ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
55.


__ADS_3

Sandra dan Seli sedang jalan berdua ini hari libur, mereka sedang belanja keprluannya, Pandi tadi pagi hanya mengantarkan mereka ke pusat perbelanjaan dan siang ini akan iya jemput lagi.


Bertemu dengan Melisa adalah hari yang sial menurut Sandra dia masih ingat bagaimana Melisa berusaha mendekati Pandi dan sekarang membuat ulah lagi.


Melisa langsung mengambil tas yang Sandra pegang dia langsung membawanya ke kasir.


Geram sudah pasti tas merk dan warna itu sudah Sandra incar incar dari jauh jauh hari.


"Hehh kembaliin tas gue", ucap Sandra.


"Heloww siapa yang bawa duluan untuk bayar itulah pemenangnya", senyum liciknya.


"Cek kau ini apa sih maunya cari gara gara mulu".


"Elu bilang apa mau gue hahaaa bocah yang baru kemaren lahir juga sudah paham kali".


"Dih gak usah ngarep karena lu bakalan percuma ngarepin orang yang tidak pernah mungkin menyukai lu balik".


"Lu liat aja nanti, Pandi bakalan menjadi milik gue, ingat itu", Melisa langsung berlalu sambil membawa tas yang Sandra pilih tadi.


Cek cewek gila itu, apes banget ketemu dia hari ini, gerutu Sandra.


"Kak udah ketemu belum yang kakak mau?", Seli menenteng tas yang iya suka.


"Tas kakk di ambil mak lampir dek", kesal Sandra.


"Mak lampir siapa kak ko bisa?".


"Tau ah dek bikin mood rusak aja tu orang, kamu udah nemu kan?, pulang yuk".


"Udah ini, terus kakk gak jadi beli?", bingung Seli.

__ADS_1


"Tas yang kakk incar udah di ambil orang, udah tar minggu depan anter kakk cari tas yang lain lagi ya, hari ini udah malas", keluh Sandra.


"Yaudah kalau gitu, ayo keluar dari sini Seli juga udah bayar".


Pandi sudah menunggu di tempat yang sudah mereka janjikan tadi pagi, dia tersenyum melihat dua perempuan kesayangannya itu, Sandra dan Seli sama sama membawa belanjaan mereka.


Cek pasti ada masalah lagi mukanya masam gitu, batin Pandi, sudah hapal dengan raut wajah Sandra yang jika ada masalah atau mengganggu hatinya akan langsung masam dan tak bersemangat.


"Kenapa hemm?", tanya Pandi.


"Tau ah tiba tiba ada mak lampir mengambil tas aku".


"Mak lampir siapa?, bingungnya, kenapa dia dek?", Pandi bertanya pada Seli.


"Tadi di tempat tas kita berpisah kata kak Sandra tas nya di ambil mak lampir Seli juga gak tau malampir itu siapa".


"Yaudah mau langsung pulang atau makan siang dulu, baru jam 12 ini".


"Iya bang pulang aja Seli juga udah capek makan belum laper".


"Oke ayo pulang", Pandi mengantarkan Seli dulu ke rumah sebelum dia mengantarkan Sandra.


Di perjalannan juga sangat hening tidak seperti tadi pagi yang begitu rusuh dengan suara Sandra dan Seli, merasa aman kupingnya Pandi namun iya merasa sepi juga.


"Bang aku turun ya, kakk Seli turun ya".


"Iya dek bilang Ibu maaf gak turun gitu ya".


"Iya kak gak apa apa nanti Seli akan kasih tau Ibu".


Seli turun dari mobil Pandi langsung menjalankan mobilnya lagi namun bukan ke arah pulang untuk ke rumah Papa Handra dan Mama Selina.

__ADS_1


Dia menjalankan mobil menuju salah satu tempat yang lumayan jauh dari tempat mereka tinggal.


"Mau kemana?, aku mau pulang malas capek", ucap Sandra dengan tidak bersemangat, ucapan Melisa tadi membuat moodnya berantakan.


"Kemana aja supaya gak cemberut lagi".


"Bang apa kamu bakalan ninggalin aku, sikapku masih kekanak kanakan banget ya mood juga cepet ancur gara gara hal sepele".


"Ngomong apa sih", ucap Pandi tanpa melirik.


"Jawab aja si, pasti kamu juga merasa bosan dengan sikapku yang seperti ini, mangkanya sampe sekarang kamu belum mau memberi tahu Mama sama Papa tentang hubungan kita".


"Gak gitu sayang, aku sedang mencari waktu yang tepat sabar sebentar lagi".


"Terserah kamu lah, capek juga sembunyi sembunyi seperti ini terus".


"Kenapa sih, apa yang membuat kamu menjadi seperti ini?".


"Gak ada, kalau kamu gak serius lepasin aku juga gak apa apa", ucapan Sandra semakin ngelantur, cemburu dan takutnya sudah memenuhi hatinya, siapa yang tidak cemburu dan takut seorang perempuan yang menyukai kekasihnya sangat blak blakan bahwa akan merebut kekasihnya itu, Pandi yang masih merahasiakan hubungannya dari keluarga juga itu yang membuat Sandra semakin takut, takut Pandi hanya main main padanya secara Pandi belum pernah mengungkapkan perasaan nya meskipun perhatiannya sudah lebih dari cukup tetap saja masih merasa ada yang kurang jika lelaki itu belum mengungkapkan perasaan padanya.


Pandi hanya diam saja membiarkan Sandra berperang dengan perasaan nya sendiri, sebab jika langsung di ladeni Sandra akan semakin melantur omongannya kemana mana.


Pandi menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lumaya tinggi, jalan menuju tempat yang Pandi tuju lumayan lancar sebab ini siang hari.


.


.


.


🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2