ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
16. Pagi Yang Memalukan


__ADS_3

Setelah siap siap untuk berangkat ke sekolah Sandra menuruni anak tangga untuk sarapan dengan dengan kedua orang tuanya.


"Good Morning My Mommy and My Daddy, my segalanya my hidup dan matiku", sapa ceria Sandra memasuki meja makan.. Ehhhh kagetnya ternyata ada orang lagi di sana selain Mama dan Papanya.


Malu bukan main rasanya mau menghilang saja dari dunia ini.


"Nahh malu kan, anak gadis teriak pagi pagi", ucap Papa.


"Kalah sama abangnya yang dari jauh sudah duduk di meja makan", sindir Mama.


Sedangkan Pandi hanya tersenyum saja melihat tingkah Sandra yang malu padanya.


"Duduk sini, jangan malu malu", ucap Pandi, mengajak Sandra duduk.


"Ehh iyyy...aa", mau gimana lagi terpaksa memendam malu.


"Nanti kalau weekend, kalian jalan berdua ya, sekalian mengakrabkan diri, harus saling sayang harus akur ya, Sandra ngerti kan apa yang Mama maksud, anggap bang Pandi ini abang sendiri", petuah Mama Selina.


"Iya Ma", ucap mereka barengan.


"Pandi hari ini anter jemput Sandra ke sekolah bisa gak?, sopirnya tadi pagi pulang kampung ada keluarganya yang meninggal, Papa hari ini jadwal padat harus meeting sama klien".

__ADS_1


"Bisa Pa bisa", jawab Pandi.


"Ehhh aku naik taxi aja Pa", tolak Sandra.


"Gak bisa, kamu harus di antar jemput kalau gak pasti ngelayap". Ucap Mama.


Bukan tida mau di antar Pandi, tapi Sandra merasa jantungnya tidak aman, hanya di lirik saja sudah dag dig dug, apalagi naik motor bareng ohhhh tidak, bisa bisa hatinya meledak.


Mau gimana lagi terpaksa, ini semua juga karena kesalahannya taun lalu pulang sekolah malah jalan jalan sama temennya pulang malam.


Setelah sarapan mereka berangkat.


"Pakai helmnya, biar aman", ucap Pandi.


"Panggil abang aja, kamu adikku sekarang sama kaya Seli, itupun kalau kamu mau menganggap aku Kakak, kalau enggak juga gak apa apa, Maaf mungkin membuatmu tidak nyaman dengan kehadiranku". Ucap Pandi dengan tulus.


"Ngomong apa sih, apapun keputusan Mama sama Papa aku harus menghargai mereka, lagian gak buruk juga kan punya abang hahaa", Sandra tertawa senang, entah rasa apa yang sekarang dia punya terhadap pemuda yang ada di depannya itu.


Krek, tanda helm sudah terpasang di kepala Sandra.


"Baiklah, ayo kita berangkat takut kamu kesiangan nanti, pegangan takut jatoh", titah Pandi.

__ADS_1


Menaiki motor dengan Pandi ini baru pertama kalinya dia naik motor, memeluk Pandi dari belakang.


Ada rasa takut juga ada rasa yang aneh, jantung gue rasanya mau copot, batin Sandra.


Sampai sekolah Sandra turun dari motor, Pandi merapihkan rambut Sandra yang lumayan berantakan karena helm.


"Maaf ya, berantakan rambutnya hehee, nanti kalau abang sudah bisa beli mobil sendiri kita naik mobil ke skolahnya".


"Gak apa apa bang, tapi jangan ngebut lagi kaya tadi ya, mau copot ni jantung rasanya".


Pandi tertawa mendengar ocehan Sandra, membuat Sandra bengong tercengang. Buset ganteng banget ternyata abang gue, jadinya pengen jadiin suami deh, batin Sandra.


Apasih jauh banget menghayalnya, Sandra mengerutuki dirinya sendiri, menampik rasa yang sudah mulai tumbuh di hatinya.


Selama di sekolah Sandra masih terbayang banyang memeluk Pandi dari belakang saat naik motor, perhatian Pandi ketampannan Pandi, akhhhh membuatnya gila


.


.


.

__ADS_1


❤❤❤


Selamat membaca, jangan lupa like ya😘🙏🙏


__ADS_2