
Dari tiga bulan yang lalu merencanakan liburan tapi pas sekalinya liburan hanya seminggu itupun sambil menemani Rafael kerja.
Setelah Rafael menemukan orang yang bisa dirinya percaya, kini perusahaan yang dirinya bangun dari 0 sejak 5 tahun yang lalu di titipkan dengan catattan laporan setiap minggu dan bulan haru lancar, dengan segala kesepakatan, sekarang Rafael dan keluarga kecilnya akan kembali lagi ke negara kelahirah.
"Cepet banget ya hari hari ini tuh kalau di pakai liburan", keluh Fely.
"Kenapa masih betah di sini hemmm, masih mau liburan?", tanya Rafael dengan lembut.
"Pengennya sih, tapi ada karyawan yang harus di pikirkan juga".
"Kenapa mikirin karyawan?", Rafael menyengit heran, apa hubungannua liburan dan karyawan.
"Kalau aku gak bakalan kekurangan atau kelaparan Insya Allah kalawpun gak kerja, tapi beda dengan mereka yang bergantung pada pekerjaan untuk menghidupi anak istri atau keluarga nya, aku gak mau egois terus".
"Ya gak apa apa kalau masih betah mau seminggu lagi?, nanti soal kerjaan aku bantu dari sini sayang", Rafael menangkap muka sedih dari wanita ini sebab mereka sedang siap siap untuk pulang.
Seolah Fely sangat berat meninggalkan negara kecil yang sangat memuaskan dan memanjakan mata juga menenangkan hati.
"Nggak ayo pulang pih", ajaknya meskipun raut mukanya terlihat tidak ikhlas.
Akhir akhir ini sensitif banget istri gue, untungnya gue cinta mati, batin Rafael.
"Aku ikut kata kamu, mau di sini sampai kapan atau mau pulang sekarang, kalau gak besok lagi terserah kamu sayang".
"Dava juga anak itu betah banget di sini sampai tidak memperdulikan aku mau kemana aja, malah dia asik sama karyawan kamu".
"Itu artinya dia pengertian sayang, Dava tau mami nya ingin menikmati liburan makanya dia tidak pernah mempermasalahkan kamu jalan kemana".
"Tau ah, panggil pih ayo pulang mama juga sudah nanyain dia terus".
"Tunggu sebentar ya aku turun kebawah".
Kantor kecil memang Rafael bangun sengaja dua tingkat, di bawah untuk para karyawan kerja di atasnya di jadikan tempat tinggal.
.
16 jam kurang lebih perjalannan udara kini ketiganya mendarat dengan selamat di Indonesia.
Fely sudah seperti orang yang tidak pernah berpergian jauh, wanita itu kini lemah tidak berdaya karena mabuk, selama di pesawat juga tidak membuka mata sama sekali.
Rafael panik setengah mati, setelah mendarat langsung di membawanya ke rumah sakit.
Bukan hanya Rafael yang panik keluarga yang lain juga ikut panik, kebetulan mami Lily juga sedang di sana, niat menyambut anak menantu dan cucu pulang liburan tapi di luar dugaan Fely malah sakit.
"Ko bisa kak pas kesana gak gini kan", tanya mami Lily tidak tenang.
__ADS_1
"Nggak mih sampai sana biasa saja malah dia sangat menikmati liburannya".
"Sudah jangan pada panik dong dia kan hanya mabuk pesawat", papa Pandi merasa sedikit pusing, melihat istri kakak angkat dan menantunya sudah seperti Fely sedang menghadapi penyakit kronis dan sekarat".
"Mau gimana gak panik Pan", hihh dari dulu adik angkatnya ini selalu terlihat tenang mau sebesar apapun masalah yang mereka hadapi.
"Ck santai saja sih kak", malah terkekeh melihat kakak nya marah.
"Mau gimana gak ngomel tiap hari kak emang modelannya kaya gini", kadang mama Sandra juga kesal suaminya ini setiap masalah di anggap sepele.
Padahal bukan tidak panik melihat anaknya sedang berbaring, mabuk perjalannan sudah seperti orang mau sekarat, hanya saja bisa menutupi kepanikan dan kecemasannya.
Tidak lama dokter keluar dari ruang pemeriksaan Fely dengan senyum mengembang, membuat yang dari tadi menunggu dengan cemas menjadi bingung.
Siapa yang tidak kenal dengan keluarga besar ini, dokter di sana bahkan merasa suatu kehormatan bisa merawat di antaranya jika ada yang sakit.
"Jelaskan dok?", Rafael to the point, apa maksudnya dokter ini di kala dirinya panik setengah mati malah dia tersenyum.
"Menurut pemeriksaan saya ibu Fely sedang mengandung, tapi dokter kandungan yang akan memeriksanya lebih lanjut, jadi semuanya jangan terlalu khawatir".
Hah mengandung maksudnya, otak Rafael seketika tidak berpungsi, syok kaget bahagia bingung.
Fely pernah bilang padanya tidak ingin cepat cepat menambah anak, ingin pokus ke Dava dan menikmati waktu mereka bertiga.
Sedangkan Rafael tetlihat sedikit panik, takut Fely marah padanya, takut Fely tidak terima dengan kehamilannya.
Rafael tidak menuntut anak atau apalagi dari Fely selain cinta dan kesetiaan dari wanita itu, dirinya cukup tau diri sebab Fely yang merasakan semuanya, dari hamil melahirkan menyusui dan membesarkan peran Fely yang lebih dominnan.
Dengan cepat Rafael masuk ingin meminta maaf, sungguh laki laki itu terlihat panik juga takut, takut dirinya di salahkan.
"Sayang", melihat muka Fely yang masih pucat menambah Rafael semakin panik.
"Kamu kenapa?", bingung Fely.
"Maafkan aku ya, maaf sayang maaf", airmatanya sudam merembas di tangan Fely.
"Maaf kenapa sih pih, kamu aneh deh".
"Sayang kamu gak akan marah gak akan ninggalin aku kan".
"Kamu kenapa sih kak aneh banget".
Rafael duduk sambil terus memegang tangan Fely, benar benar takut Fely gak terima kalau dirinya hamil, "Kata dokter kamu hamil, maaf ya", air mata laki laki itu semakin deras, apalagi melihat muka Fely tanpa ekspresi.
Hah hamil, secepat itu batin Fely, membalikan badan memunggungi Rafael, sejujur nya melihat muka Rafael yang penuh air mata membuat Fely tidak bisa menahan tawa.
__ADS_1
"Sayang maaf ya ini salahku maaf, hukum aku saja mau di apain juga gak apa apa asal jangn tinggalkan aku pergi".
"Keluar sana", usir Fely.
"Iya aku keluar, tapi plis jangan tinggalin aku ya, maaf sayang maaf".
"Cepat keluar aku ingin sendiri".
Huwaaa semakin membuat laki laki itu takut, mau tetap di sini takut Fely semakin marah, mau keluar juga takut terjadi apa apa sama Fely.
"Cepat aku gak mau mengulangi ucapan yang kedua kalinya".
Setelah Rafael keluar Fely puas tertawa, kenapa suaminya itu bodoh sekali sih.
Kamu itu kadang pintar kadang aneh kak, lucu banget gara gara istri hamil nangis sampai segitunya, minta maaf lagi hahahaa.
Terus apa tadi jangn ninggalin, hahaa masa iya gue keduakalinya hamil tanpa suami lagi, duhhh kak ada ada saja.
Mama Sandra sama Mami Lily masuk di ikuti papa dan Daddy.
Kedua orang tua itu itu juga sudah menangis karena melihat Rafael nangis keluar.
"Kak maksud kamu apa, kamu gak mau mengandung lagi hah kenapa?", pertanyaan mama Sandra seperti mercon.
"Apasih mah hahaa".
"Kenapa ketawa hah?".
"Mah aku gak segila itu".
"Terus kenapa Rafael sampai menangis begitu".
"Dia sendiri yang aneh gak nanya apa apa langsung minta maaf nangis ya sekalian aku kerjain".
"Asyagfirullohalazim kakakkk", huwhhh kenapa Fely mewarisi papanya banget sih.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1