
Rafael mengira Papa Pandi akan mengusirnya tapi ternyata salah.
"Ganti pakaianmu saya tidak mau cucu saya terkena kuman atau virus dari luar karena pakaianmu itu kotor".
"Pah", akhhh rasanya Rafael ingin mengamuk, apa katanya cucu saya, apa sekarang bicaranya main saya saya lagi.
"Apa", suara dingin yang keluar.
"Maaf Pah", menunduk, ya Tuhannn andai saja mertuaku ini bukan Papa Pandi sudah aku ungsikan saking kesalnya.
"Jangan terus mengumpat cepat, atau sekalian tidak akan saya pertemukan lagi dengan anakmu itu, "Ohhh saya lupa atau jangan jangan kamu tidak mau mengakui juga kalau itu anakmu", sindirnya.
"Pah astaga, ya aku mengakui itu anakku aku yang melakukannya, aku sadar itu", ucap Rafael dengan yakin.
"Bagus jika kamu mengakui meskipun tanggung jawabmu sebagai Ayah 0%".
"Papa yang menyembunyikan istri dan anakku", mulai terpancing.
"Cih mulai berani bicara dengan nada tinggi denganku".
"Sorry Pah, plis Pah jangan memperlambat waktu aku ingin cepat bertemu dengan istri dan anakku".
"Bukannya surat cerai sudah selesai kamu tanda tangani".
"Pah pelis aku tidak mau berpisah, aku tidak mau bercerai dengan istriku, aku mengakui semua kesalahnku aku akan merubah sipat dan sikapku Pah".
"Ck saya tidak percaya sebab janjimu dulu juga seperti itu, akan merubah sipat dan sikap hasilnya nol besar buktinya anakku memilih pergi darimu".
"Aku harus apa Pah, supaya Papa bisa percaya lagi denganku".
"Setelah ini tinggalkan anak dan cucu saya, saya hanya memberi kesempatan ini terakhir kali kalian bertemu".
__ADS_1
"Pah plis jangan pisahkan lagi kami, aku berjanji akan mencintai istri dan anak anakku, aku akan mempertaruhkan sisa nyawaku demi mereka, tolong pah jangan pisahkan aku dan Fely lagi".
"Bukan saya yang meminta itu tapi Fely".
Deggggg,,,,,, jedarrrr rasanya pistol dan panah menghujani seluruh tubuhnya, sakit pedih rindunya belum tersampaikan namun sudah ada peringatan.
Papa Pandi berjalan lebih dulu, Rafael mengikutinya dengan langkah gontai rasanya hidup tidak bernyawa semua tulangnya di patahkan seketika.
Mengikuti langkah mertuanya meskipun kadang sedikit limbung.
Perasaan hancur berkeping keping, penglihatannya terasa buram, terngiang ngiang ucapan Papa Pandi, bukan saya yang meminta itu semua tapi Fely, sekejam itukah dirinya dulu terhadap Fely.
Meskipun sadar kalau dirinya yang memulai itu semua namun rasanya mati dan hancur perasaan yang baru saja menemukan titik kebahagiaan bahwa akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama dirinya cari.
Rafael masuk ke dalam ruangan yang Fely pakai dengan baby nya, bukan seperti ruangan rumah sakit bahkan bak kamar rumah.
Menatap lurus wanita yang selama ini dirinya cari dan rindukan, Rafael tidak mampu berkata kata air matanya yang lebih dulu keluar.
Fely menoleh ke arah suara yang sangat dirinya kenal, terkejut kenapa Rafael tiba tiba datang, batinnya.
Rafael berlutut di hadapan Fely, meskipun dirinya rindu sangat rindu namun jika memeluk wanita yang ada depannya ini sangat sengan.
"Sayang kaka rindu", dengan terbata lebih keras tangisnya.
Fely memalingkan wajahnya, kemana muka yang songong dan sombong itu, kemana wajah arogan nya.
"Mau apa kesini?, belum puas menghina dan menyakiti aku kak", ucap Fely.
Rafael bangkit dari duduknya, memeluk erat Fely yang sedang duduk bersandar, "Sudahan ya hukum kakak nya, kakak rindu dek, kakak merindukanmu sayang, selama ini kakak mencarimu namun tidak bisa menemukan kamu".
"Engap kak, aku baru saja melahirkan", ucap Fely berusaha melepaskan pelukan Rafael.
__ADS_1
"Itu anak kita kan sayang, dia mirip dengan kakak dek", melirik ke sebeah Fely.
Fely mengangguk, tangis Rafael semakin kencang, berjalan ke samping baby, menatap anaknya lekat meski terhalang air mata.
Mengecup tangan mungil dan masih merah itu berkali kali, "Maafkan Papi sayang maafkan Papi", mengusap air matanya agar melihat dengan jelas wajah sang anak.
"Kamu sama Mami jangan tinggalkan Papi lagi ya, sudah cukup kalian menghukum Papi selama ini".
"Bukannya kak El yang minta aku pergi dan memberi tahu aku agar tau jalan pengadilan".
"Sayang plis jangan bahas itu dek, kakak minta maaf kakak salah, kita tidak pernah bercerai dan tidak akan bercerai sampai kapanpun".
"Haihh semudah itu".
"Kamu mau apa mau pembuktian apa dari kakak agar kamu mau kembali lagi bersama kakak".
"Entah lah, bukannya surat perceraian kita sudah di terima sama kak El".
"Sampai matipun kamu akan tetap menjadi istriku, kita tidak akan berpisah sampai kapanpun dek", suara tegas Rafael.
"Kak El sudah melihatnya kan, keluarlah kami butuh istirahat".
Deg,,,, jantung Rafael terasa berhenti, Fely mengusirnya, berarti benar apa kata Papa Pandi kalau Fely lah yang ingin bercerai dan pergi jauh darinya, tubuh Rafael ambruk di lantai mendengar usiran dari Fely.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1