menanyakan Papinya kemana dan kapan pulangnya", tangis Fely pecah di atas tubuh Rafael.


"Kamu jahat kamu benar benar jahat dulu aku kira kamu akan membujuku dengan cara apapun tapi kamu malah pergi dan menghilang bahkan Papa saja sampai angkat tangan tidak bisa menemukan kamu apalagi aku yang benar kata kamu bodoh", pukulan kedu Fely tepatkan di dada laki laki yang berada di bawahnya ini.


"Kamu payah kak, aku ingin di bujuk di rayu aku juga perempuan yang menginginkan itu semua dari pasangan", ketigakalinya pukulan itu Fely layangkan ke pundak Rafael.


"Tapi kakak tidak ada usaha seperti itu, itulah yang membuatku benci sama kakak".


Rafael mencerna kata demi kata yang Fely ucapkan di sela sela tangisnya.


Banar sekali dirinya tidak pernah membujuk dan merayu wanita ini agar mendapatkan maaf.


"Kalau mau pergi lagi dari kehidupan kami silahkan pergi, aku akan benar benar mencoreng nama kamu dari akta kelahiran Dava".


"Jangan", Rafael memeluk erat Fely, "Maaf".


.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2