
Sudah berhari hari Rafael di setiap ada waktu dan kesempatan selalu datang ke rumah Papa Pandi, masih sulit untuk bicara dengan Fely, wanita itu terus saja menghindar tidak pernah mau berinteraksi dengannya.
Rafael menemani Dava yang sedang main sebelum tidur malam, setelah makan malam melihat Papinya datang langsung mengajaknya main.
Tidak jadi masalah bagi Rafael bahkan capeknya juga tidak dia rasa, bolak balik kemana mana, kerja pulang pergi demi dekat dengan anak juga.
Suara Dava bagaikan obat dikala dirinya lelah, jam 6 pagi berangkat dari apartemen untuk bisa menyapa anak nya sebelum berangkat sekolah, jam 8 sampai kantor langsung kerja siangnya juga kalau tidak ada meeting Rafael usahakan untuk datang ke sekolah Dava menunggu anak itu sampai keluar dan ikut dengan ibunya, pulang kerja langsung menemui Dava lagi rela membawa baju ganti di mobil di kantor dan setiap sore mandinya selalu di kantor agar bertemu dengan anak dirinya sudah bersih, pulang sampai ke apartemen nya jam 10 malam, tapi Fely masih belum bisa di ajak bicara serius karena jika di tanya selalu menghindar.
"Ini dari siapa sayang?", menangkap 1 mainnan asing dari sekumpulan mainnan yang Dava mainkan, itu semua pemberiannya hanya 1 yang Rafael lihat asing.
"Om Haris Pih".
"Kapan di kasihnya?", penasaran.
"Tadi siang pas Dav sama Mami di ajak makan siang".
Jedarrrr,,,,,, sakit bagai di timpuk batu besar yang langsung menghantam jiwa dan raganya.
Di ajak makan siang berarti memang mereka begitu dekat ada hubungan apa di antara Fely dah Haris, badan Rafael terasa melemas mengingat tutup sudah kesempatannya untuk bisa bersatu lagi.
"Senang main sama Om Haris?", tanya nya berusaha tersenyum.
"Iya Pih, Om Haris baik ko katanya sayang sama Mami sama aku juga".
__ADS_1
Lagi ini sayang katanya, Tuhannn mengapa sesakit ini.
"Dav sudah lama kenal sama Om Haris?".
Dava mengangguk meng iyakan, anak kecil itu tidak tau kalau hati bapaknya sedang hancur lebur.
"Dava bobo yuk sudah mau jam 9", Fely menghampiri Dava dan Rafael yang sedang berada di kamar anak itu.
"Iya Mih", Dava langsung membereskan mainnan nya di bantu Rafael juga.
Rafael terus menunduk rasanya tidak kuat untuk menatap Fely juga setelah mengetahui sedikit kebenarannya dari Dava.
Hatinya sakit dengan kenyataan ini, kadang Rafael juga benci pada dirinya sendiri, kenapa kenapa masih mengharapkan orang yang sudah tidak mau dengan kita lagi.
"Biarkan Papi yang bereskan sayang, cuci tangan sama cuci kaki sana", menyuruh Dava ke kamar mandi, suaranya sedikit serak.
Fely membenahkan kasur yang akan anak nya tempati, mendengar suara serak dan sedikit bergetar dari Rafael menyengit heran.
Kenapa dia ko kaya lagi nangis, batin Fely.
"Papi pulang sayang, tidur yang nyenyak ya besok kita bertemu lagi", mencium Dava berkali kali.
Dava diam saja di cium Papinya padahal dia biasanya merasa risih jangankan sama orang lain sama Fely ibunya saja suka gak betah.
__ADS_1
"Papi ko nangis?, Papi kenapa?".
Cih ternyata gue tidak bisa menyimpan kesedihan ini, "Papi tidak apa apa sayang it's oke hanya beruntung saja sekarang bisa gendong peluk dan cium kamu".
Dava yang mendengar itu memeluk Papinya dan menepuk nepuk pundak Rafael seperti sedang menenangkan bayi yang sedang menangis.
"Papi pulang dulu ya", menaruh Dava di kasurnya, menyunggingkan senyum dan mengusap air mata.
"Bay Pih hati hati, good night".
Rafael tersenyum mengusap kepala Dava, beruntung sekali dirinya karena Dava tidak membencinya sama sekali hanya saja kemauannya untuk berkumpul sekarang musnah sudah harapan itu.
"Saya pamit", Rafael langsung keluar tanpa menatap Fely lagi, tidak kuat rasanya melihat wanitanya akan bersama orang lain, meskipun belum ada perceraian di antara mereka namun di dalam agama maupun negara bisa saja Fely melayangkan gugatan cerai sekarang juga, salah satunya karena tidak rela di tinggal yang sangat lama napkah juga tidak ada, sebab dulu Rafael bilangnya pas menitipkan seluruh isi yang ada di dompet itu hanya bilang untuk membantu biyaya membesarkan anak nya tidak bilang napkah untuk Fely nya juga.
Semua ini bukan salah Fely lagi dan lagi Rafael menyalahkan dirinya sendiri.
Fely semakin di buat anaeh biasanya Rafael lama menatapnya denga tatapan lembut dan tatapan kerinduan.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤