
Hari demi hari Pandi lewati, kuliah Alhamdulillah lancar lancar saja tidak pernah ada kendala apapun.
Hidup di Jakarta Pandi sudah lumayan mahir dalam hal apapun, yang awalnya was was dan takut, belum paham, sekarang dia sudah bisa semua sudah gak katro katro amat.
Sudah 1 tahun merantau di Kota orang. Niatnya Pandi minggu ini akan pulang kampung, mumpung kuliah nya sedang libur juga, karena bulan depan Pandi sudah di minta pak Handra untuk membantunya mengelola perusahaan nya.
Rasanya tidak sabar untuk bertemu keluarganya, rindunya sangat membuncah memenuhi ubun ubun, rindu masakan ibu rindu di teriakin sang adik rindu nasehat Bapak.
Hari ini niatnya mau meminta ijin untuk pulang kampung selama 1 minggu.
"Pan lu jadi balik kampung?", tanya Renaldi.
"Iya Ren gue hari ini mau ijin balik dulu".
"Iya lu juga kan bulan depan sudah di minta untuk kerja sama pak Handra, semakin sibuk aja nanti lu".
"Iya mangkanya gue mau minta cuti kerja dulu. Lu juga semangat kuliahnya nanti ya, belajar sungguh sungguh kita sukses bareng ya haha, sambil di iringi tawa di akhir".
"Iya gue mau belajar dari elu Pan, nyesel gue sekarang mah, kenapa gue sebodoh itu dulu ya pas sekolah, ngehambur hamburin duit orang tua, sekarang gue udah kena karmanya".
"Itulah pelajaran hidup Ren, yang penting lu sekarang niat dengan sungguh sungguh, tunjukin kalau lu bisa, semangat", Pandi menyemangati Renaldi.
Setelah sedikit mengobrol mereka melanjutkan pekerjaan masing masing lagi.
selesai makan siang ini Pandi niatnya mau menemui pak Handra.
Mengetuk pintu, setelah mendapatkan ijin Pandi masuk ke ruangan itu.
"Assalamualaikum, permisi pak".
"Ehhh Pan Walaikum salam, ada apa?", tanya pak Handra.
__ADS_1
"Pak sebelum saya mengajukan cuti, saya meminta ijin dulu ke pak Handra, dalam 1 minggu depan saya mau pulang kampung dulu, mau melihat bagaimana keadaan keluarga saya di sana".
"Ohh iya silahkan saja Pan, kamu juga belum pernah mengambil libur mu bukan, silahkan saja saya tidak akan melarangnya karena itu juga hak karyawan".
"Iya terimakasih pak, kalau begitu saya permisi".
"Iya, sampaikan salam saya kepada kedua orang tuamu Pan, mana nomer rekeningmu, saya titip uang untuk keluargamu", ucap pak Handra.
"Ya Allah Terimakasih pak, semoga rejeki pak Handra Allah kembalikannya berkali kali lipat", Do'a Pandi.
Minta cuti untuk 1 minggu Pandi tidak susah. Karena selama 1 tahun kerja di sana dia tidak pernah absen kerja.
Besok juga dia akan pulang karena besok hari sabtu, pulang kerja Pandi niatnya mencari oleh oleh untuk Ibu Bapak dan adiknya, tidak lupa untuk tetangga tetangga yang sering membantunya dari dulu sampai sekarang.
Setelah mengumpulkan semua oleh oleh yang dia beli Pandi langsung mengepak nya, supaya besok pagi langsung pulang tidak ribet lagi pikirnya.
Hanya baru memikirkan nya saja Pandi sudah senang dan mengembangkan senyum nya yang sudah hilang selama 1 tahun ini.
Dalam perjalannan ini rasanya sangat lama sekali, sengaja dia tidak memberi tau dulu kalau dia akan pulang, ini adalah kejutan pikir Pandi. 3 jam perjalannan menggunakan kereta, setelah itu menggunakan ojek lagi menuju rumahnya.
Sampai depan rumah, sudah terdengar suara cempreng adiknya yang sangat dia rindukan, tak terasa menetes air matanya, selama 1 tahun ini dia hanya mendengar suaranya doang, orang orang yang dia sayangi itu.
Pandi sengaja memakai jaket mantel dan masker, agar orang orang tidak mengenalinya.
"Assalamualaikum, Pandi mengetuk pintu".
"Walaikum salam, teriak Ibu dari dalam, Seli coba lihat siapa itu di depan Ibu lagi tanggung nak". Seli membuka pintunya.
"Walaikum salam, cari siapa ya pak?", tanya Seli karena Pandi memakai masker jadi Seli tidak mengenalinya.
Bentuk tubuh Pandi yang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda, sekarang badannya lumayan berisi dan kekar peria 20 tahun itu dari segi tubuh dan wajah sangat sempurna.
__ADS_1
Tidak kuat untuk lama lama berpura pura, karena rindunya sudah tidak ter tahan.
"Adek abang, Pandi memeluk adik kesayangannya dengan erat, menjatuhkan tas yang dia tengteng", Seli yang di peluk tiba tiba langsung mematung, entah lah dia kaget.
"Siapa, jangan peluk peluk, Ibuuuuuu teriak Seli", Seli berteiak setelah sadar dari keterkejutannya.
Pandi membuang maskernya, bodoh dia manakuti adiknya sendiri.
"Dek ini abang jangan takut ya", ucapnya memegang bahu sang adik. Setelah Seli meneliti muka sang kakak mereka berpelukan menangis haru lagi.
"Abang Pandi huwaaaaa tangis Seli kencang, tidak bisa berkata kata lagi, rindunya kepada sang kakak kini terobati.
"Siapa nak kenapa teriak teriak", ucap Bu Mirah panik sendiri mendengar Seli berteriak kencang tadi.
"Bu ini abang Bu", ucap Pandi sambil merentangkan sebelah tangannya".
"Kamu Pandi anak Ibu?", tanya bu Mirah karena dengan kaget bingung. Pandi menangguk.
Mereka bertiga berpelukan, bu Mirah menangis sejadi jadinya, dia rindu dengan anak sulungnya, rindu sangat sangat rindu.
Rindu seorang ibu kepada sang anak tidak akan terukur seberapa besarnya.
Setelah lama berpelukan dan menangis menumpahkan segunung kerinduan. Pandi baru sadar kalau Bapaknya tidak ada.
"Bapak kemana Bu dek", tanya Pandi.
Bu Mirah dan Seli saling pandang, setelah itu mereka menangis lagi memeluk Pandi.
Pandi bingung bukannya di jawab pikirnya kenapa pada nangis, perasaan nya sudah takut was was ada apa pikir Pandi.
π€π€π€
__ADS_1
Selamat membaca, dukung karya Utor dengan like dan comment ya, di kasih bunga juga Alhamdulillah heheeeπππ