
Jiwa pembisnis Rafael memang sudah melekat ada pada dirinya, yang awalnya hanya berjualan biasa untuk mencukupi kebutuhan sehari harinya kini semakin meningkat dan terus meningkat.
Menjadi salah satu pendatang dan penduduk baru membuat Rafael susah payah bahkan hanya untuk makan sehari haripun.
Kini marketingnya sudah mulai di akui di negara ini, meskipun sudah mulai berdiri lagi Rafael tetap tidak mengubah penampilan, menjadi peria berbaju biasa dan berkacamata, berkumis tipis semakin terlihat tampan dan manis, jauh berbeda dengan Rafael lima tahun silam.
Tidak pernah mencari tau bagaimana keadaan keluarga yang dirinya tinggalkan di momen yang harusnya sangat bahagia untuknya.
Bukan tidak mau, bukan tidak rindu lebih ke menutup diri dan sadar diri kalau sudah tidak di anggap lagi.
Entah kenapa hari ini dirinya ingin membuka situs web dan mencari tau bagaimana keadaan keluarganya di sana, sudah pasti berita mereka bertaburan di sosial media dan media masa.
Satu persatu tentang bagaimana keluarganya Rafael buka, pertama Papa Pandi yang masih selalu menjadi topik trend, "Papa tetap tidak bisa tersingkirkan meskipun sudah ber umur", tersenyum membaca berita tentang mertuanya.
Semuanya Rafael lihat, "Dava, tampan sekali kamu sayang tingkahmu menggemaskan, anak Papi banget gayanya, tapi Papi sudah berubah nak hehehee", membuka propile tentang DAVA YUNANDA NASUTION, "Kamu pemenangnya sayang semua marga di bawa ya, Papi berterimakasih pada ibumu yang sudah merawatmu dengan baik.
Dengan dada bergemuruh membuka propile tentang Felysia, deg deg deg, entah kenapa ada rasa takut lebih banyak rindu dan merasa bersalah.
Satu persatu membacanya dengan detail, "Hebat kamu dek, menjadi wanita karir dan single mom, semakin cantik dan berwibawa", terus membuka sampai bawah, deg jantungnya terasa berhenti di kala menemukan sepenggal berita dimana Fely sedang dekat dengan salah satu pengusaha juga, umurnya juga sepantaran.
Nyeri perih sesak dada, air mata Rafael terjun bebas apalagi melihat anaknya berada dalam gendongan laki laki itu.
"Papi masih ada di dunia ini sayang, Papi harap kamu kelak mau mengakui kalau ini ayah kandungmu".
__ADS_1
Menakis rasa nyeri hati, kubur dalam dalam rasa cinta dan rindumu padanya El, monolog Rafael.
"Kamu memang tidak pantas bersanding dengannya, Bismillah ikhlas", menepuk dadanya dengan kuat.
Berniat untuk merampungkan kerjaan minggu depan akan turun ke negaranya, menyelesaikan masalah yang masih numpuk, bertemu dengan anak yang kedua kalinya, Rafael tidak yakin anak nya akan mengakui kalau dirinya Ayahnya, apalagi melihat banyak sekali momen laki laki itu memangku Dava.
Ikhlas memang sulit dan sakit tapi Rafael akan berusaha untuk melewati semuanya.
Di negara ini juga bukan tidak ada yang terang terangan menawarkan diri, namun sudah tidak ada kemauan dalam dirinya untuk menerima wanita lain masuk ke dalam hidupnya.
Tidak menyalahkan Fely dekat dengan siapapun Rafael tidak egois, yang di salahkan tetap dirinya sendiri, semua ini terjadi juga karena atas kesalahannya.
.
.
Tapi kali ini kerjaan nya mendadak ke luar kota, "Sayang Mami hari ini mau ke luar kota, maaf ya nanti kamu di jemput Oma dulu".
"Iya Mih gak apa apa", anak itu nurut dan ceriwis jika di dalam rumah berbeda jika di luar rumah, percis seperti Rafael kecil.
"Opa, Oma aku berangkat ya", di biasakan menyebut Opa Oma ke orang tuanya agar Dava mengikutinya dengan benar.
"Hati hati sayang, sama asisten kamu kan".
__ADS_1
"Iya Oma, yaudah kami pamit ya".
Setelah pamit mereka berangkat seperti biasa, di jalan Dava banyak bertanya pada Maminya, pertanyaan yang sering anak itu tanyakan dan sekarang di tanyakan lagi.
"Mih, Papi masih belum pulang ya dari kerjanya?", sebentar lagi ada kenaikan tingkat TK, yang lain pasti lengkap ada Mami Papinya pikir Dava.
Haihhh Papi lagi yang di tanyakan, batin Fely. Dava sekarang sudah besar sudah banyak mengerti dan bertanya kemana Papinya.
"Pulang kak kalau lo ingat punya anak, lama lama gue beri gelar alm juga akuinnya ke anak elo", batin Fely.
Sadis banget Fell orangnya masih hidup juga, raganya yang masih hidup tapi jiwanya mungkin sudah mati karena kebanyakan ngebatin.
"Iya sayang mungkin setahun atau dua tahun lagi Papi akan pulang temuin kamu", Fely tersenyum kecut.
"Yeyyy semoga Papi cepat pulang dan membelikan mainnan sama kaya Opa kalau pulang dari jauh".
"Aamiin", ikhlas 1000x ikhlas Fely meng Aamiin kan do'a anaknya itu.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤