
Sebelum berangkat Fely lebih dulu pulang ke apartemen untuk mengambil barang yang benar benar dirinya butuhkan nantinya.
Padahal Papanya sudah tidak mengijinkan Fely untuk datang lagi ke sana, dengan berbagai alasan sampai di perbolehkan.
Tidak banyak barang barangnya yang di bawa, biarlah nanti orang suruhan Papanya yang akan membereskan semuanya.
Sebelum keluar dari sana Fely menaruh kartu atm yang Rafael berikan padanya, cincin pernikahan dan kertas ucapan perpisahan yang Fely buat bahkan di kertas itu ada beberapa tetesan air matanya.
"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, aku sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan kita kak, hahaa padahal foto foto kita di masa kecil begitu dekat ternyata ya, tapi mungkin memang kita bukan jodoh, aku baru tau dan baru melihat di ponsel Mamaku", tersenyum getir.
Aku pamit kak El, selamat tinggal semoga kakak menemukan wanita yang ada dalam kriteria kakak, Fely terus saja memandang pintu kamar yang biasa Rafael pakai.
Sebenarnya berat namun dirinya sudah terlanjur sakit hati, mau secuek apapun Rafael padanya akan selalu Fely terima tapi tidak dengan bermain perempuan di belakangnya.
Kafe sudah Fely titipkan sama orang kepercayaannya dan akan ada orang Papanya yang sesekali mengecek bagaimana perkembangannya.
.
"Mama aku pamit ya", Ibu dan anak itu berpelukan erat.
"Hati hati sayang kabarin Mama terus ya, ingat jaga diri", bukannya tidak berat melepaskan anak perempuannya, Sandra sadar ini semua juga ada kesalahannya.
__ADS_1
Fely mengangguk, kakinya susah untuk dirinya langkahkan sangat berat.
"Papa aku pamit ya, Papa tenang aja aku oke ko".
"Iya sayang hati hati 1 minggu lagi Papa akan ke sana, jaga diri baik baik".
Cih ternyata melepaskan anak lebih berat daripada dirinya dulu melepaskan Sandra untuk melanjutkan kuliahnya, benar adanya cinta Ayah pada anak perempuannya tidak terhingga dan tidak bisa di ucapkan dengan kata kata.
Fely berusaha tersenyum airmata yang selalu ingin tumpah terus saja iya tahan agar tidak begitu terlihat menyakitkan di mata kedua orang tuanya.
Masuk ke dalam pesawat peribadi yang sudah benar benar papa Pandi urus agar tidak terlacak oleh Rafael, kali ini benar benar wanti wanti karena Rafael bukan orang bodoh juga hampir 11 12 dengan dirinya, toh Rafael anak didiknya juga kan otomatis apa yang Pandi tau Rafael juga akan mengetahuinya, mereka sama sama kuat.
Selamat tinggal tanah air untuk sementara waktu yang tidak bisa aku tentukan sendiri sampai kapan waktunya.
Selamat tinggal kak, aku benci dengan hatiku kak yang ternyata diam diam mencintaimu, ckckck hidupku memang tidak ada kerjaan ya seperti yang selalu kau ucapkan.
Fely terus menangis sampai dirinya lelah dan rasanya air matanya juga sudah kering.
.
"Pah apa yang mau kamu buat, jangan berlebihan ingat di dalam kesalahannya yang paling besar adalah kesalahan kita", ucap Mama Sandra.
__ADS_1
"Sedikit Mah aku tau itu tenang saja", ucapannya biasa namun senyumnya devil.
"Haihh terserah kau lah, untuk sementara waktu jangan sampai dia bisa masuk ke rumah ini".
"Dengan senang hati sayang akan aku kabulkan permintaan mu ini", Pandi terkekeh dengan ucapannya.
Mata tangan dan hatinya sibuk dengan laptop kesayangannya, mengulik apa saja yang anak durhaka itu lakukan selama ini.
Mempersiapkan cara untuk menegur pecundang seperti Rafael.
Ada sedikit menyesal dalam diri Pandi karena telah mendidik anak itu dengan segala pengetahuannya, susah kalau darah pecundang yang mengalir deras di dalam tubuh Rafael.
Ayo anak muda kalahkan orang tuamu ini, monolognya setelah meng klik apa yang tadi dirinya buat.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1