
Makan siang bersama, kini semuanya sudah kumpul kecuali Sandra yang tidak ada di meja makan itu.
"Makan yang banyak nak anggap ini rumah kamu juga", ucap Mama Selina pada Reja.
"Iya terimakasih tante", ucap Reja tersenyum lembut, keluarga ini adalah contoh keluarga impian baginya, keluarga yang penuh kelembutan dan kasih sayang, pantas Lily selalu membanggakan mereka semua, batinnya.
Selama makan tidak ada obrolan di antara mereka, hanya ada sedikit bunyi antara sendong dan piring, bahkan kedua anak Lily yang masih kecil juga sangat di siplin selama makan tidak boleh ada yang bicara.
Selesai makan mereka berkumpul lagi di ruang keluarga, tentunya tidak dengan Papa Handra dan Renaldi, mereka berdua kembali ke kantor lagi karena ada meeting penting siang ini.
Tidak lama kumpul di ruang keluarga itu, Reja segera pamit, karena dirinya juga banyak kepentingan, pekerjaan nya sedikit tersisihkan karena dirinya pokus mengambil hati Lily selama berbulan bulan ini.
"Tante saya pamit ya", Reja menyalami kedua orang tua di sana.
"Loh cepat amat nak, harus ke kantor ya", ucap Bu Mirah sebab beliau sedikit tau tentang Reja, karena pernah main ke rumah nya juga.
"Iya tan ada kerjaan mendadak", ucapnya sambil tersenyum.
"Ya sudah hati hati di jalannya, semoga kerjaan nya lancar ya".
"Aamiin terimakadih tan", beralih ke Pandi lagi, "Pan gue pamit ya".
"Ya hati hati Rej", ucap Pandi sambil menepuk punggung Reja.
Lily hanya diam saja di lewatin juga, "Aku pulang", pamitnya, hanya itu yang di ucapkan Reja, sebenarnya dia berharap Lily mengantarnya ke depan namun hanyalah harapan nyatanya Lily malah duduk diam saja di sopa itu, semakin membuatnya mendengus sebal.
__ADS_1
.
Pandi setelah mengantar Reja ke luar dirinya juga masuk ke dalam kamarnya, banyak kerjaan yang harus iya selesaikan.
"Ko masuk emang tamunya udah pulang", tanya Sandra.
"Reja kurang penting sayang", ucapnya sambil mengambil laptop, lalu membawa laptop itu ke kasur yang ada istri dan anak nya di sana.
Kerja sambil menemani istri itulah kegiatan Pandi selama 4 hari ini.
"Terus yang penting apa?", tanya Sandra lagi.
"Keluargaku, Istriku dan ini anak Papa", Pandi mencium gemas anaknya.
Fely seolah mengerti ucapan Mama nya, iya mengedipkan matanya, aksi bayi itu sukses membuat Sandra tertawa.
"Tuh kan Pah, anak nya yang baru 4 hari aja udah tau".
"Itu pas kebetulan aja Mah", Pandi tak terima karena sang anak memihak pada ibunya.
Pandi dan Lily memutuskan panggilan mereka dengan sebutan Mama Papa agar sejak bayi anak nya mengerti yang mana Mama nya dan mana Papa nya.
"Kamu tau gak gimana hubungan kak Lily dengan mas Reja?", dari tadi Sandra penasaran dengan dua orang itu.
"Aku kurang begitu tau, yang pasti kak Lily sepertinya masih ragu dengan semua peria kecuali aku Papa dan Renaldi", Pandi begitu paham dengan sorot mata sang kakak.
__ADS_1
Tidak iya pungkiri kakak nya juga sepertinya ada perasaan pada lelaki itu namun ketakutannya lah yang membuatnya terus berusaha menutup hati.
"Ohh pantas saja aku tadi melihat mereka berdua sepertinya ada yang janggal".
"Ya seperti itulah, apalagi umur Reja di bawah umurnya Lily, bahkan perbedaan umur mereka lumayan jauh".
"Tidak apa asalkan mas Reja menyayangi kakak dan anak anak nya".
"Tadi saja Reja sempat cemburu ke Renaldi mah hahaha", Pandi merasa lucu melihat tingkah dan mimik muka Reja tadi pas di dapur.
"Hahh serius Pah, kenapa emangnya?", keponya Sandra, akhhh sayang sekali dirinya tidak bisa gabung tadi.
"Kakak meluk Renaldi lumayan lama", Pandi terus terkekeh, membayangkan kejadian tadi siang.
"Hahaaa posesif amat ya ma Reja".
Sandra terus saja tertawa mendengar cerita dari suaminy, selama berada di bawah tadi.
.
.
.
Happy reading🖤🖤🖤
__ADS_1