
Muka Renaldi dari tadi masih masam, padahal dirinya sadar kalau di bandingkan dengan anak jendral kalah jauh dari segi ketampannan dan umur juga.
Seli yang sudah malas lebih tepatnya hatinya sedang berkecamuk melang lang buana, banyak yang di takutkan, banyak kemungkinnan kemungkinnan yang akan terjadi setelah ini.
Di dalam mobil itu sangat hening karena Seli masih asik dengan pemikirannya, Renaldi yang semakin di buat kesal merasa di permainkan dan merasa Seli terpaksa menerimanya.
Serrrrreeeeekkkkkk, suara mobil di berhentikan dan di rem dengan sengaja mendadak.
"Astagfirullohalazim, Ya Allah, Ya Allah", kagetnya sampai terjungkel.
Renaldi melirik pada wanita yang ada di sebelah kemudinya, lalu melengos lagi dengan kesal yang sudah memenuhi ubun ubunnya.
"Ya Allah kak Ren kebiasaan banget sih", untuk pertamakalinya Seli mendelik tajam.
"Apa mau marah?, silahkan".
"Cek, gak ada dewasa dewasanya, langsung sensitif terus", gerutu Seli dengan pelan.
"Apa yang kau bilang, kalau ngomong yang jelas, ya memang susah kalau gak suka mah mau di apain juga tetap gak suka".
"Kak kenapa sih marah marah mulu dari tadi heran deh, gak gitu maksudku kenapa aku yang jadi serba salah sih", Akhh ya Allah sabar sabar Astagfirullohslazim, batin Seli.
"Ya karena aku cemburu puas kamu puas, ucapan kamu itu seperti membeda bedakan aku dengannya, ya memang beda bahkan jauh bedanya aku juga sadar, sudahlah".
Seli menggeleng tak habis pikir, kenapa Renaldi seperti ini sensitif sekali, "Kak lihat aku, ucapan yang mana yang membeda bedakan kamu dengannya, ucapan seperti apa ayo kasih tau aku supaya aku bisa memperbaikinya", jika di tanggapi dengan keras lagi akan perang terus jadinya.
Renaldi terpaku mendengar Seli bicara dengan lembut dan pelan, "Aku yang terlalu cemburu, aku yang tak terima jika wanitaku menyebut lelaki lain, kamu wanitaku kamu milikku, pliss jangan sebut yang lain walawpun kamu masih belum mencintaiku, aku merasa mau gila jika lama lama seperti ini", ucap Renaldi dengan lirih.
Memang sangat terlihat jika Renaldi yang sekarang seperti tak terurus, bobot tubuhnya juga menurun, rambutnya tak terawat seperti dulu bahkan jambang nya juga sudah pada terlihat.
__ADS_1
Ya Allah apa cemburu semenyakitkan ini, batin Seli merasa sedikit miris, "Kakak mau percaya?, mau menunggu?, gak mudah jadi aku juga kak, plisss kak ngertiin aku juga".
"Iya maafkan aku yang terus kekanak kanak kan, percayalah aku seperti ini karena terlalu mencintaimu, rasanya tak sudi jika wanita yang aku cintai masih memikirkan peria lain, sejauh apa hubunganmu dengannya?".
"Entah lah bahkan kami baru satu bulan lebih memulai hubungan itu", ucap Seli.
"Akhhhhhhhh", jerit Renaldi prustasi.
"Sudah lah kak, aku memilih mengakhiri kisahku dengannya yang baru saja kami mulai, itu tandanya aku memilih kak Ren, aku mohon kak bersabarlah".
Beberapa saat Renaldi meresapi memahami perkataan Seli, "Sayang boleh peluk, janji peluk doang dikit", pintanya dengan muka melas.
Seli mengangguk, grebb Renaldi memeluknya dengan erat, ini kali kedua memeluk wanita yang sangat di cintainya, "Terimakasih dek terimakasih sayang karena sudah memilihku, aku sangat mencintaimu, aku akan berusaha membuatmu bahagia".
"Jangan kencang kencang peluknya engap tau".
"Kakkk Rennnnnnnnn, tadi bilangnya peluk doang bentar gak ada tambahan lain", kesal sekali rasanya.
"Bonus yang hehee, love you", mengerlingkan sebelah matanya dengan senyuman.
Cih rasanya Seli ingin muntah melihat kelakuan peria yang ada di sebelahnya yang kadang meledak ledak emosinya, pecemburu akut pemaksa banget.
.
.
Sedangkan yang di Rumah seperti sedang pesta rujak dan semua jajannan pinggir jalan, Pandi tak habis pikir istrinya itu hampir memborong semua jajannan, bukan sayang ke duit hanya saja merasa mubajir jika tak di makan.
"Sayang ini semua gimana cara ngabisinnya?", tanya Pandi, bukan apa apa dirinya sering sekali yang di suruh untuk menghabiskan sisa makannan istrinya.
__ADS_1
"Bagiin ke embak rumah, satpam sama tukang kebun by hehehee, ini sepertinya enak semua, aku akan memakan ini dulu gak tau namanya apa sepertinya ini sangat enak, aku belum pernah mencobanya", heboh Sandra.
Pandi memilih menyandarkan punggungnya di sopa ruang tengah sambil terus memperhatikan istrinya makan.
"Papa suapin dong hehee, adik bayi nya minta di suapin sama Papa hebatnya".
Dengan telaten Pandi menuruti permintaan istri tercintanya, badan Sandra semakin berisi karena porsi makan nya bertambah kali lipat.
Sandra sudah habis beberapa porsi namun wanita itu masih asik di suapin lagi dan lagi, suapan dari suami membuat apa yang di makan semakin bertambah lezat.
"Mbak", panggil Sandra pada asisten rumah tangga yang ada di rumahnya, "Bawa jajannan ini bagiin ke semua orang yang ada di rumah, jangan di buang ya sayang ini makannan enak semua, aku sudah kenyang", ucapnya.
"Iya non, terimakasih ya non, den", langsung berlalau membawa keresek putih yang penuh.
"Sayang aku mau ke kamar tapi mau di gendong", rengek Sandra dengan manja.
Pandi langsung menuruti tanpa berkata lagi, menuruti semua kemauan istrinya dengan senyuman, menaiki tangga sambil menggendong istrinya ini bukan pertama kalinya bahkan sering.
Baru saja mau menurunkan nyatanya Sandra sudah tertidur pulas, mungkin karena kekenyangan "Cek pantas mau di gendong ternyata ngantuk, hahaa, aku mencintaimu sayang sangat sangat mencintaimu meskipu caraku beda dengan peria pada umumnya", Pandi beralih mengelus perut istrinya yang sudah mulai ada buncitan, "Anak Papa sehat sehat ya sayang, Papa menyayangimu Papa tunggu sampai kita bisa main bareng", memberi kecupan hangat di perut istrinya.
Setelah itu memilih membersihkan badannya yang lumayan lengket karena tadi panas panasan mondar mandir menuruti semua kemauan Sandra, ada rasa bangga dan puas karena bisa memenuhi kemaun ngidam istrinya.
.
.
.
Happy reading🖤🖤🖤
__ADS_1