ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
70.


__ADS_3

Pandi terus saja melangkah dalam hatinya dia sudah tertawa puas, sedangkan Sandra yang di tinggalkan begitu saja oleh Pandi benar benar marah, dia langsung mencuci muka nya dengan kasar karena marah juga benci, airmatanya terus saja turun.


Gue benci sama sama elu Pan, mulutnya terus saja berucap benci tapi hatinya berkata lain.


Setelah mencuci muka berkali kali Sandra melangkah sambil terus menunduk tanpa memperhatikan jalan sampai menabrak Pandi.


"Minggir", ucap Sandra, masih terus menunduk air matanya semakin deras, sebab dia tau siapa yang ada di depannya, melihat dari sepatunya dia sudah kenal meski sedikit burem pandangannya karena air mata.


"Kenapa marah marah terus hemm", suaranya terdengar lembut.


"Gue bilang minggir ya minggir".


Yang lain nya hanya menyaksikan sepasang kekasih yang sedang debat itu.


"Lihat ke depan sayang jangan nunduk terus", Pandi mengangkat kepala Sandra.


Dan apa ini tadi di sini masih kosong belum ada apa apa kenapa sekarang, "Maksudnya apa?".


"Ya ini kan yang kamu mau, sudah siap jadi ibu?", tanya Pandi dengan senyuman tengil nya.


Sandra menunduk lagi, rasanya ini hanya mimpi, masa iya sih.


"Jangan nunduk terus baca yang benar", Pandi mengangkat kepala Sandra lagi.


"Malu", Sandra langsung memeluk Pandi menyembunyikan wajahnya ke dada bidang lelaki yang iya peluk.


"Love you", Pandi berbisik ke kuping Sandra.


Ya Allah manusia menyebalkan ko bisa semanis ini, batin Sandra.


"Udahan peluknya nanti saja kalau lagi berdua", bisik Pandi lagi sambil terkekeh.


Sandra malah semakin erat memeluk Pandi, masabodolah dengan orang orang yang ada di sekitar mereka.


"Heii mau terus pelukan Papa gak akan restuin ya", ucap Papa Handra.


"Aaaa Papaaaa", Sandra langsung lari memeluk Papa Handra.


"Anak nakal bisa bisanya bohongin orang tua".


"Maaf", Sandra mendongak.


"Mama yang gak Maafin", ucap Mama Selina.


"Papa, mukanya melas. Mama jahat".

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana menertawakan Sandra.


"Emangnya sudah siap punya keluarga?", tanya Papa Handra lagi, masih memeluk anak nya, terharu anak nya sudah dewasa dan sebentar lagi akan punya kehidupan baru.


"Gak tau", jawab Sandra.


"Ko gak tau gimana sih sayang".


"Siap aja kalau sama abang".


Papa Handra terkekeh mendengar jawaban anaknya, mau gimana, apa dia bisa melepas anak gadisnya yang masih labil ini.


"Mau gak tuh abang nunggu jawaban dari kamu".


"Mau", jawab Sandra dengan cepat.


"Ya bilang sana masa bilangnya ke Papa", semakin di buat terpingkal.


Sandra memeluk Mamanya lagi "Ma, boleh", tanya nya seperti meminta di belikan permen.


"Apa yang boleh?".


"Aaa Mama ngeselin ih".


"Hahaaa, kamu ini kaya minta di beliin permen aja, bahagia kamu bahagia Mama sayang", Mama Selina memeluk erat anak nya.


Pandi yang sudah benar benar mempersiapkan semuanya bahkan mereka akan menikah 3 bulan lagi, benar benar membuat Sandra melongo.


Sejak kapan lelaki ini mempersiapkan semuanya, pernikahan mereka akan di adakan di hotel yang Pandi akan baru resmikan buka juga.


Setelah selesai membahas kapan pernikahan akan di adakan dan tanggal juga sudah di tentukan, yang lainnya pulang karena merasa kasihan sama dua anak kecil yang sudah kelelahan, ini juga sudah jam 8 malam.


Sandra dan Pandi mereka baru mau makan karena tadi belum sempat makan.


"Laper ya", Pandi mengelus kepala Sandra.


"Iya udah dari tadi sore laper nya mah, cuman ada orang ngeselin aja".


"Udah laper di bawa nangis lagi, makin keroncongan gak tuh perut".


"Cacing pada demo bukan keroncongan lagi udah mau semaput juga".


"Kasiang amat", Pandi terkekeh.


Setelah itu mereka makan dengan tenang tanpa ada derama selama makan.

__ADS_1


"Mau langsung pulang?", tanya Pandi.


"Bentar lagi", Sandra tersenyum.


"Senyumnya bikin ngeri deh".


"Kan ngeselin lagi, bisa gak sih tadi udah bikin terbang sampe langit ke tujuh rasanya, sekarang bikin sebel lagi".


"Iya Maaf sayang Maaf", Pandi mencium tangan Sandra.


"Ko bisa sewa ni tempat bisa sediain ini semua juga".


"Bisa dong, kamu masih meragukan calon suami mu ini".


"Dih mulai sombong hahaa, tapi emang ada yang kamu kenal di sini".


"Temenku yang punya ni restoran dan bantu menyiapkan ini semua".


"Punya temen juga ternyata manusia lempeng".


"Pulang yuk udah malam besok mau jalan kemana lagi".


"Kemana aja hehe".


Pandi tersenyum mengelus tangan Sandra yang ada di atas meja itu "Dua hari lagi Seli ulang tahun kado apa yang bagus untuknya ya?", tanya Pandi.


"Dia dulu pernah bilang apa atau mau apa gak".


"Gak ada selain mau liburan ke sini".


"Mobil juga boleh kan sebentar lagi bisa punya sim".


"Takut nakal nantinya kalau di kasih mobil".


"Posesif amat pak, mikirin gimana nanti ke anaknya bakalan gimana ya", Sandra terkekeh geli.


"Kamu juga gak bakalan aku biarin bebas kaya kemarin kemarin sayang".


"Iya suami iya istri bakalan nurut sama suami ko".


Pandi tersenyum mendengar ucapan Sandra. Bahagianya tidak bisa iya jabarkan satu persatu di kala sudah mendapat restu dari Mama dan Papanya.


.


.

__ADS_1


.


🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘


__ADS_2