
Beberapa kali bolak balik Jakarta Lombok sudah berbulan bulan juga, Rafael membuat kesenangan barunya melampiaskan khawatir, rindu pada istrinya dengan cara membuat beberapa Vila di sana.
Setelah makan siang dirinya ingin menghabiskan waktu di pantai sendiri, menikmati angin pantai dan keindahan alam yang masih terasa alami.
Memilih tempat yang sepi, memakai masker, topi menggunakan baju biasa agar tidak ada yang mengenalinya, Rafael benar benar ingin menyendiri beberapa bulan lagi 1 tahun di tinggalkan istri entah kemana.
Sampai sekarang pencariannya melalui media internet, jaringan dan orang orang suruhannya masih belum membuahkan hasil.
Bukan hanya menyuruh orang kadang Rafael juga pulang pergi ke negara satu dan satunya lagi, sudah beberapa negara dirinya kunjungi tetap tidak ada hasilnya.
Membuat Vila di sana sengaja agar suatu saat jika istrinya kembali dirinya sudah punya tempat untuk menghabiskan waktu berdua nantinya.
Napsu makan dan keanehan keanehan lainnya sudah tidak di rasakan lagi, membuatnya sukses menjalankan perusahaan bahkan mengambah beberapa cabang.
"Ran lo tunggu di mana aja, atau lo mau sewa cewek silahkan".
"Tidak pak saya masih takut dosa", ucap Randa dengan cepat menggelengkan kepala.
"Ya bagus kalau lo ingat dosa, terserah lo mau kemana saya ingin menghabiskan waktu sendiri di tempat sepi".
Sakit hati dan rindunya pak Rafael mungkin jika bisa di liat sudah menggunung, batin Randa.
__ADS_1
"Saya akan memantau bapak dari jauh", kekehnya.
"Saya tidak apa apa Ran, ini menggunakan masker, kacamata, topi dan baju biasa orang lain tidak akan mengenali saya".
Bulan bulan ini Rafael kerap di perbincangkan di media atau tv, terkenal dengan pemuda sukses di umur yang masih muda dan berbakat, maka dari itu Randa harus benar benar menjaga bosnya dari kerumunnan ibu ibu.
"Ya silahkan pak nikmati liburannya".
Liburan Rafael sambil kerja dan benar benar tidak ada rencana di agendanya.
"Terserah kau lah, ingat jangan terlalu dekat juga lo".
Randa mengangguk kalau tidak di iyakan bisa bisa sampai sore membahas itu terus.
hampir 1 kilo berjalan sendiri karena pantai sedang ramai pengunjung jadi sangat susah menemukan tempat yang sepi.
Merebahkan badan di atas pasir memejamkan mata menggunakan earphone sesekali kakinya terkena ujung air laut.
Merasakan sedikit ketenangan jiwa dan raganya, Rafael benar benar menikmati kesendiriannya ini.
Hampir 1 jam memejamkan mata, duduk meliat di mana ujungnya laut, melirik ke samping bertapa kagetnya ternyata ada ibu hamil juga di sana yang lumayan dekat dengannya.
__ADS_1
"Ck suaminya kemana coba membiarkan istrinya sendirian di pinggir pantai seperti itu", menggelengkan kepala karena tidak habis pikir.
Wanita itu menggunakan baju pantai, memakai kacamata juga rambutnya terus menerus menutupi muka karena hembusan angin yang sangat kencang, wanita itu terus berjalan dan sesekali membenarkan rambutnya.
Tidak begitu jauh dari tempat Rafael duduk.
"Di bilang bego sudah pasti tidak mau, sudah tau pergi ke pantai tidak menggunakan ikat rambut, dasar wanita", gerutunya.
Semakin jauh melangkan tanpa menoleh ke arahnya, Rafael menggeridik, "Hihh jangan jangan dedemit pantai ini", terkekeh sendiri.
Merebahkan badannya lagi menatap lurus pada wanita yang semakin jauh darinya, "Mungkin jika kita sudah bersatu dan kamu hamil akan seperti itu dek", Rafael tersenyum membayangkan Fely hamil seperti wanita tadi.
"Felyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy", teriaknya kencang, "Pulang sayang kakak rindu", lepas tetesan air mata dari matanya, Rafael sering menangis jika sedang rindu dan mengingat kesalahannya pada Fely.
Rindu yang sudah tidak terbendung, rindu istri rindu keluarga yang selalu hangat padanya.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤