ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
64.


__ADS_3

Renaldi sudah bersama Nyonya Lily, tadi pas di dalam walawpun menangis hanya sebentar beda dengan sekarang wanita itu bahkan sangat rapuh, tidak bisa banyak yang Renaldi lakukan selain hanya menemani dan mendengarkan luapan amarah wanita itu.


"Ren", Pandi menepuk bahu Renaldi.


"Pan, kasian sekali beliau".


Pandi mengangguk, sebenarnya dia tidak tega melihat perempuan yang menangis bahkan sampai terduduk di pinggir jalan, setelah hampir setengah jam Nyonya Lily juga sudah tidak meraung seperti tadi, Pandi berusaha mendekat dan mengajak bicara.


"Nyonya Maafkan saya", ucap Pandi.


"Kamu tidak salah, justru saya berterimakasih ke kamu karena telah menyadarkan saya, bertapa bodohnya saya percaya begitu saja sama penghianat sepertinya".


"Bangunlah Nyonya", Pandi membantu Nyonya Lily berdiri, sedikit terhuyung karena wanita 35 tahun itu mungkin sudah kehabisan tenaga karena telah meluapkan amarah dan menangis sejadi jadinya.


Menyesal karena telah percaya pada lelaki penghianat, menyesal karena dulu tidak mendengar apa kata Ayahnya, sekarang Ayahnya sudah tidak ada menyesalpun sudah tidak ada gunanya, yang sekarang iya bingungkan bagaimana menjelaskan pada anak anak nya nanti jika bertanya kemana Ayah nya.


Pandi membawa Nyonya Lily ke rumahnya, dia bingung mau membawa kemana wanita yang sedang rapuh ini, tidak mau ada pitnah dan juga salah paham nantinya Pandi lebih memilih membawa wanita ini ke rumahnya.


Sampai rumah dan Nyonya Lily sudah lumayan tenang dengan Ibu dan adiknya juga, Pandi langsung ke kantor polisi karena masih banyak yang harus iya urus.


Jam 11 siang Pandi baru bisa balik lagi ke rumahnya setelah mengurus penangkapan Daren dan Stela, Stela yang histeris karena tidak mau di penjara berbeda dengan Daren yang hanya diam saja tanpa ada perlawannan apapun, yang lebih Daren pikirkan sekarang bagaimana istri dan anak nya, dia menyesal karena telah menyia nyiakan permata yang begitu berharga demi batu kerikil seperti Stela.


Menyesal tapi ini sudah terjadi, bertapa bodohnya dia karena bisa terjerumus ke jalan yang sangat sangat salah.


.


.


Sampai rumah Pandi baru juga masuk sudah mendapat delikan tajam dari wanita yang sedang duduk di ujung sopa.


Akhh asal jangan ada perang aja deh, batin Pandi, lagian ni anak kenapa ada di rumah bukannya di kantor.


Tidak bisa menghindar Pandi yang langsung di peluk oleh Nyonya Lily, membuat wanita yang ada di ujung sopa semakin mendelik tajam.


"Nyonya Maaf", Pandi berusaha mengurai pelukan wanita itu.

__ADS_1


"Terimakasih Pandi Terimakasih karena sudah membantu saya membongkar bagai mana kebusukan lelaki itu di belakang saya".


"Iya sama sama Nyonya, Maaf ya", Pandi langsung menjauh.


Walawpun terlihat bahwa wanita yang telah memeluk kekasihnya itu beda jauh umurnya namun yang namanya cemburu ya cemburu, cinta kan tidak memandang umur.


Sandra juga baru sampe sana bahkan mereka tadi hanya duduk sendiri sendiri saja tanpa ada sepatah katapun obrolan dari mereka, Seli yang sedang sekolah dan Bu Mirah sedang membeli sayur di depan, membuat Sandra sangat curiga dengan perempuan itu kenapa tiba tiba ada di rumah Pandi.


"Pan bisa kita bicara berdua", ucap Nyonya Lily.


"Maaf Nyonya saya tidak bisa, bicaralah di sini apa yang ingin Nyonya bicarakan", Pandi melirik ke arah Sandra dan muka Sandra semakin merah menahan amarah.


"Dia kekasihmu ya", tunjuk Nyonya Lily.


Bukan, ucap Sandra dengan tegas berbarengan dengan Iya, ucap Pandi juga sangat tegas.


"Kalian ini gimana sih yang satu iya yang satu lagi bukan".


Sandra diam dan langsung membuang muka setelah melihat Pandi yang malah menampilkan senyuman kepadanya.


"Maaf Nyonya, memang dia bukan kekasih saya tapi calon istri dan calon Ibu dari anak anak saya".


"Kalian serasi emang yang satunya cantik dan satunya lagi tampan, pintar juga pekerja keras".


"Terimakasih Nyonya".


"Jangan panggil saya Nyonya Pan, saya masih muda geli sekali rasanya di panggil Nyonya risih juga, panggil kakak saja".


"Itu sangat tdak sopan Nyonya".


"Pan berhenti memanggil saya Nyonya, panggil kakak saya gak tua tua banget ya, masih bisa cari perajaka kata Ibu juga saya masih cantik muda juga pintar", sedikit terkekeh meskit dalam lubuk hatinya terasa nyeri.


"Baiklah kak", ucap Pandi.


"Heii kamu siapa namanya?, udah jangan cemburu cemburu lagian mana bisa Pandi berpaling dari kamu saya peluk juga tadi dia tidak mau", ucap Nyonya Lily.

__ADS_1


"Sandra Nyonya", ucap Sandra sebenarnya dia merasa malu karena tadi sudah banyak menduga duga dan juga menerka nerka.


"Ini lagi anak satu Nyonya Nyonya, panggil Kakak saja", Lily berusaha melupakan kejadian tadi pagi yang membuat sesak dadanya, Bu Mirah sudah banyak sekali memberi nasehat juga dukungan padanya bahwa dia tidak boleh terpuruk apalagi berlarut larut dengan kesedihan nya, ada anak anak nya yang harus dia pikirkan dan jaga juga.


"Iya kak", ucap Sandra.


"Pan sore saya akan pulang lagi, urusan mereka berdua saya serahkan ke kamu apapun yang akan kamu lakukan".


"Tidak mau menemuinya dulu kak?", tanya Pandi.


Lily tersenyum meski sakit hatinya belum pulih namun rasa sakitnya sedikit sedikit menghilang apalagi setelah bertemu Bu Mirah yang sudah memeluknya erat di kala hatinya sedang hancur sehancur hancurnya, rasanya sekarang dia punya Ibu dan adik juga setelah mendengar Pandi dan Sandra memanggilnya kakak, "Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Pan, semuanya sudah jelas bahkan aku akan segera mengurus perceraian kami juga", ucapnya sambil menunduk.


"Pikir pikir dulu jangan langsung mengambil keputusan, bukannya aku mau ikut campur tapi kakak juga harus memikirkan anak anak kakak".


"Iya akan ku pikirkan lagi, Terimakasih atas sarannya".


"Iya untuk sekarang biarkan dia merenungi kesalahannya dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya selama ini".


"Aku ingin memeluk kalian", air mata wanita itu kini luruh lagi meski sudah sekuat tenaga iya tahan.


Sandra yang merasa bingung dengan apa yang mereka bicarakan hanya bisa melirik kiri dan depan nya, meski dengan bingungnya Sandra memeluk Kak Lily, Pandi juga memeluk wanita itu memberikan kekuatan.


"Terimakasih, jadilah adik adikku aku sekarang hanya punya anak anak, Ibuku meninggal pas aku masih bayi dan Ayahku juga sudah tidak ada 3 tahun yang lalu".


"Semangat kak, Sandra tersenyum memeluk wanita itu lagi. Nanti kalau ada waktu kita berkumpul juga dengan Mama dan Papaku mereka pasti senang bertambah anak hahaaa".


"Kau ini, cepatlah kalian menikah jangan lama lama pacaran dosa".


"Huhhh entah kapan kak bahkan orang tua saja belum ada yang tau tentang hubungan kami", ucap Sandra menyindir Pandi.


Sedangkan yang di sindir dengan santainya menyandarkan kepala dan memejamkan mata sejenak, capek lelah dan belum tidur sama sekali dari kemarin.


.


.

__ADS_1


.


🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘


__ADS_2